Demi Jaga Kualitas, Soklat Es Coklat Pilih Hentikan Kerja Sama dengan Puluhan Waralaba

Demi Jaga Kualitas, Soklat Es Coklat Pilih Hentikan Kerja Sama dengan Puluhan Waralaba Farida dan Pami Dwi Anggoro - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
14 Juni 2018 15:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Demi menjaga kualitas produk, owner merek dagang Soklat Es Coklat Farida dan Pami Dwi Anggoro tak segan-segan menghentikan kerja sama dengan puluhan outlet waralaba yang mereka miliki. Pasalnya dengan total 58 outlet waralaba di DIY dan kota-kota lainnya di Indonesia, menjaga kualitas sangat penting dilakukan untuk terus bertahan di tengah persaingan bisnis olahan makanan maupun minuman yang makin ketat.

Saat ditemui di outlet terbarunya di Timbulharjo, Sewon pasangan suami istri tersebut berkisah banyak bagaimana mereka merintis usaha tersebut sejak November 2014 lalu. Modalnya tak banyak, hanya Rp250. Itu pun dari hasil meminjam arisan RT tempat mereka tinggal di Pakualaman. Kala itu, Pami mengenang mereka disediakan stan kecil di Sekaten sebagai salah satu UMKM. Persiapannya juga sangat singkat dan uang yang terbatas tersebut dibelanjakan untuk bahan baku dan memesan banner kecil serta x-banner untuk mempromosikan jualannya.

"Saat itu es cokelat belum booming ya seperti sekarang. Saya harus teriak-teriak untuk promosi es cokelat ke pengunjung Sekaten. Sampe pulang-pulang gerok, saking habisnya suara saya," ujar Farida sambil tertawa.

Namun tanpa disangka-sangka, es cokelat hasil coba-coba yang inspirasinya didapat dari produk favoritnya saat berkunjung di pusat perbelanjaan, laku keras. Bahkan modal yang mulanya hanya ratusan ribu, menjadi keuntungan yang berlipat-lipat kali banyaknya. Tak lama setelah berjualan di sekaten, Farida dan Pami yakin untuk membuka outlet pertama mereka di daerah Janturan, kemudian outlet kedua di Glagahsari. Pami juga tak mengira baru membuka di dua tempat, sudah ada orang yang ingin membeli franchise produk Soklat Es Coklat miliknya. "Saya benar-benar enggak tahu apa itu franchise akhirnya harus belajar. Setelah siap, franchise kami jual seharga Rp7,5 juta dengan sistem beli lepas, mereka hanya diwajibkan untuk beli bahan baku ke kami," ucapnya.

Dari situlah, Soklat Es Coklat dikenal luas oleh masyarakat. Bahkan kini sudah ada beberapa outlet yang berada di luar Pulau Jawa seperti Makassar, Pontianak, dan Riau. Banyaknya outlet yang sudah berdiri tak lantas membuat mereka berdua bisa bersantai-santai. Mereka harus selalu melakukan quality control pada outlet-outlet mereka terutama yang berada di wilayah Jogja. Pasalnya jika kualitas produk yang mereka jual menurun, konsumen tak segan-segan untuk komplain. Mau tidak mau, mereka harus mengecek langsung apa yang jadi keluhan konsumen tersebut. "Kami datangi langsung. Kalau memang kami temukan pelanggaran, misalnya dia mencampur bahan baku kami dengan yang lain tentu menurunkan kualitas. Ya kami suruh copot papan nama produk kami, hentikan kerja sama," ujar Farida.

Semua itu dilakukan untuk menjaga kualitas produk. Jangan sampai konsumen kecewa dan ogah membeli lagi.

Jurus itu ternyata cukup ampun untuk menjaga eksistensi Soklat Es Coklat. Nyatanya hingga kini, di tengah gempuran berbagai produk olahan minuman lainnya yang bermunculan, produk ini masih jadi rujukan konsumen. Farida mengaku hal itu juga tak terlepas dari berbagai inovasi yang selalu mereka lakukan. Meski ada berbagai tren minuman olahan, mereka tak lantas jadi pengekor dan meniru mentah-mentah produk tersebut.

Dengan mengadopsi dan menambahkan berbagai keunggulan dibandingkan produk serupa di pasaran. Apalagi mereka sudah punya bahan baku sendiri yang kualitasnya selalu terjaga. Bahkan kini mereka juga menjual produk Soklat Es Coklat mereka dengan packaging bubuk dalam kemasan dan merambah pasar lebih luas seperti minimarket maupun supermarket. "Kami juga bikin Thani Cheese Tea sebagai produk andalan selanjutnya. Baru jalan kira-kira sebulan, sudah ada empat outlet yang minta menjual produk ini," kata Pami menutup obrolannya dengan Harian Jogja, belum lama ini.