GM Grand Ambarrukmo Yogyakarta: Berikan Contoh, Tak Sekadar Lisan

GM Grand Ambarrukmo Yogyakarta: Berikan Contoh, Tak Sekadar LisanGeneral Manager Grand Ambarrukmo Yogyakarta Didin Muhidin - Harian Jogja/Holy Kartika N.S.
14 Agustus 2018 21:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pemimpin yang baik harus bisa memberikan contoh yang baik kepada bawahan. Petikan ini menjadi motivasi Didin Muhidin dalam menahkodai Grand Ambarrukmo Yogyakarta.

Laki-laki asal Bandung, Jawa Barat ini menyadari bisnis perhotelan terus tumbuh dengan pesat dan terus melahirkan persaingan yang ketat. Inovasi dan tak henti membangun strategi menjadi cara yang akan dihadapi setiap pelaku bisnis ini. Pun demikian dengan hotel yang dipimpinnya saat ini, Grand Ambarrukmo Yogyakarta.

"Seorang pemimpin itu harus bisa memberi contoh yang benar. Tidak bisa hanya di mulut, tetapi juga harus terjun melakukannya," ujar General Manager Grand Ambarrukmo Yogyakarta ini, Senin (13/8).

Integritas dan inovasi juga menjadi hal utama yang ditekankan Didin. Kendati baru beberapa pekan memimpin hotel bintang empat ini, dia selalu menekankan kepada para staf agar dapat selalu memiliki pola pikir out of the box.

Mengawali karier di bidang perhotelan sejak 1987, Didin mengaku banyak belajar tentang kedisiplinan di salah satu resort di Kepulauan Seribu di Jakarta. Sebagai hotel yang dikelola oleh orang Jepang, bahkan dengan tamu yang sebagian besar dari Negeri Sakura, bapak dua putri ini mengenal kedisiplinan yang tinggi. "Lalu saya kepikiran, kenapa banyak hotel yang dipimpin oleh para ekspatriat. Padahal orang Indonesia juga memiliki banyak potensi," ucap Didin.

Ditempa dengan berbagai pengalaman di sejumlah hotel, baik local chain hingga international chain, kian memotivasinya, hingga pada akhirnya dari houskeeping, Didin berkesempatan menjadi general manager.

Di bawah hotel berkelas internasional, Didin sempat singgah beberapa tahun di Jogja dan memimpin sebuah hotel ternama di kawasan Malioboro. Namun, hanya dua tahun, Didin harus rela meninggalkan kota kedua setelah Bandung, tanah kelahirannya yang dicintainya.

"Bagi saya Jogja itu memang betul-betul ngangenin. Tahun 2000 saya meninggalkan Jogja, setelah memimpin salah satu hotel di Malioboro selama dua tahun. Kemudian 18 tahun kembali ke sini, sudah banyak sekali yang berubah dari kota ini," papar Didin.

Bagi laki-laki 53 tahun ini, Jogja sebagai kota wisata, masih cukup menjaga nilai-nilai tradisionalnya. Kota ini banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, salah satunya karena masih mempertahankan budaya dan sisi-sisi tradisional.

"Di kota besar, wisatawan [mungkin] tidak akan melihat becak, andong. Selain itu, Jogja spesial bagi saya karena penduduknya. Dulu kali pertama saya ke Jogja, saya melihat penduduknya itu tidak konsumtif, nerimo dan selalu bersyukur. Daya tarik Jogja ini juga membuat seluruh keluarga saya di Bandung ingin ke kota ini," ungkap Didin.