Gara-Gara Masalah Ini, Jogja Tak Bisa Ekspor Beras

Gara-Gara Masalah Ini, Jogja Tak Bisa Ekspor Beras Para petani di Desa Trirenggo, Bantul, sedang memanen padi, Rabu (4/4/2018). - Harian Jogja/ Ujang Hasanudin
13 September 2018 14:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Target ekspor beras pada Januari 2019 yang dicanangkan oleh Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso tak bisa dipenuhi dari wilayah Jogja. Pasalnya hasil panen beras hanya mencukupi untuk wilayah DIY dan sekitarnya serta beberapa kota di Pulau Jawa seperti Jakarta karena lahan tanamnya minim.

Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko menyatakan target ekspor yang dilakukan dengan strategi memperluas area tanam sebanyak dua kali lipat tak bisa diterapkan di Jogja. Pasalnya luas area pertanian di Jogja sangat terbatas dan sulit untuk diperluas, ekstensifikasi hampir tak mungkin berjalan mulus. Oleh sebab itu, program Luas Tambah Tanam (LTT) pun susah diterapkan. Apalagi kini Sasongko menyebut lahan pertanian di Jogja kian lama kian berkurang.

"Yang bisa kami lakukan sejauh ini intensifikasi pertanian. Jika sebelumnya hanya bisa panen sekali, kini bisa dua kali untuk periode yang sama. Misalnya untuk padi gogo di wilayah Gunungkidul, banyak yang sudah bisa panen dua kali," katanya kepada Harian Jogja, Rabu (12/9).

Sasongko menjelaskan hingga saat ini tercatat ada 53.000 hektare pertanian yang tersebar di lima kabupaten/kota di wilayah Jogja. Lahan tersebut menghasilkan 900.000 ton gabah dalam satu tahun. Sementara dengan jumlah penduduk sekitar 3,7 jiwa, per kapitanya membutuhkan rata-rata 86 kilogram beras dalam setahun. Artinya stok beras di Jogja masih terbilang surplus untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sisanya lantas didistribusikan ke luar daerah di sekitar DIY hingga Ibukota.

"Meskipun beras ini susah dikontrol larinya ke mana tetapi yang jelas rata-rata lebihnya didistribusikan ke luar daerah," imbuhnya.

Meskipun selalu surplus, Sasongko mengaku jumlahnya tak banyak. Hanya bisa mencukupi kebutuhan daerah-daerah di sekitarnya. Dengan luas lahan pertanian yang terbatas, ia menyatakan Jogja sulit turut andil memenuhi harapan pemerintah untuk mengekspor beras pada awal tahun depan. Walaupun menurutnya ekspor beras bukan hal yang mustahil dilakukan Indonesia, tetapi Sasongko memperkirakan hal itu akan dipenuhi wilayah-wilayah lumbung padi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi.

"Beras yang diekspor tentu akan dalam jumlah yang besar, beberapa wilayah turut terlibat di dalamnya, tidak hanya dari satu wilayah saja. Tapi kalau Jogja saya rasa sulit untuk bisa ikut ekspor, sementara kemampuan kami hanya menyuplai Pulau Jawa saja," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Menteri Pertanian telah memperluas area tanam hingga dua kali lipat. Untuk masa produksi Juli sampai September 2018 saja telah ditambah dua kali lipat menjadi satu juta hektar. Dengan kondisi ini, akan mampu menghasilkan gabah hingga enam juta ton gabah yang akan menjadi tiga juta ton beras. Dengan perluasan area tanam, hal itu diperkirakan akan membuat Indonesia surplus beras sebanyak pada periode November 2018 hingga Januari 2019.

Sebelumnya, hasil produksi beras dari luas area tanam selama ini tidak mencukupi kebutuhan beras masyarakat. Masa tanam Juli hingga September tiap tahunnya hanya mampu memenuhi separuh kebutuhan beras Indonesia. Dengan luas lahan produksi 500.000 hektare hanya mampu memprodusi tiga juta ton gabah yang akan mengahasilkan satu juta ton beras. Padahal kebutuhan beras masyarakat Indonesia mencapai 2,5 juta ton. Artinya ada defisit kebutuhan beras hingga satu juta ton.