Pasar Properti Terpengaruh Sentimen Negatif

Pasar Properti Terpengaruh Sentimen NegatifIlustrasi perumahan. - JIBI
25 September 2018 23:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pasar properti Jogja terpengaruh sentimen negatif akibat depresiasi rupiah. Walhasil hingga September, penjualan masih di kisaran 40%-45% dari target tahunan yang ditetapkan oleh DPD REI DIY.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estat Indonesia (DPD REI) DIY Rama Adyaksa Pradipta mengakui terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar berimbas pada penjualan properti. Meski imbasnya bisa dibilang tidak langsung, Rama menjelaskan depresiasi rupiah biasanya akan berpengaruh pada naiknya suku bunga perbankan. Jika suku bunga perbankan naik, maka tentu suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) akan ikut naik. Imbasnya akan dirasakan masyarakat yang akan membeli properti. Sehingga mereka akan menunda membeli rumah hingga kondisi perekonomian stabil kembali.

"Ini saya rasa tak akan kembali ke titik normal seperti dulu hanya akan mencapai titik normal yang baru. Hanya belum pasti kapan waktunya," katanya kepada Harian Jogja, Senin (24/9).

Padahal menurut Rama, pengembang biasanya menggenjot penjualan di akhir tahun karena pasar properti tengah ramai. Namun di tengah ketidakpastian seperti saat ini, pihaknya tak berani menargetkan penjualan properti akan mencapai berapa persen hingga akhir tahun nanti. Meskipun hingga kini Rama menyebut belum terjadi kenaikan suku bunga KPR. Tetapi pasar properti terasa lesu karena masyarakat memilih untuk menunda pembelian. "Jika terus terdepresiasi, suku bunga KPR bisa lebih dari satu digit lagi," imbuhnya.

Apalagi di Jogja, mayoritas properti masih ditujukan untuk investasi bukan hunian karena ditilik dari harganya masuk dalam segmen middle up. Pada saat kondisi tidak stabil, Rama menuturkan masyarakat biasanya lebih memilih untuk berinvestasi pada intrumen yang lebih liquid seperti emas. Tak hanya terpengaruh pada kondisi perekonomian global, Rama khawatir sentimen politik pada tahun politik 2019 juga akan mempengaruhi penjualan properti. Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, masyarakat akan menunda pembelian properti hingga hiruk pikuk politik nasional rampung.

Sedangkan terkait kenaikan harga material, Rama mengatakan hal itu terjadi pada komponen-komponen properti impor. Di antaranya peralatan sanitasi dan elektronik. Namun demikian kenaikannya tidak seginifikan, hanya menyumbang 10-20% saja dari total biaya pembangunan properti. Berbeda halnya dengan komponen tanah yang mengambil porsi terbesar penentuan total harga properti secara keseluruhan.

"Nanti tinggal bagaimana pengembang melakukan strategi promosi dan penjualan di tengah kondisi ekonomi hingga beberapa waktu ke depan. Sehingga bisa menarik konsumen untuk meramaikan kembali pasar properti," ucapnya.

Pendanaan Pengembang

Konferensi Real Estate Investment Indoensia 2018 resmi digelar selama dua hari di Jakarta Convention Center, Merak Room pada 24 September-25 September 2018. Conference Manager Real Estate Investment Indonesia 2018 Radhi Aditya mengatakan konferensi ini akan menjadi wadah pengembang untuk bertemu langsung dengan para investor dan memberikan wawasan terkait perkembangan sektor real estat di Indonesia.

"Acara ini digelar untuk pertama kalinya yang juga akan membahas opsi atau alternatif lain dalam menghimpun dana pemodalan, dari sisi investor juga akan memaparkan sudut pandang mereka terkait kondisi real estate saat ini di Indonesia," ujar Radhi kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di sela-sela konferensi Real Estate Investment Indonesia 2018, Senin.

Konferensi ini dihadiri oleh sekitar 80 pengembang, investor dari dalam dan luar negeri, dan ahli transaksi. Real Estate Investment Indonesia 2018 terdiri atas enam panel diskusi dengan total 35 pembicara yang berasal dari pengembang dan ahli dari sektor terkait.

Salah satu topik dari panel diskusinya adalah terkait kontribusi real estat dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan strategi pengembang untuk mencetak pertumbuhan di masa depan juga terkait alternatif pembiayaan modal bagi pengembang, seperti Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Dana Investasi Real Estate (DIRE), dan EBA (Efek Beragun Aset).

Konferensi ini menjadi bagian dari penyelenggaraan pameran properti terbesar, Indonesia Property Expo 2018, yang terdiri atas 148 pengembang dan 730 proyek residensial. Radhi berharap Real Estate Investment Indonesia 2018 dapat menjadi tolak awal kebangkitan properti indonesia dengan mempertemukan pengembang dengan investor secara langsung.