Siapkan Nasi Goreng dan Satai untuk Tembus Pasar Dunia

Siapkan Nasi Goreng dan Satai untuk Tembus Pasar DuniaJuru masak memanggang satai di gerai BeeJay Food dalam acara Festival Sate dan Nasi Goreng yang berlangsung di Grha Shaba Pramana UGM, Jogja, Selasa (9/10). Beraneka macam satai digelar pada 9-10 Oktober 2018. Ragam bahan satai tidak hanya dari daging, tetapi juga dari ikan, cumi hingga jamur diolah dengan berbagai bumbu yang berbeda. Peneliti senior Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, Murdjiati Gardjito menyebutkan terdapat 252 ragam satai dalam gelaran kali ini. - Harian Jogja/Desi Suryanto
10 Oktober 2018 18:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Indonesia dikenal sebagai dapur gastronomi dunia dengan banyaknya variasi ragam hidangan dari berbagai daerah yang sangat menggugah selera. Namun sayangnya kuliner Indonesia kurang dikenal secara global. Potensi kuliner itulah yang diangkat lewat Konferensi dan Festival Kuliner Nasi Goreng dan Sate yang bertajuk Kupas Tuntas Strategi Nasi Goreng dan Sate dalam Menembus Citarasa dan Pasar Dunia Grha Sabha Pramana pada 9-10 Oktober.

Ketua Panitia, Ratna Indrati menjelaskan popularitas kuliner Indonesia masih kalah dari kuliner Italia, Tiongkok, Jepang, Korea, India, bahkan Thailand dan Malaysia. Padahal berdasarkan hasil survei CNN sejak 2007-2017, nasi goreng menempati peringkat kedua makanan terenak di dunia setelah rendang, sedangkan satai menempati urutan ke-10 hingga ke-14 dalam penilaian 50 makanan terenak di dunia.

Hal ini menunjukkan kuliner mampu mengangkat martabat bangsa dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. "Sayangnya jika kita lihat di warung-warung, sangat jarang yang mengangkat kuliner Indonesia sebagai andalan bisnisnya. Banyak yang lebih bangga mengangkat kuliner Jepang atau Korea," katanya, Selasa (9/10).

Ratna menyebut perlu dilakukan upaya strategis dari berbagai pihak untuk memperkuat pelaku usaha kuliner dan para pemangku kepentingan agar kuliner Indonesia dapat bersaing. Baik di tataran internasional maupun di Tanah Air sendiri. Maka, UGM melalui Fakultas Teknologi Pertanian, Pusat Studi Pangan dan Gizi, serta Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat bekerja sama dengan Bekraf menyelenggarakan festival kuliner yang juga melibatkan 65 UMKM ini.

Ada beberapa rangkaian acara yang akan dilaksanakan. Di antaranya seminar yang akan mengupas tuntas nasi goreng dan satai baik dari segi sejarah, asal usul, ekonomi, keilmuan pangan, maupun dari segi pariwisata oleh para pakar, bazar kuliner, lomba fotografi, master class nasi goreng oleh William Wongso, teknik memotong daging dan penyiapan bumbu serta teknik membakar sate oleh Yanto Budidarma, food styling oleh Rochmat Septiawan dan food photography oleh Agung Portal. Selain itu akan digelar Parade Sate yang akan dipandu oleh Sisca Soewitomo yang menampilkan beraneka macam satai.

Ratna menuturkan dengan target kalangan akademisi, pengusaha kuliner, asosiasi dan komunitas kuliner, pemerintahan, dan kalangan umum ada berbagai tujuan yang ingin diraih oleh panitia. Di antaranya mengembangkan strategi pemasaran agar nasi goreng dan satai tetap digemari, mengumpulkan pengetahuan baru tentang bahan, bumbu, dan proses pembuatan nasi goreng dan sate, memahami tantangan dan hambatan dalam memopulerkan kuliner, sekaligus mendorong terbentuknya start-up ekonomi kreatif di bidang kuliner. "Pasalnya sektor kuliner ini jadi penyumbang besar dalam industri ekonomi kreatif," imbuhnya.

Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UMKM DIY Agus Mulyono mengapresiasi diadakannya festival ini. Menurutnya ini merupakan salah satu komitmen perguruan tinggi untuk turut berkontribusi memajukan UMKM. Dengan cara memberikan kesempatan UMKM untuk mempromosikan produknya lewat bazar sehingga lebih dikenal oleh masyarakat luas.