Pertemuan IMF-Bank Dunia Tak Ada Manfaat Kalau ...

Pertemuan IMF-Bank Dunia Tak Ada Manfaat Kalau ... Diskusi bertema Miliaran, Dana Annual Meeting IMF Darimana? di Gedung DPR yang diikuti nara sumber Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati, Anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP Hendrawan Supratikno dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, Kamis (10/10) - Bisnis.com
12 Oktober 2018 17:30 WIB John Andhi Oktaveri Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Sampai saat ini pro-kontra penyelenggaraan Pertemuan IMF-Bank Dunia masih saja bergulir. Ada yang menyebut jika kehadiran dua organisasi dunia itu sebagai rentenir; atau pemerintah dituding tak berpihak pada korban bencana alam hingga pertanyaan dana miliaran untuk acara tersebut. Di sisi lain, ada yang dengan lantang menyatakan ragam dampak yang Indonesia tuai dibalik pertemuan ini. Lalu apa sebenarnya esensi pertemuan ini? Apa pula manfaat yang bakal Indonesia terima?

Pengamat ekonomi dari Indef Enny Sri Hartarti mengatakan kalau Indonesia tidak bisa menindaklanjuti sejumlah agenda untuk perbaikan ekonomi yang sudah disusun maka pertemuan tahunan IMF-Bank dunia tidak akan memberikan manfaat banyak bagi rakyat.

“Apakah annual meeting ini sekadar seremonial yang diikuti oleh 189 negara, itu yang paling utama dipersoalkan. Bagaimana dengan agenda yang sudah disusun, progresnya seperti apa dan bagaimana dilaksanakan,” ujar Enny dalam diskusi bertema Miliaran, Dana Annual Meeting IMF Darimana? di Gedung DPR yang diikuti nara sumber Anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP Hendrawan Supratikno dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, Kamis (10/10).

Enny meyakini kalau Indonesia mampu melakukan lobi-pobi pada gelaran tersebut mengingat banyak tokoh penting dunia yang hadir seperti pengusaha Tiongkok, Jack Ma dan Bill Gates dari Amerika Serikat, maka pertemuan itu akan membawa pengaruh positif terhadap perbaikan ekonomi nasional.

Hanya saja Enny mengakui tidak mudah untuk meningkatkan kepercayaan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, IMF dan Bank Dunia selama ini dikelola secara korporasi sehingga lebih banyak menguntungkan negara-negara besar yang menjadi pemegang saham terbesarnya.

Enny mengakui masih terjadinya pelemahan rupiah dan terjadinya pelarian modal ke luar negeri menjadi tanda tanya akan efektivitas pelaksanaan pertemuan tahunan tesebut. Sedangkan untuk dampaknya terhadap industri pariwisata belum bisa dilihat dalam beberapa bulan ini mengingat dampaknya masih akan terlihat dalam jangak panjang.

“Jadi pertemuan itu bukan soal banyaknya pengusaha dunia dan tokoh sentral di sektor ekonomi yan hadir, tapi bagaimana kita ingin mereposisi dan revitalisasi terhadap keberadaan World Bank selama ini,” ujarnya. Enny menilai kedua institusi itu merupakan lembaga supra nasional yang sangat menentukan peta perekonomian dunia.

“Arah kebijakan IMF selama ini terbukti telah mendorong terjadinya ketimpangan. Kalau Bank dunia hadir hanya sebagai pemadam kebakaran,” ujar Enny.

Hendrawan Supratkno mengatakan tidak mudah bagi satu negara untuk menjadi tuan rumah pertemuan IMF-Bank dunia. Karena itu pertemuan internasional akan menaikkan citra dan kepercayaan asing terhadap Indonesia.

Akan tetapi, soal revitalisasi peran IMF dan Bank Dunia agar lebih berpihak kepada negara berkembang dan tidak terjadi ketimpangan eknomi, Hendrawan mengatakan hal itu tidak mudah untuk dilakukan.

Dia mengatakan selagi kedua lembaga itu dikelola secara korporasi maka maka revitalisasi itu akan sulit untuk dilakukan. Hendrawan mengakui bahwa selama ini kedua lembaga itu memang lebih banyak menguntungkan para pemegang sahamnya seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Sumber : Bisnis Indonesia