Merintis Bisnis Distro dari Alas Kaki & Jam Imitasi

Merintis Bisnis Distro dari Alas Kaki & Jam ImitasiKurniawan Galih - Harian Jogja/Yogi Anugrah
17 Oktober 2018 09:25 WIB Yogi Anugrah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kurniawan Galih adalah satu dari sekian banyak anak muda di Jogja yang sukses membangun bisnis distro dari nol. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Yogi Anugrah.

Malam belum larut, baru pukul 19.00 WIB. Tidak seperti hari-hari biasanya, Galih menutup tokonya lebih cepat. Ia duduk di kursi panjang depan teras sambil sesekali menyeruput kopi. 

“Yang biasanya jaga lagi enggak masuk semua, satunya libur, satunya lagi izin kerja kelompok,” kata dia.

Pemuda kelahiran Bantul, 24 tahun lalu ini, sekarang sudah punya toko sepatu yang dibangun dari modal kecil. Pada 2013, sehabis lulus dari SMK, ia tidak kuliah, tetapi membuka bisnis jam tangan dan alas kaki kualitas imitasi. 

“Modalnya dari uang jajan yang dikumpulin, saya beli barang yang murah-murah untuk saya jual lagi, barang-barangnya saya taruh di kamar.”

Galih kulak di toko dan distributor, kemudian menjual dagangannya dengan memanfaatkan aplikasi Blackberry Messenger dan Facebook. Lantaran barang yang dia jual sudah terlalu lama dan akhirnya tidak laku, Galih tak jarang memakainya sendiri. Pada pertengahan 2014, dia, ia memutuskan untuk istirahat sejenak dari usahanya dan melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di DIY.

“Tetapi saya merasa kayak ada yang kurang, di dalam hati saya ingin melanjutkan berjualan,” katanya

Akhirnya, pada awal 2015, ia menjual baju, celana, jaket, dan kemeja bekas. “Kalau istilah kerennya, second branded, waktu itu banyak orang yang mau beli barang bagus, tetapi harganya murah,” katanya sambil ketawa.

Second branded adalah barang bekas yang dijual dengan harga rendah, biasanya merek terkenal seperti Uniqlo, Nike, Converse, Adidas.

Ia berkeliling ke tempat-tempat penjualan barang seken di Jogja. Galih harus telaten dan sabar karena sering tidak mendapatkan barang satu pun setelah seharian berkeliling.

“Kalau ada Sekaten, saya kayak lihat surga, saya lebih betah seharian di Sekaten daripada di kampus,” ujar dia.

Sekaten adalah rangkaian kegiatan tahunan di Jogja untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Biasanya perayaan ini dimeriahkan dengan pasar malam sekitar 40 hari yang di dalamnya banyak berdiri gerai barang bekas.

“Kalau di Jogja lagi sulit mencarinya, saya keluar kota. Paling jauh saya pernah ke Jakarta, enggak dapat apa-apa, dapatnya cuma capek seharian keliling Jakarta.”

Galih menggunakan Instagram dan Facebook untuk promosi. Usahanya berjualan barang seken dari merek ternama berjalan sampai akhir 2016 dengan untung tidak lebih dari Rp50.000 per harinya.

“Kalau kerja jualan gini harus sabar. Kalau enggak sabar paling sebulan dua bulan udah putus asa. Harus rajin-rajin nyari barang, supaya enggak ketinggalan sama yang lain,” katanya lagi

Membuka Toko

Awal 2017, ia memutar haluan lagi. Beberapa teman seperjuangannya sesama penjual barang seken sudah cukup sukses dan memiliki toko sendiri. Dia pun mulai berpikir bagaimana agar usahanya berkembang dan tidak jalan di tempat.

Ia memberanikan diri untuk mengeluarkan modal yang cukup besar dengan membeli sepatu, baju, celana, jaket, topi dan tas baru dengan merek terkenal. Untungnya dia sudah punya koneksi selama berbisnis online sehingga dengan mudah dia bisa membeli barang dagangan.

Ia kemudian membersihkan akun Instagram-nya dari foto-foto barang bekas yang dulu ia jual untuk mengubah citra bisnisnya.

“Saya sempat menyewa fotografer, agar Instagram saya lebih tertata dan orang tertarik untuk membeli,” katanya

Sedikit demi sedikit, followers Instagram-nya mulai bertambah dan ia mulai melebarkan pasar yang awalnya hanya di Jawa hingga ke kota-kota di seluruh Indonesia.

“Barang-barang mulai banyak saat itu, tapi kamar udah enggak muat lagi,” katanya.

Awal tahun ini, segalanya tampak lebih cerah. Keuntungan yang ia peroleh selama lebih setahun membuatnya memberanikan diri untuk membangun sebuah toko di depan rumah. “Awalnya saya melakukannya sendiri, mulai dari mencari barang, packing barang hingga mengirim barang. Saya juga harus bertemu dosen untuk tugas akhir kuliah saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari karyawan.”

Dia mencari pekerja yang masih kuliah karena menurutnya, “Mereka lagi semangat-semangatnya.”

Konsistensi dan kegigihan itu akhirnya terbayar. Galih punya pelanggan setia yang bahkan mengikuti perjalanan bisnisnya dari awal.

“Dulu saya kalau beli milih-milih barangnya di dalam kamar, sekarang sudah ada tokonya. Harga di sini biasanya miring,” ujar Gema, salah satu pelanggan toko Galih.

Bisnis yang dibangun dengan modal kecil-kecilan tersebut sudah membesar, dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Lockers YK, distro milik Galih di Jl. Kluwih, Caturtunggal, Depok, Sleman, selalu ramai. Pemasarannya juga berkembang di Instagram, Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee.