Pendapatan Negara 2018, Prospek Penerimaan Pajak Bakal Cerah

Pendapatan Negara 2018, Prospek Penerimaan Pajak Bakal CerahPetugas pajak melayani warga yang mengikuti program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) di Kantor Direktorat Jendral Pajak, Jakarta, Jum'at (31/3). - Antara/Atika Fauziyyah
18 Oktober 2018 07:10 WIB Edi Suwiknyo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah optimistis pengelolaan anggaran pada tahun ini semakin kredibel seiring dengan proyeksi kinerja pertumbuhan pajak yang mencapai 17,4%.n

Hingga September 2018, realisasi pertumbuhan penerimaan pajak mencapai 16,5% atau melesat dibandingkan dengan kinerja pertumbuhan 2017 yang hanya berada pada angka 4,7%. Angka 16,5% juga melampaui pertumbuhan penerimaan pajak alamiah (pertumbuhan ekonomi plus inflasi) yang tahun ini diperkirakan berada pada kisaran 9%.

Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan menuturkan, sampai tiga bulan ke depan, prospek penerimaan pajak masih berpotensi cerah. Pelaksanaan berbagai event misalnya kampanye menjelang pilpres dan pileg, Asian Games, dan pertemuan tahunan IMF dan World Bank Group yang baru saja dihelat, juga akan memberikan tambahan penerimaan pajak yang bisa dipungut pada bulan depan.

"Ada beberapa hal pada Oktober-Desember tampaknya penerimaan akan meningkat. Karena selain tiga hal tersebut, pengeluaran pemerintah juga memuncak, jadi diharapkan penerimaan bisa naik," kata Robert di Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Secara umum, realisasi penerimaan pajak per September tercatat sebesar Rp900,86 triliun atau sebesar 63,26% dari target APBN 2018.

Realisasi penerimaan pajak ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif melanjutkan tren periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 16,87% (yoy), dan jika tidak memperhitungkan penerimaan dari uang tebusan tax amnesty pada 2017, penerimaan pajak tercatat mampu tumbuh 18,73% (yoy).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, kinerja positif dari penerimaan PPh nonmigas, PPh migas, serta penerimaan PPN dan PPnBM yang tumbuh cukup signifikan menjadi faktor pendorong pertumbuhan penerimaan Pajak.

Dia menjelaskan, pertumbuhan penerimaan pajak pada September adalah pertumbuhan paling tinggi dalam 4 tahun terakhir. Penerimaan pajak yang berasal dari PPh nonmigas mampu tumbuh sebesar 16,72% (yoy). Komponen utama penerimaan PPh masih tetap tumbuh, yang terdiri dari PPh 25/29 Badan (tumbuh 25,04%, yoy), PPh 25/29 OP (tumbuh 21,79% yoy), dan PPh 22 Impor (tumbuh 26,20% yoy).

"Faktor yang mendorong tumbuhnya penerimaan komponen utama PPh tersebut antara lain meningkatnya aktivitas perdagangan internasional dan kinerja sektor usaha industri, perdagangan, pertambangan, dan pertanian serta meningkatnya kepatuhan Wajib Pajak OP," kata Sri Mulyani, Rabu (17/10/2018)

Selain itu, penerimaan PPh Pasal 26 yang tercatat tumbuh sebesar 26,64% (yoy), akibat pengaruh depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika, juga menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong pertumbuhan penerimaan PPh nonmigas.

Dari sisi penerimaan PPh migas, tercatat realisasi penerimaannya mampu tumbuh secara signifikan sebesar 23,31% (yoy), di mana pertumbuhan penerimaan PPh migas tersebut utamanya masih didorong oleh faktor meningkatnya harga Indonesian Crude Price (ICP).

Sementara itu, realisasi penerimaan PPN dan PPnBM hingga akhir September 2018 tumbuh 14,43% (yoy). Faktor kinerja aktivitas impor dan pertumbuhan konsumsi dalam negeri, masih menjadi pendorong pertumbuhan penerimaan PPN impor dan PPN DN, masing-masing sebesar 27,52% (yoy) dan 8,22 % (yoy).

Sumber : bisnis.com