IDE BISNIS: Rischoco, Memadukan Risoles dengan Aneka Saus Kekinian

IDE BISNIS: Rischoco, Memadukan Risoles dengan Aneka Saus KekinianProduk Rischoco, risoles dengan isi cokelat keju - ist/Rischoco
10 November 2018 10:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbisnis kuliner kekinian bukan perkara mudah. Selalu ada orang yang mencoba meniru produk yang dijual. Bagi Muhammad Fardin Ahda, 23, menjalankan bisnis risoles isi di gerai Rischoco tak sekadar produk. Butuh branding dan marketing yang konsisten untuk melalui seleksi alam di tengah maraknya kuliner kekinian lainnya.

Dua gerai Rischoco milik Ahda kini selalu ramai pelanggan yang berburu kuliner manis kekinian. Risoles isi yang ditawarkan Rischoco ada berbagai macam rasa. Misalnya saus cokelat, saus green tea, saus red velvet dan oreo. Semua punya penggemarnya masing-masing. Ojek online pun selalu terlihat mengantre di sejumlah gerai Rischoco meladeni pesanan para pecinta risoles isinya.

Ahda membangun semuanya mulai 2016 didorong ambisinya untuk memiliki penghasilan sendiri di usia 20 tahun.

Kecintaannya pada dunia kuliner juga mendorongnya mengajak kawan berbisnis yaitu Nia Adiana, 23 untuk mulai memikirkan ide bisnis kuliner mereka. "Mulai cari-cari inspirasi di Youtube dan Instagram. Sampai akhirnya melihat ada cokelat lumer. Kayaknya unik, penikmat cokelat juga banyak di Jogja, tapi dibuat apa ya? Masih bingung," kata Ahda kepada Harian Jogja belum lama ini.

Hingga akhirnya Ahda melihat makanan dari luar negeri. Ahda tak yakin apa namanya. Namun jika dibandingkan dengan makanan di Indonesia, jelas bentuknya seperti risoles. Ahda pun langsung mengeksekusi ide risoles isi cokelat lumer, green tea lumer dan oreo.

Awalnya tak mudah. Berkali-kali uji coba, Ahda belum menemukan komposisi adonan dan saus lumer yang pas. Demi mendapatkan cita rasa yang pas, Ahda berkonsultasi dengan kakak Nia yang merupakan chef pemilik resto pastry di Jakarta.

Ahda dan Nia kemudian mencoba membuat risoles yang paling pas di lidah. Kemudian mereka membawa produk itu sebagai bekal ke kampus. Ternyata banyak teman-teman mereka yang menyukainya dan mereka berbondong-bondong memesan camilan itu untuk mereka ambil di kampus.

"Sampai aku dan Nia menggoreng risoles terus tiap mau berangkat ke kampus. Akhirnya aku mikir, kayaknya kalau dijual di kampus doang enggak mungkin nih," kata Ahda.

Akhir 2016 hingga awal 2017 festival kuliner di Jogja mulai menjamur. Akhirnya Ahda mantap untuk lebih serius menjalani bisnis itu dengan mengikuti salah satu festival kuliner di Ngasem. Ternyata mengenal banyak teman yang menjadi panitia di festival itu tak lantas membuat Rischoco lolos standar stan dengan mudah.

Bisnisnya masih tergolong sangat baru saat itu, sehingga Ahda harus lebih bersabar menanti festival kuliner yang lain. Festival Pop Up Ramadhan 2016 akhirnya menjadi sarana pertama Ahda memperkenalkan Rischoco secara lebih luas.

Saat itu Ahda menargetkan 300 risoles terjual dalam tiga hari. Satu risoles dihargai Rp4.000. Namun hari pertama dia hanya bisa menjual 70 buah.

"Langsung evaluasi, kurangnya apa ya? Akhirnya kami tambah ornamen di stan kami, kami sediakan tester, alhamdulillah hari kedua target 300 risoles tercapai. Hari ketiga langsung bikin lagi," kata dia.

Laris manis pada festival pertama mendatangkan cukup modal untuk Ahda mengembangkan bisnisnya. Ahda memutuskan untuk vakum demi perencanaan bisnis yang matang. Akhirnya pada 17 september 2017 Ahda berjualan di Jalan Kaliurang. Hari itu ditetapkan sebagai hari Rischoco berdiri.

Sejak saat itu pelanggan terus berdatangan hingga akhirnya Ahda bisa menyewa gerai di Pandega Marta dan selang waktu enam bulan dapat membuka cabang di Seturan yang lebih dekat dengan target pasarnya yaitu mahasiswa. Biasanya outlet Ahda paling ramai dikunjungi pada tahun ajaran baru perkuliahan. "Sekarang per outlet omzetnya sehari bisa Rp1 Juta hingga Rp2,5 Juta," kata Ahda.