Belanja IT Terus Meningkat

Belanja IT Terus MeningkatBerbagai produk dipamerkan dalam NXT Indonesia 2018, Communic Indonesia, dan Broadcast Indonesia, di Jakarta, Rabu (24/10/2018). Pameran teknologi informasi dan komunikasi ini menghadirkan lebih dari 100 peserta dari 18 negara. - JIBI/Dwi Prasetya
19 November 2018 14:10 WIB Nirmala Aninda Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Alokasi belanja modal untuk kebutuhan pengembangan teknologi informasi (TI) di industri perbankan diproyeksi masih akan terus meningkat, seiring dengan kebutuhan bank terhadap teknologi yang mutakhir.

Sepanjang 2017—2018, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. telah menginvestasikan dana sebesar US$150 juta dan akan mengalokasikan tambahan US$150 juta untuk investasi pada tahun depan. Dana tersebut digunakan untuk membangun jaringan digital banking seperti sistem pembayaran elektronik e-Money, Mandiri Online dan Mandiri e-cash.

Khusus untuk tahun ini, per kuartal III/2018 komitmen belanja investasi IT Bank Mandiri telah mencapai sekitar 68% dari total belanja modal pengembangan IT yang disiapkan perseroan senilai Rp1,6 triliun—Rp1,75 triliun.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Mandiri Rico Usthavia Frans mengatakan bahwa komposisi utama belanja IT terdiri atas pengembangan platform channel termasuk ATM Cash Recycle Machine, pengembangan core services, integrated service dan business process re-engineering.

"Pengembangan ini dilakukan untuk peningkatan layanan nasabah. Bank Mandiri juga mengalokasikan belanja IT infrastructure dan IT security solution dalam rangka peningkatan kehandalan dan keamanan sistem," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (16/11).

Lebih lanjut dia menjelaskan, digitalisasi berperan sebagai enabler atau media bagi perbankan melalui langkah peremajaan dan pengembangan platform digital internet dan mobile banking untuk segmen retail dan usaha kecil.

Bank Mandiri hingga saat ini memiliki sejumlah produk layanan berbasis teknologi seperti aplikasi Mandiri Online, Mandiri e-cash serta kartu uang elektronik Mandiri E-Money. Bank Mandiri juga akan segera meluncurkan produk sistem pembayaran berbasis QR yang diberi nama Mandiri Pay pada Januari 2018.

Menurut Rico, inisiatif digital banking yang dijalankan oleh perseroan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi layanan dari sisi kemudahan dan kecepatan transaksi nasabah.

Berkat pengembangan digital, kontribusi transaksi produk digital mencapai sebesar 93% - 94% dari total volume transaksi nasabah Bank Mandiri.

Dalam dua tahun terakhir, Bank Mandiri tidak lagi melakukan penambahan kantor cabang secara signifikan dan lebih banyak melakukan peremajaan atau relokasi cabang dalam rangka meningkatkan efektivitas produktivitas cabang.

Secara umum langkah ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi operasional perseroan dengan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang mengalami perbaikan menjadi 67,62% pada kuartal III/2018 dari 71,85% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Teknologi Informasi dan Teknologi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Indra Utoyo menyampaikan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) IT mencapai Rp2,1 triliun per kuartal III/2018.

"Sampai dengan akhir Desember penyerapan capex diperkirakan sampai dengan Rp3 triliun. Penyerapan capex tersebut di luar Opex [operational expenditure/belanja operasional] sebesar Rp1,9 triliun," ungkap Indra.

Bank BRI mengalokasikan belanja IT yang cukup besar guna memperkuat sistem infrastruktur digital dari segi backbone, pusat data dan standarisasi jaringan unit kerja. Perseroan juga secara konsisten melakukan modernisasi sistem core banking, infrastruktur big data dan penguatan digital core banking.

Selain itu, belanja IT juga dialokasikan penyediaan VSAT Hub dan remote VSAT untuk optimalisasi satelit milik perseroan, BRISAT. Produk digital berkontribusi meningkatan produktivitas bisnis seperti pemangkasan periode aplikasi kredit melalui BRISpot yang hanya memerlukan waktu 12 jam.

Indra menyebutkan revenue digital BRI tumbuh sekitar 26% pada 2017 dan diharapkan mecapai sekitar 40% pada 2020. Penghematan beban operasional yang berhasil dicapai BRI dengan implementasi layanan digital berada pada kisaran 3-5%.

"Digitalisasi juga tentu mendukung peningkatan dana murah yang sampai dengan Oktober tumbuh sekitar 15% secara tahunan," ujarnya.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dadang Setiabudi mengatakan bahwa sampai dengan September 2018 perseroan telah mengucurkan dana belanja atau capital expenditure (capex) keperluan IT lebih dari Rp750 miliar. "Kami proyeksikan akan ada peningkatan capex IT untuk 2019 sekitar 25%—30%," ujar Dadang .

Dia menuturkan dana belanja tersebut digunakan sebesar 50% untuk pengembangan produk digital seperti Yap!, Mobile Banking, e-Channel, dan lain-lain. Sementara itu 30% lainnya digunakan untuk perluasan layanan seperti pengadaan kantor cabang, ATM, agen, peningkatakan kapasitas dan reliabilitas sistem, peningkatan sistem keamanan TI serta pusat riset dan pengembangan.

Dadang mengungkapkan bahwa peluncuran produk layanan perbankan berbasis digital seperti Yap! secara signifikan mendorong pertumbuhan ekosistem basis nasabah.

Sampai dengan kuartal III/2018 Bank BNI mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 14,2% secara tahunan, dengan dominasi komposisi dana murah yang mencapai 61,9% atau meningkat dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 60,4%.

Pada saat yang sama penggunaan mobile banking Bank BNI dari segi jumlah pengguna tercatat tumbuh 128,4% secara tahunan menjadi sebesar 2,46 juta pengguna. Sementara itu volume transaksi tercatat sebanyak 60,3 juta atau tumbuh 236,8% secara tahunan dengan nilai transaksi mencapai Rp90,7 triliun.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia