BOB Kembangkan Culture & Adventure Eco-Tourism

BOB Kembangkan Culture & Adventure Eco-Tourism Direktur Keuangan, Umum, dan Komunikasi Publik BOB, Sigit Widiyanto (kiri) dan Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB, Bisma Jatmika (kanan) sedang menjawab pertanyaan wartawan, Kamis (6/12). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
07 Desember 2018 06:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Otorita Borobudur (BOB) yang dibentuk berdasarkan Perpres RI No.46/2017 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Borobudur dan Permen Pariwisata No.10/2017, tengah mengembangkan 309 hektare lahan di Purworejo menjadi kawasan culture and adventure eco-tourism. Konsep ini dianggap cocok diterapkan karena segmennya terbuka luas dan ramah alam.

Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB, Bisma Jatmika menjelaskan BOB memiliki dua tugas yaitu otoritatif dan koordinatif. Zona otoritatif mencakup kawasan seluas 309 hektare di Kabupaten Purworejo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kulonprogo. Kawasan koordinatif mencakup Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Borobudur-Yogyakarta dan sekitarnya, DPN Solo-Sangiran dan sekitarnya, serta DPN Semarang-Karimun Jawa dan sekitarnya.

Bisma menuturkan kawasan ini akan dikembangkan dengan konsep culture and adventure eco-tourism dengan tiga komponen yaitu nature, physical activity dan cultural exchange. Konsep ini bertumpu pada daya tarik budaya dan alam, serta interaksi yang harmonis antara wisatawan dengan alam. Pengembangan destinasi wisata yang ramah lingkungan menurutnya akan menjadi alternatif kawasan pariwisata bertaraf internasional. "Di zona otorita ini akan dibangun berbagai fasilitas wisata bertaraf internasional seperti akomodasi dengan konsep glamorous camping, eco resort atau lodge, fine dinning restaurant, meetings incentives conventions and exhibitions (MICE)," katanya saat gathering media, Kamis (6/12).

Bisma mengatakan lokasi sekitar zona otoritatif juga mulai berkembang dan beberapa desa yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Menurutnya, letak zona otorita yang strategis, berjarak 12 kilometer (km) dari Candi Borobudur dan 35 km dari NYIA, proyek strategis nasional yang mulai beroperasi pada April 2019. Hal tersebut membuat kawasan ini menjadi potensial untuk dikembangkan dan menarik bagi investor. "Pembangunan dan pengembangan kawasan ini bisa menimbulkan multiplier effects bagi lingkungannya. Seperti menyerap tenaga kerja, meningkatkan produksi produk-produk lokal dan melestarikan seni budaya setempat," ujarnya.

Maka dalam rangka pengembangan kawasan ini ke depan, BOB mempunyai top three program, yakni visioning masterplan, jalur akses cepat, dan penyelesaian status lahan di zona otoritatif. Ada pula top three quick win yang meliputi nomadic tourism berupa pengembangan seperti glamorous camping dan eco-lodge, pengembangan desa tujuan wisata, dan sertifikasi SDM pariwisata di sekitar zona otorita.

Direktur Keuangan, Umum, dan Komunikasi Publik BOB, Sigit Widiyanto mengatakan BOB terus berkomunikasi dengan Pemerintah Pusat guna mempercepat pemgembangan kawasan wisata baru tersebut. Menurutnya ada beberapa hal yang sekarang menjadi fokus BOB yakni mengurus amdal untuk 50 hektare lahan yang akan menjadi Hak Pengelolaan Lahan (HPL) BOB dan tukar menukar kawasan hutan. "Kami terus berkomunikasi dengan KLHK dan DLH Jateng," tuturnya.