Tiket Bus Lebaran 2020 Bisa Dibeli secara Daring, Jika Tak Terealisasi, Ini Kata Menhub

Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana Rabu, 18 Desember 2019 09:57 WIB
Tiket Bus Lebaran 2020 Bisa Dibeli secara Daring, Jika Tak Terealisasi, Ini Kata Menhub

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi V DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (3/9/2018)./Antara-Hafidz Mubarak A

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta penjualan tiket bus secara daring harus bisa diimplementasikan paling lambat pada masa angkutan Lebaran 2020. Jika hal ini tidak terealisasi, Budi menginstruksikan pergantian pejabat.

"Saya minta saat [masa angkutan] Lebaran [2020], [penjualan tiket bus secara daring] itu harus terjadi. Kalau enggak, [pejabat terkait] tidak usah jabat di situ lagi," kata Budi, Selasa (17/12).

Dia menambahkan kondisi saat ini terminal sudah banyak yang direvitalisasi. Tinggal manajemen bus yang harus dibenahi dan itu membutuhkan upaya maksimal.

Budi menyebut upaya untuk mewujudkan tiket daring sebenarnya tidak terlalu kompleks. Operator perlu memperbaiki sistem teknologi, peremajaan armada bus, dan penegakan aturan terhadap terminal bayangan.

Pihaknya meminta semua jajaran terkait untuk menertibkan terminal bayangan dan mewujudkan penjualan tiket bus secara daring. "Jika tidak terwujud [pada saat Lebaran 2020], pejabat saya ganti semua," ujarnya.

Menurut dia, seharusnya penjualan tiket secara daring dapat direalisasikan beberapa waktu lalu. Sebab Budi mengaku telah memberikan instruksi ini sejak tiga tahun yang lalu. Karena itu, dia mengaku kecewa

terhadap kinerja jajaran Kementerian Perhubungan yang dianggap telah mengacuhkan instruksinya untuk mewujudkan hal tersebut. "Saya sudah sejak tiga tahun lalu minta kepada semua, dari Dirjen [Perhubungan] Darat, BPTJ [Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek], dan Dinas Perhubungan [DKI Jakarta], minta agar pembeliannya online. Omongan saya dianggap angin lalu saja," kata Budi.

Dia menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Terminal Pulo Gebang untuk menjajal pembelian tiket bus secara daring. Waktu itu, dia memesan tiket dari PO Garuda Mas untuk keberangkatan pukul 11.30 WIB tujuan Majalengka. Akan tetapi, bus yang datang justru dalam kondisi kotor dan tidak ada penumpang. Diduga bus tersebut tidak pernah berangkat dari Pulo Gebang, melainkan terminal gelap.

"Saya masih menghargai, enggak mau teriak-teriak di depan umum, karena ini kan urusan internal," ujarnya.

Pihaknya menginginkan angkutan darat khususnya bus bisa setara dengan kereta yang sudah memiliki manajemen bagus. Di sisi lain, terminal sebagai prasarana juga sudah direvitalisasi.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis Indonesia

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online