Dampak Covid-19, Penyampaian SPT Tahunan Tertekan
Pandemi Covid-19 di Indonesia membuat penyampaian realiasi Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan tertekan.
Warga beraktivitas di permukiman semi permanen di Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Jakarta, Selasa (22/1/2019)./ANTARA-Aprillio Akbar
Harianjogja.com, JAKARTA - Seluruh dunia saat ini sedang menghadapi pandemi Corona. Center of Reform on Economics (CORE) memproyeksikan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan akibat Covid-19 bisa bertambah 5,1 juta hingga 12,3 juta pada kuartal II/2020 ini.
Dalam skenario pertama, penduduk miskin bisa bertambah 5,1 juta dengan asumsi penyebaran Covid-19 semakin luas pada Mei 2020 tetapi tidak sampai memburuk sehingga PSBB hanya diterapkan pada kota-kota tertentu saja.
"Total jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan berdasarkan skenario ini menjadi 30,8 juta orang atau 11,7 persen dari total penduduk Indonesia," kata ekonom CORE Akhmad Akbar Susamto, Selasa (5/5/2020).
Dalam skenario yang lebih berat, jumlah penduduk miskin bisa bertambah 8,25 juta orang bila Covid-19 menyebar luas dan PSBB diterapkan pada banyak wilayah di Jawa dan beberapa kota luar pulau Jawa. Dengan skenario ini, jumlah penduduk miskin bakal mencapai 33,9 juta orang atau 12,8 persen dari total penduduk Indonesia.
Dalam skenario yang paling berat, penduduk miskin berpotensi bertambah hingga 12,2 juta orang dengan asumsi Covid-19 tidak terbendung penyebarannya dan kebijakan PSBB ditetapkan secara luas baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Total penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan secara total bisa mencapai 37,9 juta orang atau 14,35 persen dari total penduduk Indonesia. Secara lebih rinci, persebaran Covid-19 diproyeksikan masih terpusat di perkotaan sehingga peningkatan kemiskinan akan lebih besar di perkotaan.
Dalam skenario berat, potensi penambahan penduduk miskin di perkotaan mencapai 3 juta orang, sedangkan di desa mencapai 2,6 juta orang. Untuk skenario yang lebih berat, penduduk miskin perkotaan bisa bertambah 6 juta orang sedangkan penduduk miskin pedesaan bertambah 2,8 juta orang.
Adapun dalam skenario terberat, penduduk miskin perkotaan berpotensi bertambah hingga 9,7 juta dan di pedesaan hanya bertambah 3 juta orang. Perlu dicatat, bahwa skenario-skenario ini dibangun dengan asumsi pandemi Covid-19 memuncak pada kuartal II/2020 dan berangsur mereda pada kuartal selanjutnya.
"Apabila situasi ekonomi memburuk dalam waktu yang lebih panjang, maka peningkatan jumlah penduduk miskin akan lebih besar lagi," kata Akbar.
CORE menilai pemerintah perlu mewaspadai potensi penyebaran pandemi dari kota ke desa. Apabila pandemi menyebar ke desa, penambahan penduduk miskin di pedesaan bisa lebih tinggi dari yang telah diproyeksikan.
Perlu dicatat, jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2019 mencapai 25,11 juta atau 9,4 persen dari total penduduk. Namun, jumlah penduduk rentan miskin dan hampir miskin mencapai 66,7 juta atau dua setengah kali lipat dari total penduduk miskin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pandemi Covid-19 di Indonesia membuat penyampaian realiasi Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan tertekan.
Nadiem Makarim dituntut 18 tahun penjara dalam kasus korupsi Chromebook Rp2,18 triliun. Jaksa juga minta denda dan uang pengganti.
KID DIY fokus pada penguatan informasi kebencanaan hingga tingkat kelurahan. Sistem terpadu disiapkan untuk cegah simpang siur saat darurat.
Wagub DIY Paku Alam X pastikan seluruh rekomendasi DPRD ditindaklanjuti. Evaluasi pembangunan fokus pada pemerataan ekonomi dan tata kelola.
Pembongkaran SDN Nglarang untuk proyek Tol Jogja-Solo rampung. Lahan kini 100% bebas, proyek masuk tahap penimbunan dan pengecoran.
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.