Target Pendanaan Iklim 45 Persen Dihapus, Transisi Hijau Terancam
Bank Dunia menghapus target pembiayaan iklim 45 persen setelah tekanan AS. Negara berkembang khawatir pendanaan transisi hijau dan adaptasi iklim melemah.
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam
Harianjogja.com, JAKARTA – Impor Indonesia pada tahun ini diperkirakan bisa tumbuh lebih tinggi dari 2 persen. Tetapi, tingginya pertumbuhan impor tersebut dinilai tak perlu dikhawatirkan selama didominasi oleh bahan baku dan penolong demi menggenjot produktivitas industri dalam negeri.
Kementerian Perdagangan menyebutkan ekspor pada 2021 setidaknya harus tumbuh 5 persen dan pertumbuhan impor tidak lebih dari 2 persen jika Indonesia ingin mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen. Sementara itu, investasi harus tumbuh lebih dari 15 persen dan konsumsi domestik tumbuh 5 persen.
“Saya kira selama impor didorong untuk bahan baku dan barang pendukung produksi tidak masalah, selama tidak didominasi oleh kenaikan barang konsumsi dan bahan baku bisa diolah untuk produk bernilai tambah ke negara tujuan ekspor,” kata ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohammad Faisal saat dihubungi, Minggu (11/4/2021).
Karena itu, Faisal mengatakan strategi menjemput bola yang digulirkan oleh pemerintah belum lama ini ke negara-negara mitra dagang utama perlu diimbangi dengan kalkulasi yang tepat. Pemerintah harus memastikan kenaikan ekspor yang dibidik tetap lebih tinggi dari kenaikan impor yang berpotensi terjadi.
“Contohnya dengan Amerika Serikat selama pandemi impor barang konsumsi, terutama yang pertanian mengalami kenaikan. Ini bisa merugikan bagi sektor pertanian [dalam negeri],” lanjutnya.
Sepanjang 2020, impor barang konsumsi tercatat turun 10,9 persen dari US$16,45 miliar pada 2019 menjadi US$14,66 miliar. Sementara impor untuk bahan baku dan penolong mengalami koreksi terdalam yakni 18,3 persen dan impor barang modal terkontraksi 16,7 persen dibandingkan dengan 2019.
Dia pun memberi catatan soal fenomena supercycle yang mengerek harga berbagai komoditas akibat naiknya permintaan dan berpeluang membawa keuntungan bagi Indonesia. Faisal mengatakan Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kondisi yang sifatnya sementara tersebut.
“Keuntungan dari periode supercycle bukanlah sesuatu yang sustainable. Jangan terlena dan agenda transformasi ekspor harus berlanjut. Berkaca pada Vietnam dan negara Asia Timur lainnya, memang perlu tahap dari yang awalnya mengandalkan produk komoditas ke produk manufaktur,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Dishub Sleman menata parkir Lapangan Beran Tridadi dengan tarif Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 bagi mobil saat non-event.
Daftar pemenang MTV VMAs 2026 lengkap. Madonna meraih tujuh piala, sedangkan Taylor Swift mencetak rekor baru dalam sejarah VMA.
Kemenimipas mengungkap hasil investigasi temuan Ombudsman di Lapas Cibinong. Lima pejabat struktural dinonaktifkan terkait peristiwa tersebut.
Siaga darurat kekeringan Bantul diperpanjang hingga akhir 2026. Sebanyak 752 tangki air telah disalurkan ke 12.186 jiwa.
Progres Bendungan Jragung mencapai 97% dan ditargetkan selesai Desember 2026 untuk menopang irigasi 4.500 hektare sawah.