Luar Biasa! RI Kantongi Pajak Digital dari Google Cs Sebesar Rp23 Triliun Lebih
Hingga 31 Maret 2024, DJP Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak dari sektor usaha ekonomi digital mencapai Rp23,04 triliun.
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022)./JIBI-Bisnis.com-Eusebio Chrysnamurti
Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia dianggap kecil kemungkinan terjerembab dalam resesi.
Pengetatan kebijakan moneter oleh sejumlah bank sentral untuk mengatasi lonjakan inflasi memicu terjadinya resesi ekonomi di banyak negara.
BACA JUGA: Dear Moms, Cermati Tips Tingkatkan Kualitas Pola Asuh Anak Berkualitas
Direktur Utama BRI Research Institute Anton Hendranata menyampaikan bahwa kenaikan inflasi dunia akibat kenaikan harga komoditas global saat ini memang sangat mengkhawatirkan dan perlu diwaspadai.
Berdasarkan data terakhir, tingkat inflasi di Amerika Serikat telah terkerek ke level 9,1 persen, Uni Eropa 8,6 persen, Jepang 2,4 persen, dan Singapura 6,7 persen.
“Dengan inflasi yang sangat tinggi, perekonomian global semakin tertekan, produksi dan penjualan semain melambat, konsumen semakin pesimis, begitu juga dengan aktivitas perdagangan,” katanya dalam Webinar Bisnis Indonesia Mid-Year Economic Outlook 2022.
Kenaikan inflasi tersebut diikuti dengan pengetatan kebijakan moneter, salah satunya pada Bank Sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, yang pada bulan ini kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif sebesar 75 basis poin.
Dengan perkembangan tersebut, Anton memperkirakan perekonomian AS akan mengalami resesi pada semester II/2023 dengan probabilitas yang sangat tinggi.
Namun demikian, Anton menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia saat ini semakin kuat dalam menghadapi gejolak eksternal.
“Dibandingkan periode 2010–2015, pasar finansial kita lebih robust [kokoh]. Ini yang menyebabkan pasar finansial Indonesia lebih baik dibandingkan negara-negara di kawasan,” jelasnya.
Lebih lanjut, posisi cadangan devisa Indonesia kata dia juga cenderung kuat dan lebih mampu menahan goncangan dari sisi eksternal.
BACA JUGA: Antisipasi Terulangnya Pemaksaan Jilbab, Dewan Pendidikan DIY Siapkan Pendidikan Kejogjaan
Meski neraca perdagangan mencatatkan defisit pun, imbuh Anton, posisi cadangan devisa dalam negeri tidak akan tergerus tinggi. Inilah yang mencerminkan bahwa perekonomian Indonesia secara fundamental semakin baik.
“Kalau AS resesi 2023, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia kemungkinan resesi di 2023 hanya 2 persen,” jelas Anton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Hingga 31 Maret 2024, DJP Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak dari sektor usaha ekonomi digital mencapai Rp23,04 triliun.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menyelenggarakan SV Career Days UGM 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM mulai Kamis (21/5/2026)
Gapasdap mengungkap 7 kapal tenggelam di Gilimanuk diduga akibat truk ODOL. Pelanggaran muatan berlebih kini ancam keselamatan pelayaran.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.
Aktivis Global Sumud Flotilla mengaku mengalami sengatan listrik dan kekerasan fisik saat ditahan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.