Marbot di Sleman Dapat Santunan BPJamsostek Rp42 Juta di Milad DMI
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA– Okupansi hotel selama libur Natal dan Tahun Baru 24 Desember-1 Januari di DIY rata-rata mencapai 95%. Tingkat keterisian kamar itu mampu mengalahkan rata-rata okupansi pada 2018/2019 atau sebelum pandemi pada periode yang sama.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan okupansi libur Nataru 2022/2023 mengalahkan okupansi libur Nataru 2018/2019 silam. Dibandingkan wisatawan rombongan (group), kata Deddy, wisatawan yang datang ke Jogja didominasi oleh wisatawan keluarga dengan kendaraan pribadi.
"Dari evaluasi kami, banyak orang yang tidak bisa keluar dan baru berwisata tahun ini setelah dua setengah tahun terakhir Indonesia dilanda pandemi," katanya kepada Harianjogja.com, Senin (2/1/2023).
Peningkatan okupansi hotel tersebut, kata Deddy, juga senyampang dengan peningkatan kunjungan untuk restoran dan warung anggota PHRI. Berdasarkan laporan yang diterima, kata Deddy, ada kenaikan kunjungan antara 50-60% di restoran dan warung anggota PHRI.
"Jadi tidak hanya hotel, banyak yang melaporkan restoran dan warung anggota PHRI kunjungannya naik 50-60 persen selama Nataru dibandingkan hari biasa," katanya.
Tren positif tersebut, lanjut Deddy akan berlanjut pada tahun ini. Berdasarkan data PHRI DIY, reservasi hotel pada Januari-Februari masih tinggi. Pada Januari 2023, reservasi sementara tercatat 60% dan Februari 2023 baru tercatat 45%. "Maret (reservasi) masih kecil karena puasa, (reservasi) sekitar 10,8 persen. April nanti masih ada lagi yang reservasi," katanya.
Melihat tren positif okupansi hotel tahun ini, Deddy optimistis dengan bisnis perhotelan tersebut serta peningkatan kunjungan wisatawan ke DIY. "Jadi kami optimistis pada tahun ini. Apalagi PPKM dicabut, itu berpengaruh pada kunjungan pariwisata ke DIY," katanya.
Disinggung soal krisis global, menurut Deddy kekuatan wisata di DIY terdapat pada wisatawan nusantara sehingga tidak akan berpengaruh dengan krisis global. Kondisi Jogja berbeda dengan Bali dengan kunjungan wisatawan asing. "Jogja kuat dengan wisatawan nusantara. Ini berbeda dengan Bali, kebalikan dengan Jogja," katanya.
Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara pada tahun ini, lanjut Deddy, pelaku wisata di DIY akan terus memperkuat promosi wisata ke sejumlah daerah. "Kami akan terus menggelar table top. Tahun lalu tabel top digelar di Bandung dan Malang, Jawa Timur maka tahun ini akan digelar Bali pada Maret, dua lainnya akan digelar di Jawa," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 26 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Studi 1.350 pengemudi di Inggris mengungkap banyak fitur canggih mobil jarang digunakan, termasuk teknologi keselamatan dan kenyamanan.
Perubahan aliran sungai membuat Pantai Baron Gunungkidul punya wajah baru dan menarik wisatawan. Pemkab meminta kawasan tetap bersih dan tertib.
Fajar/Fikri tetap di peringkat 2 dunia ranking BWF per 25 Agustus 2026. Sabar/Reza juga masuk 10 besar di posisi ketujuh.
Aplikasi iPhone tidak muncul di Home Screen atau Search? Simak cara menemukan aplikasi tersembunyi di iOS 18 melalui Settings dan App Library.