Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan Sebesar 6,25%

Newswire
Newswire Kamis, 20 Juni 2024 16:47 WIB
Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan Sebesar 6,25%

Bank Indonesia - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja, JAKARTABank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 6,25%. Sedangkan suku bunga deposit facility tetap sebesar 5,5%, dan suku bunga lending facility sebesar 7%.

Keputusan tersebut diumumkan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 19-20 Juni 2024 di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Di sisi lain BI juga memperkirakan ekonomi global tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, yakni mencapai 3,2% pada 2024.

"Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 3,2 persen, lebih tinggi dari perkiraan awal terutama dengan lebih baiknya pertumbuhan India dan Tiongkok," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Juni 2024 di Jakarta, Kamis.

Perry menekankan ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi di tengah prospek perekonomian dunia yang lebih kuat.

Ekonomi Amerika Serikat tumbuh kuat ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan peningkatan ekspor dengan penurunan inflasi yang masih berjalan lambat. "Kondisi ini mendorong Fed Funds Rate diperkirakan baru akan turun pada akhir tahun 2024," ujarnya.

Di sisi lain, European Central Bank telah menurunkan suku bunga kebijakan moneternya lebih cepat sejalan dengan tekanan inflasi yang lebih rendah.

BACA JUGA: Logo Garuda di Jersi Timnas Didaftarkan HAKI oleh PSSI, Brand Mills Buka Suara

Menurut dia, divergensi kebijakan moneter negara maju tersebut dan masih tingginya ketegangan geopolitik menyebabkan ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi.

Berbagai perkembangan tersebut dan dengan tingginya imbal hasil (yield) US Treasury menyebabkan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat sehingga meningkatkan tekanan pelemahan nilai tukar berbagai mata uang dunia dan menahan aliran masuk modal asing ke negara berkembang.

Ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi itu memerlukan respons kebijakan yang kuat untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan ketidakpastian pasar keuangan global tersebut terhadap perekonomian di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online