Kustomfest 2026 Gelar Charity Riding untuk Korban Kebakaran Hutan
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
Bahan pangan - ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— DIY mencatatkan deflasi sebanyak 5 kali sepanjang 2024 yakni pada Januari 0,02%, Mei 0,08%, Juni 0,25%, Juli 0,03%, dan September 0,10% secara bulanan atau (month-to-month/mtm).
Menanggapi hal ini Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Ibrahim menjelaskan ada 3 komponen utama penyebab inflasi, di antaranya core inflasi, volatile food, dan harga yang diatur pemerintah.
Menurutnya dari 3 komponen ini pergerakannya yang melambat cukup tajam adalah kelompok volatile food. Hal ini terjadi karena tahun lalu harga pangan sangat tinggi, dan tahun ini relatif turun karena panen hortikultura cukup banyak, sementara permintaan sama. Ia berpandangan ini lebih kearah normalisasi harga seperti periode-periode sebelumnya.
BACA JUGA: Selama Oktober 2024, BI Sebut Inflasi di DIY Terkendali
Dia menjelaskan pasokan yang lebih banyak daripada permintaan menyebabkan terjadinya penurunan harga. "Ini kalau dibalikkan ke tahun-tahun sebelumnya, memang ada normalisasi khususnya komponen volatile food seperti cabai bawang," ucapnya, Sabtu (16/11/2024).
Ibrahim menjelaskan dari sisi konsumsi dipengaruhi banyak faktor. Jika dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada Triwulan III 2024 justru capaian DIY lebih baik dari nasional dan tertinggi di Pulau Jawa yakni sebesar 5,05% (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan yang masih di atas 5% menandakan konsumsi masyarakat masih tumbuh. Ia menyebut walaupun terjadi perlambatan tidak sampai minus, esensinya adalah masih tumbuh.
Ia mengibaratkan misalnya pada triwulan ini ada peningkatan pendapatan Rp100.000 namun di triwulan sebelumnya ada penambahan pendapatan Rp150.000. Meskipun lebih rendah tapi masih tumbuh.
"Kalau bicara daya beli yang kami khawatirkan sampai minus," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, BI DIY sangat terbuka dengan berbagai masukan dari ekonom dan pihak-pihak lain yang memperhatikan kondisi ekonomi DIY. Masukan ini bisa menjadi pandangan untuk melihat faktor risiko dan menjadi input bagi BI DIY.
Sementara itu tugas dari otoritas baik di DIY dan nasional adalah memberikan insentif bagi dunia usaha. Sehingga tetap bisa bertumbuh. "Melihat potensi yang harus kami waspadai dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi," lanjutnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Herum Fajarwati menyampaikan capaian pertumbuhan ekonomi di Triwulan III 2024 cukup menggembirakan. Sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari konstruksi, karena masih ada beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) di DIY.
"Alhamdulillah pertumbuhan ekonomi Triwulan III mampu tumbuh 5,05%. Di antara Pulau Jawa, DIY tertinggi tumbuhnya, dan juga lebih tinggi dari nasional," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul Rabu 30 September 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini. Cek tarif dan jamnya.
Erick Thohir meminta Timnas Indonesia tak meremehkan Bangladesh pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK.
Mediasi tambang CV BKS dan warga Padukuhan Karang Kulon Progo menghasilkan titik temu. Pemda DIY menjelaskan legalitas perizinan.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo hari ini 30 September 2026, lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 30 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan, kedatangan tiap stasiun dan tarif Rp8.000.