KAI Daop 6 Tutup Pelintasan Liar Sentolo-Rewulu demi Keselamatan
KAI Daop 6 Yogyakarta menutup pelintasan tak terjaga di Petak Sentolo-Rewulu. Total 10 perlintasan liar telah ditutup sepanjang 2026.
Bank Indonesia - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Bank Indonesia (BI) menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 14-15 Januari 2025.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY Bidang Ketenagakerjaan, Timotius Apriyanto mengatakan meski tujuannya untuk mendorong stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang, kebijakan ini akan menimbulkan tantangan baru.
Khususnya bagi dunia usaha yang bergulat dengan dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Dan juga tekanan eksternal seperti ketidakpastian global termasuk fluktuasi biaya energi dan logistik.
Menurutnya penurunan BI Rate punya beberapa dampak positif diantaranya suku bunga kredit lebih rendah, memicu perbaikan dan ekspansi pengusaha, mendorong investasi, penyeimbang risiko inflasi, mengurangi beban utang, dan mengurangi risiko pengangguran.
"Dalam konteks struktur dan lanskap ekonomi Indonesia yang dinamis, kebijakan ini kerap terbentur kelemahan struktural seperti rendahnya efek berganda dari kebijakan fiskal," ucapnya, Rabu (21/1/2025).
Lebih lanjut dia mengatakan penurunan BI Rate bisa mendorong dunia usaha melalui biaya kredit yang lebih rendah. Akan tetapi dalam situasi saat ini, manfaat tersebut belum dirasakan secara signifikan.
Hal ini disebabkan beberapa hal, seperti rupiah makin melemah karena kebutuhan impor minyak meningkat. Pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor biaya produksinya jadi melonjak, sehingga menurunkan margin.
"Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga minyak menciptakan ketidakpastian bagi investor," paparnya.
BACA JUGA: BI Rate Turun Menjadi 5,75 Persen
Ia menyebut perlu langkah strategis untuk menyelamatkan ekonomi tanpa mengorbankan pengusaha. Seperti diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Perkuat ekspor non migas guna menambah cadangan devisa.
Lalu alokasi anggaran yang efektif, pemerintah perlu memastikan belanja fiskal memiliki efek berganda yang tinggi. Dan terakhir pemberian subsidi yang tepat sasaran sehingga bisa menjaga daya beli masyarakat dan menekan inflasi.
"Kebijakan penurunan suku bunga BI menjadi langkah berani di tengah tekanan global dan domestik," ungkapnya.
Branch Manager BTN Yogyakarta, Arjuna Putra Kinasih mengatakan naik turunnya BI Rate lebih berdampak pada penghimpunan dana pihak ketiga. Misalnya saat turun lalu akan menawarkan produk deposito atau tabungan bunganya akan mengikuti karena dari BI Rate sudah ada acuannya.
"Ngefek ke penghimpunan dana, kalau kredit di awal penghitungan. Ke belakang sudah beberapa tahun beda perhitungannya," ucapnya. (Anisatul Umah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KAI Daop 6 Yogyakarta menutup pelintasan tak terjaga di Petak Sentolo-Rewulu. Total 10 perlintasan liar telah ditutup sepanjang 2026.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN membuka kanal khusus bagi guru untuk melaporkan keluhan, temuan, dan pengaduan terkait pelaksanaan Program MBG di sekolah.
Sebanyak 212 orang berhasil dievakuasi dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok. SAR melanjutkan pencarian pada Kamis.
Heatstroke dapat mengancam nyawa saat cuaca panas. Kenali gejala, pertolongan pertama, dan kelompok yang lebih rentan mengalaminya.