BEDAH BUKU: Warga Sleman Diajak Mengelola Limbah sejak Dapur
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Minim Sampah, Berkarya di Kebun, Bahagia di Dapur
Pemandangan indah di Garrya Bianti Yogyakarta. /Istimewa.
JOGJA—Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan penuh distraksi digital, kebutuhan akan ketenangan semakin mendesak. Muncul sebuah tren baru dalam dunia pariwisata: quietcation, gabungan dari “quiet” dan “vacation”, yang mengajak kita untuk berlibur dalam keheningan. Tanpa agenda padat, tanpa kebisingan, hanya ruang untuk bernafas dan kembali terhubung dengan diri sendiri.
Bagi mereka yang mencari liburan di Jogja dengan pendekatan yang berbeda, tren ini menjanjikan pengalaman yang menyembuhkan. Terutama bagi pelancong yang mendambakan waktu untuk memulihkan energi tanpa harus pergi jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di antara hamparan hijau dan kearifan lokal Yogyakarta, Garrya Bianti Yogyakarta hadir bukan hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga ketenangan yang otentik. Hotel di bawah naungan Banyan Group ini, arsitektur utamanya terinspirasi dari Candi Sukuh, Karanganyar yang kontemplatif. Penggunaan material terakota di 90% bangunan juga diadaptasi dari area Kotagede. Menyelerasakan ketenangan dan sustainability. Hotel dengan konsep resort ini dirancang sebagai tempat untuk kembali pada esensi hidup: kesederhanaan dan keseimbangan.
Lokasinya yang tersembunyi di Desa Gabugan, Sleman, jauh dari kearamaian kota, menjadikan Garrya Bianti Yogyakarta sebagai destinasi quietcation yang ideal. Dari suara aliran sungai yang menenangkan, hingga kebun tropis nan rimbun di tepi sungai. Setiap sudutnya mengundang tamu untuk melambat dan menikmati momen apa adanya.
Quietcation di Garrya Bianti Yogyakarta bukan hanya sekadar diam. Ia adalah bentuk pengalaman wellness retreat di Jogja yang menyeluruh. Dimulai dari sound healing di Riverside Deck, perawatan Spa berbasis Asian Wellbeing Sensibility di 8lements Spa, hingga hidangan sehat yang disiapkan oleh Chef Edy Rakhmat dari bahan-bahan lokal.
Pengalaman ini tidak dipaksakan. Tidak ada itinerary. Tidak ada keharusan. Hanya waktu yang dibiarkan mengalir, dan tamu yang diberi kebebasan untuk memilih: sekadar berkontemplasi di kamar, membaca buku di Kopi Zop, berjalan pelan di taman, atau sekadar diam saja dan meresapi suara alam.
Di tengah popularitas berbagai destinasi wisata di Yogyakarta, Garrya Bianti Yogyakarta menawarkan pendekatan berbeda: liburan yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga menyadarkan. Bahwa dalam keheningan, kita bisa menemukan kembali hal-hal sederhana yang tidak terlupakan. Nafas yang tenang, pikiran yang jernih, dan hati yang lapang.
Quietcation bukan tentang menjauh dari dunia. Tapi tentang menyatu kembali dengan diri, dengan alam, dan dengan momen yang utuh. Dan di Garrya Bianti Yogyakarta, ketenangan bukan sekadar suasana. Ia adalah pengalaman yang dijaga dengan penuh makna.
Intip ketenangan resort ini lewat feed IG @garryabianti, supaya kamu bisa merasakan vibes-nya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Minim Sampah, Berkarya di Kebun, Bahagia di Dapur
Wacana pembatasan BBM subsidi untuk desil 9-10 berpotensi berdampak pada 51 juta warga kelas menengah dan calon kelas menengah.
Kejagung memastikan kasus transfer pricing PT Toba Pulp Lestari berbeda dari laporan Purbaya Yudhi Sadewa dan rugikan negara Rp2 triliun.
DPRD DIY mengingatkan warga tidak mudah percaya isu kerusuhan Agustus dan meminta masyarakat lebih cermat memilah informasi.
Prabowo meresmikan 3.395 jembatan TNI-Polri dan 3.000 sumber air bersih TNI AD di seluruh Indonesia pada 13 Agustus 2026.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.