Relokasi Pabrik Otomotif ke Vietnam, 5.000 Buruh Khawatir PHK
FSPMI Jatim menyebut dua pabrik komponen otomotif tidak tutup total meski relokasi ke Vietnam. Namun, sekitar 5.000 buruh berpotensi terdampak PHK.
Foto ilustrasi kuota internet. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari per pekan yang mulai berlaku 1 April 2026 diperkirakan tidak akan memicu lonjakan besar trafik data. Operator dan penyedia layanan internet disebut sudah jauh lebih siap menghadapi pola kerja baru ini.
Penilaian tersebut muncul karena skema WFH saat ini dinilai berbeda dibanding masa pandemi. Aktivitas kerja tidak sepenuhnya dilakukan dari rumah, sehingga dampaknya terhadap penggunaan data dinilai terbatas.
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Muhammad Arif, menyebut peningkatan trafik saat WFH bukan hal baru. Pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi modal penting bagi industri untuk mengantisipasi kondisi serupa.
“Karena saat ini juga penetrasi broadband sudah jauh lebih baik dan terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan kesiapan jaringan saat ini ditopang oleh peningkatan penetrasi broadband dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut membuat kapasitas jaringan lebih mampu menampung tambahan trafik, meskipun tetap ada potensi kenaikan pengguna baru.
Lonjakan Diperkirakan Minim
Meski demikian, APJII masih menghitung potensi lonjakan trafik seiring penerapan WFH terbatas. Perkiraan awal menunjukkan peningkatan tidak akan signifikan karena hanya berlangsung satu hari dalam sepekan.
Berdasarkan survei APJII 2025, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 80,66% atau setara 229,4 juta jiwa dari total populasi 284,4 juta. Angka ini terus meningkat sejak 2018 yang berada di level 64,80%, kemudian naik menjadi 73,70% pada 2020, 77,01% pada 2022, 78,19% pada 2023, dan 79,50% pada 2024.
Dari sisi akses, mayoritas masyarakat masih mengandalkan data seluler dengan porsi 74,27% pada 2025, naik dari 68,02% pada 2024. Penggunaan WiFi rumah juga meningkat menjadi 28,43% dari sebelumnya 22,38%.
Sementara itu, akses WiFi di kantor, sekolah, dan ruang publik relatif stagnan di kisaran 1% hingga 1,7%, sedangkan penggunaan tethering tercatat sebesar 0,64%.
Pelanggan fixed broadband juga mengalami kenaikan signifikan dari 27,40% pada 2024 menjadi 38,70% pada 2025. Namun, mayoritas masyarakat masih belum berlangganan layanan ini. Koneksi kabel atau fiber mendominasi dengan porsi 29,57%, diikuti nirkabel 8,08% dan satelit 1,05%.
Dari sisi operator, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk menyatakan kesiapan mendukung kebijakan tersebut. Perusahaan menilai pengalaman menghadapi lonjakan trafik saat pandemi menjadi bekal utama.
Head of External Communications XLSmart, Henry Wijayanto, mengatakan pihaknya telah memiliki strategi untuk mengantisipasi peningkatan penggunaan data.
“Kami sudah punya pengalaman menghadapi lonjakan trafik seperti itu, sehingga kami lebih siap dalam mengantisipasinya,” ujarnya.
Seiring integrasi perusahaan, XLSmart juga terus meningkatkan kualitas jaringan melalui peningkatan kecepatan unduh serta pengembangan jaringan 5G di sejumlah kota.
Sementara itu, Direktur ICT Institute, Heru Sutadi, menilai dampak WFH saat ini jauh lebih kecil dibanding periode pandemi. Saat itu, aktivitas bekerja dan belajar sepenuhnya dilakukan dari rumah sehingga memicu lonjakan trafik yang tinggi.
Menurutnya, kebijakan WFH satu hari per pekan hanya akan berdampak terbatas, dengan perkiraan kenaikan trafik sekitar 1% hingga 2% dibanding hari biasa.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan lonjakan saat libur panjang atau hari raya yang bisa mencapai 12% hingga 15%.
Dengan kondisi itu, operator dinilai tidak perlu melakukan penambahan kapasitas besar-besaran. Namun, pemantauan tetap diperlukan, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kenaikan trafik signifikan.
“Kalau ada wilayah tertentu yang naik signifikan, perlu di-upgrade. Kalau masih cukup, dipastikan saja kualitasnya tetap terjaga,” kata Heru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
FSPMI Jatim menyebut dua pabrik komponen otomotif tidak tutup total meski relokasi ke Vietnam. Namun, sekitar 5.000 buruh berpotensi terdampak PHK.
Program RTLH Kulonprogo 2026 memasuki tahap pembangunan. Sebanyak 180 rumah dibangun, progres fisik mencapai 25 persen tanpa terdampak efisiensi anggaran.
Libur sekolah 2026 diprediksi mendongkrak wisata Karanganyar. The Lawu Group perketat keamanan, hadirkan promo, dan optimistis kunjungan meningkat.
Investigasi mengungkap dugaan hacker Rusia berada di balik peretasan Jaguar Land Rover yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar.
Prabowo Subianto mengungkap pertanyaannya kepada profesor tentang gandum, sawit, dan industri mobil Indonesia dalam Sarasehan Kebangsaan.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.