Asap Bus Trans Jogja Diprotes Warga, Dishub DIY Akui Armada Sudah Uzur
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
West Ganal, blok migas di Kalimantan Timur./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Penurunan harga minyak dunia mulai dirasakan dan berpotensi berdampak langsung pada harga BBM serta beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tren ini terjadi setelah adanya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak mentah global kini telah turun di bawah 100 dolar AS per barel, membuka peluang penurunan lebih lanjut jika situasi geopolitik tetap stabil.
Potensi Turun hingga 85 Dolar AS
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, memproyeksikan harga minyak dunia bisa terus menurun hingga berada di kisaran 85–90 dolar AS per barel.
"Harga turun signifikan dari 115 ke 90, penurunannya cukup signifikan. Kalau misalnya berhasil dihentikan harga akan kisaran antara 85-90," ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Namun, ia menegaskan proyeksi tersebut sangat bergantung pada keberhasilan perundingan damai. Jika konflik kembali memanas, harga minyak berpotensi melonjak lagi menembus 100 dolar AS per barel.
Fahmy menjelaskan, kerusakan sejumlah instalasi energi selama konflik menjadi faktor utama yang menahan stabilitas produksi minyak global.
Menurutnya, proses pemulihan fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua bulan sebelum produksi kembali normal.
"Hambatannya adalah produksi dari negara-negara tadi kan belum recovery, karena kondisinya rusak," jelasnya.
Dampak Langsung ke Harga BBM
Harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor utama dalam penentuan harga BBM di dalam negeri. Saat harga minyak naik, seharusnya harga BBM ikut menyesuaikan.
Namun, pemerintah selama ini menahan kenaikan harga BBM untuk menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan ini berdampak pada meningkatnya beban subsidi dalam APBN.
Dengan turunnya harga minyak dunia, beban subsidi BBM berpotensi berkurang. Fahmy mengungkapkan setiap kenaikan 1 dolar AS harga minyak dapat menambah beban APBN hingga sekitar Rp6,7 triliun.
"Ada perhitungan setiap kali kenaikan harga minyak 1 dolar AS, maka dibutuhkan tambahan dana APBN itu sekitar Rp6,7 triliun," tuturnya.
Data dari Bloomberg menunjukkan harga minyak Brent berada di level 96,90 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di angka 97,52 dolar AS per barel.
Jika tren penurunan ini berlanjut, tekanan terhadap subsidi energi diperkirakan akan semakin berkurang, sekaligus memberi ruang fiskal yang lebih longgar bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
Rio de Janeiro terpilih jadi tuan rumah peluncuran MotoGP 2027 di Pantai Botafogo, 21 Februari. Seluruh tim dan pembalap hadir, sambut era mesin 850cc.
Persija Jakarta gelar team launching dan uji coba internasional lawan Brisbane Roar di JIS, 29 Agustus 2026. Skuad dan jersey terbaru diperkenalkan. Cek detail
Mengisi daya HP pakai kabel USB ternyata tak boleh sembarangan. Hindari 5 kesalahan ini agar baterai awet dan proses charging cepat! Cas HP yang benar di sini.
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak naik pada Rabu 12 Agustus 2026. Emas Antam 1 gram naik menjadi Rp2,819 juta, sementara UBS Rp2,741 juta