Harga Minyak Dunia Bergejolak, Indonesia Bertahan di Mode Surviv

Newswire
Newswire Senin, 27 Juli 2026 18:17 WIB
Harga Minyak Dunia Bergejolak, Indonesia Bertahan di Mode Surviv

Foto ilustrasi BBM. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan Indonesia masih berada dalam kondisi survival mode untuk menghadapi fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu gejolak geopolitik. Strategi tersebut terus diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan situasi global yang berlangsung cepat.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan kondisi tersebut telah dijalankan sejak krisis energi global yang terjadi pada Februari 2026. Menurutnya, pemerintah tetap berharap situasi global segera membaik, meski belum ada kepastian kapan konflik akan berakhir.

“Hingga saat ini, strategi kita masih sama, yaitu dalam kondisi ‘survival mode’. Artinya, kita selalu siap mengantisipasi gejolak atau dinamika perubahan yang cepat,” ujar Dwi Anggia ketika dihubungi di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian ESDM melakukan diversifikasi sumber impor, baik untuk minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

Selain itu, pemerintah terus memitigasi risiko dengan memperkuat stok energi agar ketersediaan pasokan bagi masyarakat tetap terjaga.

“Pemerintah juga terus memitigasi dan memperkuat stok energi untuk memastikan ketersediaan pasokan bagi masyarakat,” ujar Anggia.

Di tengah kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional, Indonesia juga memperoleh dampak positif karena memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari.

Menurut Anggia, peningkatan harga minyak mentah berkontribusi terhadap penerimaan negara melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Secara APBN akan menaikkan pendapatan negara dari sisi PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) penjualan minyak mentah,” kata Anggia.

Pada perdagangan Kamis (23/7), harga minyak mentah jenis WTI melonjak lebih dari 6 persen hingga berada di atas 92 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga naik lebih dari 6 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel, yang menjadi level tertinggi sejak awal Juni 2026.

Mengutip Anadolu pada Senin, selama dua malam berturut-turut tidak terdapat laporan serangan baru dari Amerika Serikat maupun Iran. Di saat bersamaan, Pakistan dan Qatar meningkatkan upaya mediasi untuk mendorong deeskalasi konflik antara Washington dan Teheran.

Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), jeda tersebut terjadi setelah hampir dua pekan serangan Amerika Serikat yang menyasar infrastruktur militer, sistem pengawasan pesisir, fasilitas rudal dan pesawat nirawak, aset angkatan laut, serta pusat logistik Iran.

Sumber pemerintah Pakistan mengatakan kepada Anadolu bahwa Islamabad dan Doha kini mengintensifkan pertukaran pesan antara Amerika Serikat dan Iran.

Seiring perkembangan tersebut, harga minyak dunia mulai bergerak turun. Harga minyak Brent berada di sekitar US$ 90 per barel, sedangkan WTI turun ke kisaran US$84 per barel.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online