Selat Hormuz Tertutup, Ekonomi Inggris Terancam Resesi 2027
Inggris terancam resesi 2027 jika Selat Hormuz tertutup. Inflasi bisa tembus 6,4%, pertumbuhan minus 0,2%. Simak skenario lengkap EY.
Tenaga Kerja. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Produktivitas tenaga kerja Indonesia pada Oktober 2025 tercatat sebesar 9,04%, menempatkan Indonesia di bawah sejumlah negara Asia seperti Malaysia, China, dan Thailand.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi industri masih menjadi pekerjaan rumah besar agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Berdasarkan data terbaru Bank Dunia, Malaysia menjadi negara dengan produktivitas tenaga kerja tertinggi di antara sejumlah negara yang dibandingkan, yakni mencapai 10,13%. Posisi berikutnya ditempati China dengan 9,87%, disusul Thailand yang mencatatkan angka 9,38%.
Sementara Indonesia berada di level 9,04%, di bawah ketiga negara tersebut. Capaian Indonesia masih lebih tinggi dibanding Vietnam yang berada di angka 8,84% dan Laos sebesar 8,63%.
Masih di Bawah Rata-rata ASEAN
Produktivitas tenaga kerja merupakan indikator yang menggambarkan kemampuan pekerja menghasilkan nilai ekonomi dalam periode tertentu. Perhitungan ini didasarkan pada nilai Produk Domestik Bruto (PDB) yang dibagi dengan jumlah penduduk yang bekerja.
Secara nominal, produktivitas tenaga kerja Indonesia pada 2025 mencapai Rp92,67 juta per pekerja per tahun. Angka tersebut meningkat 3,75% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski mengalami kenaikan, capaian tersebut masih berada di bawah rata-rata kawasan ASEAN. Rata-rata produktivitas tenaga kerja ASEAN tercatat mencapai sekitar US$30,2 ribu per pekerja, sedangkan Indonesia masih berada di kisaran US$28,6 ribu per pekerja.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas nasional masih perlu dipercepat agar mampu mengejar negara-negara tetangga yang lebih unggul dalam efisiensi dan nilai tambah ekonomi.
Struktur Ketenagakerjaan Jadi Tantangan
Dikutip dari Antara, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan Indonesia saat ini memiliki 153,05 juta angkatan kerja. Namun, mayoritas tenaga kerja masih berasal dari kelompok pendidikan dasar dan menengah.
Komposisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas nasional. Selain itu, struktur lapangan kerja juga menunjukkan dominasi sektor informal.
Dari total angkatan kerja yang ada, sekitar 39% bekerja di sektor formal. Sementara itu, sekitar 56% lainnya masih berada di sektor informal.
Dominasi pekerja informal sering kali berkaitan dengan rendahnya akses terhadap pelatihan, teknologi, serta peningkatan keterampilan yang berdampak langsung pada produktivitas.
Malaysia dan China Unggul karena Teknologi dan Pendidikan
Negara-negara yang berada di posisi atas dalam catatan Bank Dunia memiliki sejumlah kesamaan karakteristik. Malaysia, China, dan Thailand dinilai berhasil meningkatkan produktivitas melalui penguatan sektor manufaktur berbasis teknologi, investasi pendidikan, dan percepatan digitalisasi.
Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing tenaga kerja mereka di pasar global.
Di sisi lain, Bank Dunia juga mencatat bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia cenderung memiliki tingkat produktivitas lebih rendah dibanding perusahaan swasta pada sektor manufaktur yang sama.
Temuan tersebut menjadi salah satu masukan penting dalam upaya memperbaiki kinerja industri nasional.
Pemerintah Siapkan Program Peningkatan Produktivitas
Untuk mendorong produktivitas tenaga kerja, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis melalui pendekatan 4P yang mencakup people, product, process, dan policy.
Program tersebut ditujukan untuk memperkuat kualitas tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi proses produksi dan kebijakan pendukung dunia usaha.
Pemerintah juga menyiapkan 200 tenaga spesialis produktivitas bersertifikasi APO (Asian Productivity Organization) serta 500 ahli produktivitas guna memperkuat kapasitas sumber daya manusia nasional.
Selain itu, reformasi struktural dan perluasan infrastruktur digital disebut sebagai faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan produktivitas serta menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.
Bonus Demografi Jadi Momentum Penting
Di tengah berlangsungnya bonus demografi, peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi faktor krusial bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Jumlah penduduk usia produktif yang besar dapat menjadi keunggulan kompetitif apabila didukung keterampilan, pendidikan, dan produktivitas yang memadai.
Sebaliknya, tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusia, peluang dari bonus demografi berisiko tidak memberikan dampak optimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, peningkatan produktivitas tenaga kerja menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu memperkuat daya saing, menarik investasi, dan bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asia maupun tingkat global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Inggris terancam resesi 2027 jika Selat Hormuz tertutup. Inflasi bisa tembus 6,4%, pertumbuhan minus 0,2%. Simak skenario lengkap EY.
Lionel Messi memimpin daftar pencetak gol terbanyak lima liga top Eropa dengan 496 gol, unggul tipis atas Cristiano Ronaldo.
Misi Pendidikan Tzu Chi Sinar Mas bersama Paguyuban Sinar Mas Yogyakarta menggelar kegiatan bakti sosial di SDN Kenteng 2
BPKPAD Bantul membuka keringanan PBB-P2 hingga 100 persen bagi wajib pajak yang memenuhi syarat sesuai Perbup No. 16/2024
Timnas Indonesia tertinggal 0-2 dari Vietnam di Piala AFF 2026. Gol Nguyen Van Vi dan Nguyen Hai Long membuat Garuda tertekan sejak awal laga.
PT Radio Suara Istana (STAR FM) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 di halaman Kantor STAR FM/Harian Jogja, Senin (3/8/2026)