Industri Alas Kaki RI Tumbuh 11,3 Persen, Ini Penopangnya

Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini Minggu, 09 Agustus 2026 04:37 WIB
Industri Alas Kaki RI Tumbuh 11,3 Persen, Ini Penopangnya

Ilustrasi Investasi/magnific.com

Harianjogja.com, JAKARTA— Industri alas kaki nasional mencatat pertumbuhan 11,30% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2026. Kinerja tersebut menunjukkan penguatan signifikan dibandingkan pertumbuhan kuartal I/2026 yang mencapai 5,28% yoy.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menilai capaian itu menjadi indikator bahwa industri alas kaki masih memiliki fundamental dan daya saing yang kuat meski menghadapi tekanan ekonomi serta ketidakpastian perdagangan global.

Pertumbuhan kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tersebut bahkan berada jauh di atas pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang sebesar 5,32% dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.

Secara kumulatif, kelompok industri tersebut tumbuh 8,25% sepanjang semester I/2026. Sementara secara kuartalan, pertumbuhannya masih positif sebesar 2,72%.

Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan pertumbuhan dua digit tersebut memperlihatkan permintaan, aktivitas produksi, dan daya saing industri alas kaki nasional masih menguat.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga optimisme pelaku usaha, mempertahankan keberlanjutan investasi, serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

“Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah ketidakpastian perdagangan global," ujar Billie dalam pesan singkat kepada Bisnis, dikutip Sabtu (8/8/2026).

Hampir 1 Juta Tenaga Kerja Terserap

Penguatan industri alas kaki juga terlihat dari sisi ketenagakerjaan. Pada Februari 2026, kelompok industri kulit dan alas kaki menyerap sekitar 966.147 tenaga kerja.

Jumlah tersebut bertambah 45.061 orang atau sekitar 4,9% dibandingkan dengan Februari 2025. Dari keseluruhan tenaga kerja tersebut, sekitar 845.511 orang atau 87,5% merupakan pekerja formal, sedangkan 120.636 orang bekerja di sektor informal.

Kelompok industri kulit dan alas kaki memberikan kontribusi sekitar 4,82% terhadap total tenaga kerja industri pengolahan nonmigas.

Billie menilai besarnya proporsi pekerja formal memperlihatkan posisi strategis industri alas kaki dalam menyediakan lapangan kerja yang terstruktur dan berkelanjutan.

“Industri alas kaki merupakan industri padat karya yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Setiap peningkatan pesanan dan kapasitas produksi akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, serta aktivitas ekonomi di wilayah industri,” jelasnya.

Konsumsi Domestik Masih Menopang

Selain produksi dan ekspor, pasar dalam negeri masih menjadi salah satu penyangga industri alas kaki. Konsumsi rumah tangga untuk kelompok sandang, termasuk pakaian dan alas kaki, mencapai sekitar Rp103,72 triliun pada kuartal II/2026.

Nilai konsumsi tersebut tumbuh 3,52% secara tahunan dan meningkat 4,74% secara kumulatif sepanjang semester I/2026.

Menurut Billie, data konsumsi tersebut menunjukkan permintaan domestik masih memberikan dukungan terhadap pertumbuhan industri selain kontribusi pasar ekspor.

Di sisi lain, pasar internasional tetap menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan industri alas kaki Indonesia.

Nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$7,98 miliar. Angka tersebut meningkat 9,54% dibandingkan dengan 2024 dengan volume ekspor sekitar 601 juta pasang.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir alas kaki terbesar di dunia.

Momentum ekspor berlanjut pada awal 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), alas kaki menjadi salah satu komoditas utama ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.

Sepanjang Januari–Maret 2026, komoditas alas kaki mencatatkan surplus perdagangan nonmigas sekitar US$1,49 miliar.

“Pasar global masih memberikan peluang besar. Kualitas, produktivitas, kecepatan pengiriman, dan kemampuan industri Indonesia memenuhi standar internasional menjadi faktor utama yang harus terus kita jaga,” kata Billie.

Investasi Alas Kaki Naik Hampir 70%

Penguatan industri juga tercermin dari realisasi investasi. Pada 2025, investasi pada kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai sekitar Rp25,83 triliun.

Realisasi tersebut meningkat hampir 70% dibandingkan dengan investasi pada 2024 yang sebesar Rp15,20 triliun.

Tren investasi berlanjut pada awal 2026. Pada kuartal I/2026, realisasi investasi kelompok industri tersebut telah mencapai sekitar Rp5,83 triliun.

Billie mengatakan investasi tersebut mencerminkan keberlanjutan pembangunan kapasitas produksi, modernisasi mesin, serta pengembangan fasilitas industri.

Secara nasional, realisasi investasi pada kuartal II/2026 mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1% yoy. Investasi tersebut juga menyerap lebih dari 742.000 tenaga kerja secara langsung.

Sementara itu, kinerja industri pengolahan tercermin dalam Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI). Pada kuartal II/2026, PMI-BI berada pada level 51,43 yang menunjukkan industri pengolahan masih berada dalam fase ekspansi.

Untuk kuartal III/2026, PMI-BI diprakirakan meningkat menjadi 52,32.

Aprisindo Soroti Sejumlah Tantangan

Meski pertumbuhan industri alas kaki mencapai dua digit pada kuartal II/2026, Aprisindo menilai momentum tersebut perlu dijaga melalui penguatan daya saing.

Sejumlah aspek yang dinilai membutuhkan perhatian mencakup kepastian akses pasar ekspor, ketersediaan bahan baku, efisiensi logistik dan energi, produktivitas tenaga kerja, modernisasi mesin, akses pembiayaan, serta pengawasan terhadap produk impor ilegal dan sepatu tiruan.

Aprisindo juga menyoroti penerapan sertifikasi halal. Kebijakan tersebut perlu diantisipasi agar tidak menjadi hambatan baru bagi industri melalui tambahan biaya maupun beban administrasi.

Untuk pasar ekspor, perluasan akses melalui berbagai perjanjian perdagangan dinilai penting. Salah satunya Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok alas kaki global.

Billie juga berharap kebijakan tarif Amerika Serikat dapat memberikan posisi yang lebih kompetitif bagi produk alas kaki Indonesia dibandingkan negara pesaing.

Menurutnya, tarif yang lebih rendah berpotensi meningkatkan permintaan dari buyer global.

“Dengan kebijakan yang mendukung daya saing dan komitmen industri untuk terus meningkatkan produktivitas, kami yakin semester II/2026 dapat menjadi periode konsolidasi sekaligus ekspansi,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis