Inilah Jurusan Kuliah Penyumbang Pengangguran Terbesar di Indonesia

Jumali
Jumali Kamis, 13 Agustus 2026 11:27 WIB
Inilah Jurusan Kuliah Penyumbang Pengangguran Terbesar di Indonesia

Ilustrasi pengangguran. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pilihan jurusan kuliah ternyata masih memiliki keterkaitan erat dengan dinamika pasar kerja di Indonesia. Temuan terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa lima bidang studi tertentu mendominasi kelompok pengangguran berpendidikan sarjana.

Berdasarkan analisis Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, lima jurusan tersebut secara kolektif menyumbang sekitar 40% dari total pengangguran lulusan minimal S1 di Indonesia.

Temuan itu tertuang dalam laporan bertajuk Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? yang disusun oleh Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah.

Manajemen Menjadi Penyumbang Terbesar

Dalam laporan tersebut, jurusan Manajemen menempati posisi pertama dengan kontribusi 10,3% terhadap total pengangguran lulusan sarjana.

Di bawahnya terdapat Hukum dengan porsi 9%, kemudian Ekonomi sebesar 8,7%. Sementara itu, Pendidikan menyumbang 7,1%, sedangkan Akuntansi berada di posisi kelima dengan 5,1%.

Data ini menunjukkan bahwa jurusan-jurusan populer dengan jumlah mahasiswa besar masih mendominasi komposisi pengangguran lulusan perguruan tinggi.

Persaingan Kerja Semakin Ketat

LPEM FEB UI menjelaskan tingginya kontribusi lulusan Manajemen terhadap angka pengangguran tidak bisa dilepaskan dari luasnya cakupan bidang kerja yang dapat dimasuki para alumninya.

Lulusan Manajemen dapat berkarier di sektor pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, operasional hingga pengelolaan organisasi. Namun luasnya pilihan tersebut juga membuat persaingan semakin ketat.

Pada level pekerjaan pemula, lulusan Manajemen harus bersaing dengan lulusan dari berbagai disiplin ilmu lain seperti Hukum, Ekonomi, Komunikasi, hingga rumpun ilmu sosial lainnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada lulusan bidang Pendidikan. Kesempatan kerja mereka sangat bergantung pada kebutuhan tenaga pendidik, formasi yang tersedia, pola rekrutmen, serta kebijakan pendidikan di masing-masing daerah.

Informatika Juga Masuk Daftar

Menariknya, bidang Ilmu Komputer atau Informatika yang selama ini dianggap memiliki prospek cerah juga tercatat menyumbang sekitar 4,6% dari total pengangguran lulusan S1.

Menurut LPEM FEB UI, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor teknologi tidak otomatis menjamin seluruh lulusan memperoleh pekerjaan dengan cepat.

Peluang kerja di bidang teknologi sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikan, penguasaan keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta kemampuan mengikuti perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Bukan Berarti Jurusan Itu Paling Sulit Mendapat Kerja

LPEM FEB UI menegaskan bahwa angka-angka tersebut tidak menunjukkan tingkat pengangguran masing-masing jurusan.

Data yang dipublikasikan hanya menggambarkan kontribusi suatu jurusan terhadap total jumlah pengangguran lulusan sarjana secara nasional.

Artinya, tingginya jumlah pengangguran dari jurusan tertentu bisa terjadi karena jumlah lulusannya memang jauh lebih besar dibanding jurusan lain.

Untuk mengetahui risiko pengangguran suatu jurusan secara lebih akurat, jumlah penganggur harus dibandingkan dengan keseluruhan angkatan kerja yang berasal dari jurusan yang sama.

Ada 8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi

Selain masalah pengangguran, laporan tersebut juga menyoroti fenomena overeducation, yakni kondisi ketika seseorang bekerja pada posisi yang sebenarnya membutuhkan tingkat pendidikan lebih rendah dibanding pendidikan yang dimilikinya.

LPEM FEB UI memperkirakan sekitar 8 juta sarjana di Indonesia berada dalam situasi tersebut.

Perhitungan dilakukan menggunakan data Sakernas serta Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) 2025 dengan mengacu pada kerangka analisis yang dikembangkan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Fenomena ini dinilai menjadi sinyal bahwa pertumbuhan jumlah tenaga kerja berpendidikan tinggi belum sepenuhnya diimbangi oleh penciptaan lapangan kerja profesional yang membutuhkan keterampilan tinggi.

Jadi Catatan untuk Pengembangan Perguruan Tinggi

Temuan tersebut juga relevan dengan rencana pemerintah membangun Universitas Republik Indonesia (URI).

LPEM FEB UI menilai pembangunan perguruan tinggi baru seharusnya tidak hanya berfokus pada pembukaan program studi yang populer, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan industri, potensi ekonomi daerah, dan peluang kerja di masa depan.

Tanpa keterhubungan yang kuat antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja, peningkatan jumlah lulusan berisiko tidak diikuti peningkatan kesempatan kerja yang sesuai.

Karena itu, selain memperluas akses pendidikan tinggi, penguatan kualitas perguruan tinggi, peningkatan kompetensi lulusan, dan penciptaan pekerjaan berketerampilan tinggi menjadi langkah yang sama penting untuk mengurangi pengangguran sarjana di Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online