Tarif Ojol Diatur, Harga GoFood dan GrabFood Bisa Naik?

Newswire
Newswire Sabtu, 29 Agustus 2026 11:37 WIB
Tarif Ojol Diatur, Harga GoFood dan GrabFood Bisa Naik?

Contoh makanan Food Combining. - ist/StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA — Rencana pemerintah mengatur tarif layanan pengantaran makanan berbasis aplikasi mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan konsumen. Kebijakan tersebut dikhawatirkan berdampak pada harga makanan dan ongkos kirim di platform seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood.

Kekhawatiran bukan hanya datang dari pengguna aplikasi. Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) mengaku permintaan layanan pesan-antar makanan dalam beberapa waktu terakhir justru mulai melambat.

Ratman, pengemudi GoFood, mengatakan jumlah pesanan makanan yang diterimanya dalam sebulan terakhir cenderung menurun. Dia kini lebih sering mendapatkan pesanan GoSend dibandingkan GoFood.

"Saya narik GoFood sama GoSend, tapi satu bulan ini kebanyakan dapetnya malah GoSend, jadi agak menurun ya GoFood, di restoran pun jarang kan sekarang ojol antre," ujar Ratman kepada Bisnis, Sabtu (29/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut juga terlihat dari semakin sedikitnya pengemudi ojol yang menunggu pesanan di depan restoran-restoran mitra.

Pengemudi GrabFood, Amir, memiliki pandangan serupa. Dia menilai penurunan permintaan makanan melalui aplikasi salah satunya dipengaruhi kecenderungan konsumen untuk membeli makanan secara langsung ke restoran.

Kenaikan sejumlah biaya yang dibebankan kepada mitra restoran juga disebut ikut berpengaruh terhadap harga makanan yang diterima konsumen. Kondisi itu membuat sebagian pelanggan mulai mencari alternatif yang dinilai lebih murah.

Amir berharap apabila pemerintah menetapkan aturan tarif layanan pesan-antar makanan, formula yang digunakan benar-benar mempertimbangkan kondisi seluruh pihak.

"Kalau mau diatur ya yang terbaiknya aja, jangan buat customer makin pada kabur," ucap Amir.

Konsumen Mulai Bandingkan Harga

Kekhawatiran terhadap kenaikan tarif juga dirasakan pengguna layanan pesan-antar makanan.

Ratu, pengguna GoFood di Jakarta Barat, mengatakan biaya layanan yang berlaku saat ini masih relatif sesuai dengan yang dia harapkan. Namun, jika tarif meningkat, dia tidak menutup kemungkinan beralih ke platform lain.

Ratu juga akan membandingkan ongkos kirim serta potongan harga sebelum menentukan aplikasi yang digunakan untuk memesan makanan.

"Kadang beberapa makanan menurut saya termasuk pas, ga yang murah banget dan ga kemahalan juga, pas aja. Tapi beneran akan lebih murah kalo berlangganan paket," tutur Ratu.

Sementara itu, Fitri, pengguna ShopeeFood di Jakarta Selatan, menilai biaya yang dibayarkan konsumen saat memesan makanan melalui sejumlah platform sudah terasa cukup tinggi.

Dia terutama menyoroti komponen biaya layanan dan biaya penanganan pesanan. Fitri berharap kebijakan baru yang disiapkan pemerintah tidak justru membuat harga makanan dan ongkos kirim semakin mahal.

"Tapi kalo kedepannya ada kebijakan kenaikan tarif ongkir yang tinggi, bakal lebih milih beli makan langsung kayaknya, selama gak darurat," tegas Fitri.

Pemerintah Siapkan Formula Tarif

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan formula untuk mengatur tarif layanan pengantaran makanan dan barang berbasis aplikasi.

Penyusunan formula tersebut diharapkan dapat mempertimbangkan berbagai komponen dalam bisnis layanan pesan-antar. Pelaku industri meminta pemerintah menjaga keseimbangan kepentingan pengemudi, platform, merchant, dan konsumen.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria sebelumnya menjelaskan skema pembagian komisi 8% untuk aplikator dan 92% untuk pengemudi berlaku untuk layanan pengantaran orang.

Adapun layanan pengantaran makanan dan barang akan menggunakan mekanisme pengaturan yang lebih fleksibel.

Komdigi akan mengatur layanan pengantaran barang dan makanan, sedangkan layanan pengantaran orang menjadi kewenangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Nezar mengatakan penyusunan formula tarif layanan pengantaran makanan dan barang perlu memperhatikan proses bisnis serta algoritma yang digunakan masing-masing platform.

"Namun demikian kami tetap melihat proses bisnisnya dan bagaimana algoritma yang disusun, terutama untuk pengantaran barang ini. Karena ini kan berbeda dengan mengantar orang ya. Pengantaran barang ini melibatkan banyak komponen lain," kata Nezar ditemui di sela acara Kaspersky Academic Summit di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Rencana pengaturan tarif tersebut kini menjadi perhatian karena perubahan biaya layanan berpotensi memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih antara memesan makanan melalui aplikasi atau datang langsung ke restoran.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan formula yang disusun tidak hanya mempertimbangkan biaya operasional platform, tetapi tetap memperhatikan pendapatan pengemudi, keberlangsungan usaha merchant, dan kemampuan konsumen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online