Kadin Khawatir Erupsi Anak Krakatau Lumpuhkan Sektor Logistik

Newswire
Newswire Senin, 07 September 2026 10:37 WIB
Kadin Khawatir Erupsi Anak Krakatau Lumpuhkan Sektor Logistik

Ilustrasi kargo pesawat./JIBI

Harianjogja.com, JAKARTA—Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan potensi kerugian ekonomi masif apabila sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu transportasi udara. Industri logistik, pariwisata, hingga rantai pasok nasional dinilai menjadi sektor yang paling rentan terdampak.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan dunia usaha saat ini memberikan perhatian terhadap konektivitas transportasi, mobilitas pekerja, serta kelancaran perjalanan bisnis.

"Jika abu vulkanik menyebabkan penutupan ruang udara serta pembatalan penerbangan, dampak ekonominya dapat menjalar cukup luas. Maskapai menanggung beban operasional ekstra, sektor pariwisata terpukul akibat pembatalan pemesanan, dan dunia usaha menghadapi keterlambatan pengiriman kargo udara," ujar Erwin kepada Bisnis, Minggu (6/9/2026).

Logistik dan Produksi Berpotensi Terganggu

Menurut Erwin, persoalan tidak hanya menyangkut penerbangan penumpang. Keterlambatan pengiriman komoditas bernilai tinggi atau high-value goods, barang mudah rusak atau perishable goods, hingga komponen manufaktur yang mengandalkan jalur udara juga berpotensi mengganggu siklus produksi industri.

Kadin belum dapat menghitung besaran kerugian material secara nasional. Perhitungannya masih sangat bergantung pada durasi erupsi serta luas radius penutupan ruang udara.

Jika gangguan penerbangan hanya berlangsung singkat, dampaknya dinilai masih dapat dikelola atau manageable. Namun, risiko ekonomi akan meningkat drastis apabila penutupan bandara-bandara utama di kawasan Jabodetabek berlangsung hingga beberapa hari.

"Kawasan Jabodetabek merupakan pusat aktivitas ekonomi dan logistik nasional. Jika terganggu beberapa hari, multiplier effect-nya akan jauh lebih besar," tegasnya.

Kadin Soroti Biaya Tidak Langsung

Selain kerugian langsung, Erwin meminta pemerintah dan pelaku usaha turut memperhitungkan biaya tidak langsung atau indirect costs akibat gangguan penerbangan.

Beberapa dampak yang menjadi perhatian Kadin meliputi:

Hambatan produksi, terutama akibat keterlambatan pasokan komponen baku untuk industri.
Pembengkakan biaya operasional, termasuk biaya ekstra untuk penyimpanan kargo atau warehousing dan pengalihan ke moda transportasi darat maupun laut.
Logistik ekspor-impor, berupa potensi penundaan jadwal pengiriman barang ke pasar internasional.

Meski memperkirakan adanya tekanan terhadap aktivitas ekonomi, Kadin menegaskan dunia usaha mendukung langkah mitigasi dan penutupan ruang udara yang dilakukan pemerintah demi keselamatan penerbangan.

Erwin juga mendorong otoritas terkait menyampaikan informasi secara cepat, terintegrasi, dan konsisten. Pemerintah dinilai perlu segera menyiapkan rencana kontinjensi atau contingency plan untuk menghadapi kemungkinan gangguan yang lebih lama.

"Fokus utamanya saat ini adalah memastikan keselamatan penerbangan sekaligus menjaga konektivitas rantai pasok melalui jalur alternatif, agar gangguan terhadap kegiatan ekonomi nasional dapat ditekan seminimal mungkin," kata Erwin.

Pemerintah Siapkan Bandara Alternatif

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyatakan pemerintah mengoperasikan sejumlah bandara alternatif selama 24 jam. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran mobilitas penumpang setelah delapan bandara ditutup akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Bandara alternatif yang disiapkan meliputi Bandara Kertajati di Majalengka, Bandara Ahmad Yani di Semarang, Bandara Juanda di Surabaya, Bandara Yogyakarta International Airport, serta Bandara Adi Soemarmo di Solo.

"Tadi saya sampaikan untuk memberikan alternatif kepada airlines apabila ingin menggunakan, karena kita sudah membuka bandara alternatif, Bandara Kertajati, Bandara Semarang, Juanda, YIA Jogja, kemudian Solo juga kita buka untuk operasi 24 jam," kata Menhub terkonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Kesiapan bandara alternatif tersebut menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan konektivitas transportasi di tengah gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online