MBG di DIY Bukan Sekadar Makan Gratis, Edukasi Gizi Jadi Kunci
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DIY diperkuat edukasi gizi. Budi Waljiman mendorong SPPG tak hanya membagikan makanan, tetapi...
Barista Peridot Coffee and Eatery di Jalan Wijaya Kusuma 29, Gayamprit, Klaten, Rabu (16/9/2026). Abdul Hamid Razak/Harian Jogja
Harianjogja.com, KLATEN—Hampir 12 tahun menjadi perjalanan panjang bagi Peridot Coffee and Eatery untuk bertahan sekaligus beradaptasi dengan perubahan selera konsumen. Bagi Theresia Novita, pemilik Peridot, setiap fase bisnis memberikan pelajaran tentang bagaimana membaca pasar tanpa kehilangan karakter yang dibangun sejak awal.
Vita, sapaan Theresia Novita, masih mengingat kondisi bisnis kopi di Klaten ketika Peridot pertama kali hadir. Saat itu, budaya minum kopi di luar rumah belum seramai sekarang. Kedai dengan mesin espresso pun masih terbatas.
“Perjalanannya luar biasa. Kalau melihat dari lima tahun pertama dan lima tahun kedua, konsep kami memang berbeda,” kata Vita saat ditemui di Jalan Wijaya Kusuma 29, Gayamprit, Klaten, Rabu (16/9/2026).
Sekitar 2020, kopi sachet dan kopi instan masih lebih umum ditemui dibandingkan sajian berbasis espresso. Peridot justru memilih memperkenalkan pengalaman minum kopi dengan mesin espresso sekaligus membangun kemampuan barista dari awal.
“Waktu itu kami termasuk yang pertama menggunakan mesin espresso. Barista juga kami didik dari awal dan kami training,” ujar Vita.
Lima Tahun Pertama Jadi Masa Keemasan
Lima tahun pertama menjadi salah satu periode yang paling berkesan bagi Peridot. Selain menjadikan kopi sebagai identitas, kedai tersebut memperluas pilihan kuliner dengan menghadirkan western food, termasuk pizza bergaya Italia.
“Kami juga menawarkan pizza Italia dan western food. Saat itu bisa dibilang kami menjadi salah satu pionirnya di Klaten,” kata Vita.
Situasi berubah ketika pandemi Covid-19 memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk kebiasaan nongkrong di coffee shop. Peridot kemudian memperluas konsep dengan menghadirkan Chinese food sebagai bagian dari upaya beradaptasi.
“Lima tahun kedua kami kembangkan ke Chinese food. Itu setelah Covid-19 karena waktu itu coffee shop tidak terlalu bagus,” ujarnya.
Perubahan tersebut membuat Peridot memiliki pengalaman yang lebih panjang dalam menghadapi pergeseran perilaku konsumen. Menurut Vita, tren kopi sendiri bergerak seperti gelombang.
Tren Kopi Makin Beragam
Setelah sempat didominasi berbagai racikan kopi modern, dalam dua tahun terakhir budaya nongkrong sambil menikmati kopi kembali menguat. Pada saat yang sama, metode seduh manual atau slowbar ikut mendapat perhatian.
“Kopi itu ada gelombangnya. Sekarang kompleks sekali. Ada kopi yang dicampur dan dimodifikasi sedemikian rupa, kemudian slowbar juga laku di mana-mana,” tutur Vita.
Menurut dia, kondisi pasar saat ini lebih beragam. Kopi instan, kopi sachet, espresso, hingga manual brew memiliki konsumennya masing-masing.
“Kalau dulu kami bisa membaca pasar. Kalau sekarang tidak. Slowbar laku di mana-mana,” katanya.
Bagi Vita, daya tarik slowbar terletak pada proses penyajiannya yang memberi ruang bagi konsumen untuk menikmati karakter biji kopi. Proses tersebut memang membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan penyajian espresso.
“Slowbar membutuhkan waktu penyajian lebih lama dan bisa memunculkan karakter dari biji kopinya,” jelas Vita.
Sementara espresso memungkinkan peracikan dengan arabika, robusta, maupun kombinasi keduanya sesuai kebutuhan.
Kembali Memperkuat Identitas Kopi
Di tengah perubahan tersebut, Peridot kini kembali memperkuat karakter awalnya sebagai coffee shop. Namun, pengalaman selama hampir 12 tahun membuat mereka tidak meninggalkan lini kuliner yang sudah berkembang.
“Kami yang awalnya merambah ke restoran, sekarang kembali lagi ke kopi. Meskipun western dan Chinese food tetap dipertahankan, kami tidak menghilangkan karakter kopi kami,” ujar Vita.
Perubahan juga menyentuh cara Peridot memosisikan ruangnya. Kedai tersebut tidak secara khusus menyasar mahasiswa atau anak muda, tetapi ingin menjadi tempat yang nyaman bagi pebisnis, keluarga, maupun pelanggan yang hendak bertemu dan membangun relasi.
“Sekarang yang dijual bukan hanya kopi, tetapi konsep. Yang dijual adalah pengalaman,” katanya.
Karena itu, pelayanan dan branding turut diperkuat. Peridot ingin menghadirkan suasana homey dengan sentuhan berkelas yang tetap nyaman untuk pertemuan formal maupun informal.
“Kami kembali ke konsep awal. Peridot memberikan pengalaman untuk membangun dan memperkuat relasi dan keluarga, baik formal maupun informal,” ujarnya.
Menawarkan Pengalaman Berbeda di Klaten
Vita melihat posisi Klaten yang berada di antara Solo dan Jogja sebagai peluang untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda. Salah satunya melalui slowbar yang memungkinkan pelanggan menikmati kopi secara lebih santai.
“Klaten sebagai kota yang berada di antara Solo dan Jogja, kami harus bisa membawa pengalaman yang berbeda,” ujar Vita.
“Slowbar kopi itu bisa dinikmati secara pelan-pelan sampai tetes kopi terakhir,” katanya.
Momentum tersebut juga bertemu dengan kembali populernya tradisi ngopi pagi atau Ngopag.
“Tradisi Ngopi Pagi atau Ngopag muncul lagi. Bahkan sekarang lebih kencang,” ujar Vita.
Selain kopi, Peridot tetap mempertahankan western food, Chinese food, dan pizza. Penyajian makanan pun mendapat perhatian lebih melalui pembenahan plating agar pengalaman bersantap semakin menarik.
“Kami mementingkan lagi soal plating. Penataannya diperbaiki agar memberikan pengalaman makan yang berbeda, lebih indah dan enak,” tuturnya.
Setelah melewati berbagai perubahan konsep, Vita kini menempatkan loyalitas pelanggan sebagai salah satu fokus utama. Baginya, tren dapat terus berganti, tetapi kualitas rasa dan masukan pelanggan menjadi dasar untuk menjaga keberlanjutan usaha.
“Kami ingin membuat pelanggan loyal. Masukan dari pelanggan sangat kami harapkan agar kami bisa mempertahankan rasa,” kata Vita.
Hampir 12 tahun perjalanan Peridot akhirnya menjadi catatan tentang kemampuan sebuah usaha membaca perubahan. Dari era mesin espresso dan pizza Italia, beradaptasi dengan Chinese food setelah pandemi, hingga mengikuti kebangkitan slowbar dan Ngopag, Peridot kini kembali memperkuat akar kopinya.
Kopi tetap menjadi identitas, sementara makanan, ruang, dan pelayanan menjadi bagian dari pengalaman yang melengkapinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DIY diperkuat edukasi gizi. Budi Waljiman mendorong SPPG tak hanya membagikan makanan, tetapi...
Jadwal SIM Keliling Jogja Jumat 18 September 2026 beserta lokasi Satpas, Syarat perpanjangan SIM A dan SIM C aktif agar tak antre.
Mentan Amran Sulaiman instruksikan Bapanas tindak tegas beras fortifikasi melanggar aturan. DPR dukung pencabutan izin usaha pelaku.
Jadwal SIM Keliling Ditlantas Polda Jogja Jumat 18 September 2026 di Berbah Sleman. Cek lokasi, syarat BPJS Kesehatan, dan biaya PNBP.
Krisis air bersih masih melanda Imogiri, Bantul. Bantuan 20 tangki air bersih disalurkan untuk warga terdampak kekeringan di Sriharjo.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 18 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja mulai pukul 05.00 hingga malam.