Sinopsis Film Gak Ada Matinya, Ketika Kematian Ayah Justru Dianggap Jalan Keluar
Sinopsis film Gak Ada Matinya, kisah Binsar yang berharap uang asuransi ayahnya menyelamatkan hidupnya, tetapi semuanya berubah.
Foto ilustrasi pasar baju bekas atau thrifting. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Turis China kini ramai membeli pakaian murah khusus untuk kebutuhan foto saat berwisata. Setelah perjalanan berakhir, pakaian yang hanya dipakai satu atau dua kali itu tidak selalu dibawa pulang untuk digunakan kembali, tetapi bisa dibuang atau dijual.
Fenomena tersebut dikenal sebagai disposable clothing dan mulai ramai diperbincangkan di media sosial China sejak musim panas 2026. Salah satu platform media sosial bahkan mencatat sekitar 6,8 juta penayangan serta 135.000 diskusi terkait tren tersebut.
Mengutip VnExpress, Senin (28/9/2026), pakaian yang dibeli untuk kebutuhan wisata tersebut umumnya memiliki harga 10-50 yuan atau sekitar US$1,40-US$7. Harga yang relatif murah membuat wisatawan dapat membeli pakaian khusus tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Kebiasaan itu terlihat dari pengalaman seorang wisatawan perempuan yang mengaku membeli lima pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari dengan total pengeluaran kurang dari 200 yuan. Setelah perjalanan selesai, ia tidak berencana menyimpan pakaian-pakaian tersebut.
Disposable clothing merujuk pada pakaian murah yang sengaja dibeli untuk digunakan selama perjalanan, terutama ketika wisatawan ingin menghasilkan foto dengan penampilan berbeda. Pakaian tersebut umumnya hanya dikenakan satu atau dua kali sebelum kemudian dibuang atau dijual kembali.
Model pakaian yang dipilih pun tidak selalu seperti pakaian sehari-hari. Sebagian dibuat lebih mencolok dan disesuaikan dengan lokasi wisata yang dikunjungi.
Pilihan tersebut antara lain gaun panjang bergaya etnik dan jubah untuk kebutuhan foto di pantai atau hutan, hingga jaket dengan warna terang. Penampilan seperti itu dianggap dapat menunjang sesi foto selama perjalanan.
Namun, pakaian yang menarik untuk kebutuhan dokumentasi wisata tersebut belum tentu dianggap cocok untuk aktivitas sehari-hari. Model yang terlalu mencolok atau formal membuat sebagian wisatawan merasa pakaian tersebut tidak akan banyak digunakan setelah liburan.
Karena itu, membeli pakaian dengan harga murah menjadi pilihan bagi sebagian wisatawan. Mereka dapat memiliki busana khusus untuk foto tanpa perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk pakaian yang kemungkinan hanya sesekali dikenakan.
Perbincangan mengenai disposable clothing biasanya kembali meningkat ketika memasuki musim liburan. Tren tersebut tidak hanya membahas cara wisatawan memilih pakaian, tetapi juga memunculkan perdebatan mengenai kebiasaan konsumsi dan dampaknya terhadap lingkungan.
Sebagian warganet menilai membeli pakaian murah khusus untuk perjalanan dapat menghemat pengeluaran dibandingkan membeli pakaian dengan harga lebih mahal yang hanya digunakan sesekali.
Pertimbangan harga menjadi salah satu alasan yang membuat konsep tersebut menarik. Wisatawan dapat memilih pakaian berdasarkan destinasi dan kebutuhan foto tanpa harus memikirkan pemakaian jangka panjang.
Namun, muncul pula kritik terhadap kebiasaan tersebut. Pakaian yang hanya digunakan satu atau dua kali berpotensi menambah jumlah limbah tekstil, terutama ketika barang tersebut akhirnya dibuang setelah perjalanan selesai.
Semakin banyak pakaian yang memiliki masa penggunaan sangat singkat, semakin besar pula kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap persoalan limbah dan keberlanjutan industri tekstil.
Data United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan di seluruh dunia setiap tahun.
Dalam periode 2000-2015, produksi tekstil meningkat dua kali lipat. Pada periode yang sama, rata-rata masa penggunaan pakaian justru turun 36%.
Persoalan material pakaian juga menjadi perhatian. Pada 2023, hanya sekitar 8% serat tekstil yang berasal dari material daur ulang.
Selain itu, pakaian dan produk tekstil menyumbang sekitar 11% dari total limbah plastik. Data tersebut menjadi bagian dari perdebatan mengenai kebiasaan konsumsi pakaian dan masa pakainya.
Fenomena disposable clothing di kalangan turis China pada akhirnya memperlihatkan dilema antara keinginan mendapatkan penampilan berbeda untuk setiap foto perjalanan dan persoalan keberlanjutan.
Di satu sisi, pakaian murah menawarkan pilihan praktis bagi wisatawan yang ingin menyesuaikan penampilan dengan destinasi tanpa mengeluarkan banyak biaya. Di sisi lain, pakaian yang hanya dipakai sekali atau dua kali sebelum dibuang atau dijual kembali menimbulkan perhatian terhadap potensi bertambahnya limbah tekstil.
Tren pakaian khusus untuk foto liburan tersebut pun tidak hanya menjadi fenomena gaya wisata, tetapi juga membuka perbincangan mengenai berapa lama sebuah pakaian digunakan dan apa yang terjadi setelah tren perjalanan berakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sinopsis film Gak Ada Matinya, kisah Binsar yang berharap uang asuransi ayahnya menyelamatkan hidupnya, tetapi semuanya berubah.
Delapan warga Sleman dari dua KK siap mengikuti transmigrasi 2026 ke Poso dan Polewali Mandar. Mereka tinggal menunggu jadwal pemberangkatan.
Jadwal SIM Kulonprogo hari ini, Selasa 29 September 2026, tersedia di MPP. Cek lokasi, jam layanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
John Herdman menyebut kartu merah Thom Haye saat Indonesia vs Malaysia menjadi pelajaran penting bagi skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.