Tren Baju Sekali Pakai Merebak di Kalangan Turis China

Jumali
Jumali Senin, 28 September 2026 10:07 WIB
Tren Baju Sekali Pakai Merebak di Kalangan Turis China

Foto ilustrasi pasar baju bekas atau thrifting. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Turis China kini ramai membeli pakaian murah khusus untuk kebutuhan foto saat berwisata. Setelah perjalanan berakhir, pakaian yang hanya dipakai satu atau dua kali itu tidak selalu dibawa pulang untuk digunakan kembali, tetapi bisa dibuang atau dijual.

Fenomena tersebut dikenal sebagai disposable clothing dan mulai ramai diperbincangkan di media sosial China sejak musim panas 2026. Salah satu platform media sosial bahkan mencatat sekitar 6,8 juta penayangan serta 135.000 diskusi terkait tren tersebut.

Mengutip VnExpress, Senin (28/9/2026), pakaian yang dibeli untuk kebutuhan wisata tersebut umumnya memiliki harga 10-50 yuan atau sekitar US$1,40-US$7. Harga yang relatif murah membuat wisatawan dapat membeli pakaian khusus tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Kebiasaan itu terlihat dari pengalaman seorang wisatawan perempuan yang mengaku membeli lima pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari dengan total pengeluaran kurang dari 200 yuan. Setelah perjalanan selesai, ia tidak berencana menyimpan pakaian-pakaian tersebut.

Baju Murah Khusus untuk Foto Liburan

Disposable clothing merujuk pada pakaian murah yang sengaja dibeli untuk digunakan selama perjalanan, terutama ketika wisatawan ingin menghasilkan foto dengan penampilan berbeda. Pakaian tersebut umumnya hanya dikenakan satu atau dua kali sebelum kemudian dibuang atau dijual kembali.

Model pakaian yang dipilih pun tidak selalu seperti pakaian sehari-hari. Sebagian dibuat lebih mencolok dan disesuaikan dengan lokasi wisata yang dikunjungi.

Pilihan tersebut antara lain gaun panjang bergaya etnik dan jubah untuk kebutuhan foto di pantai atau hutan, hingga jaket dengan warna terang. Penampilan seperti itu dianggap dapat menunjang sesi foto selama perjalanan.

Namun, pakaian yang menarik untuk kebutuhan dokumentasi wisata tersebut belum tentu dianggap cocok untuk aktivitas sehari-hari. Model yang terlalu mencolok atau formal membuat sebagian wisatawan merasa pakaian tersebut tidak akan banyak digunakan setelah liburan.

Karena itu, membeli pakaian dengan harga murah menjadi pilihan bagi sebagian wisatawan. Mereka dapat memiliki busana khusus untuk foto tanpa perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk pakaian yang kemungkinan hanya sesekali dikenakan.

Ramai Saat Musim Liburan, Memicu Perdebatan

Perbincangan mengenai disposable clothing biasanya kembali meningkat ketika memasuki musim liburan. Tren tersebut tidak hanya membahas cara wisatawan memilih pakaian, tetapi juga memunculkan perdebatan mengenai kebiasaan konsumsi dan dampaknya terhadap lingkungan.

Sebagian warganet menilai membeli pakaian murah khusus untuk perjalanan dapat menghemat pengeluaran dibandingkan membeli pakaian dengan harga lebih mahal yang hanya digunakan sesekali.

Pertimbangan harga menjadi salah satu alasan yang membuat konsep tersebut menarik. Wisatawan dapat memilih pakaian berdasarkan destinasi dan kebutuhan foto tanpa harus memikirkan pemakaian jangka panjang.

Namun, muncul pula kritik terhadap kebiasaan tersebut. Pakaian yang hanya digunakan satu atau dua kali berpotensi menambah jumlah limbah tekstil, terutama ketika barang tersebut akhirnya dibuang setelah perjalanan selesai.

Semakin banyak pakaian yang memiliki masa penggunaan sangat singkat, semakin besar pula kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap persoalan limbah dan keberlanjutan industri tekstil.

Limbah Tekstil Jadi Sorotan

Data United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan di seluruh dunia setiap tahun.

Dalam periode 2000-2015, produksi tekstil meningkat dua kali lipat. Pada periode yang sama, rata-rata masa penggunaan pakaian justru turun 36%.

Persoalan material pakaian juga menjadi perhatian. Pada 2023, hanya sekitar 8% serat tekstil yang berasal dari material daur ulang.

Selain itu, pakaian dan produk tekstil menyumbang sekitar 11% dari total limbah plastik. Data tersebut menjadi bagian dari perdebatan mengenai kebiasaan konsumsi pakaian dan masa pakainya.

Fenomena disposable clothing di kalangan turis China pada akhirnya memperlihatkan dilema antara keinginan mendapatkan penampilan berbeda untuk setiap foto perjalanan dan persoalan keberlanjutan.

Di satu sisi, pakaian murah menawarkan pilihan praktis bagi wisatawan yang ingin menyesuaikan penampilan dengan destinasi tanpa mengeluarkan banyak biaya. Di sisi lain, pakaian yang hanya dipakai sekali atau dua kali sebelum dibuang atau dijual kembali menimbulkan perhatian terhadap potensi bertambahnya limbah tekstil.

Tren pakaian khusus untuk foto liburan tersebut pun tidak hanya menjadi fenomena gaya wisata, tetapi juga membuka perbincangan mengenai berapa lama sebuah pakaian digunakan dan apa yang terjadi setelah tren perjalanan berakhir.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online