Produksi Kapas 3 Pemasok Indonesia Turun, Harga Global Bisa Naik

Newswire
Newswire Senin, 05 Oktober 2026 23:17 WIB
Produksi Kapas 3 Pemasok Indonesia Turun, Harga Global Bisa Naik

tanaman kapas/Istimewa

Harianjogja.com, JAKARTA— Prospek pasokan kapas dunia pada musim 2026/2027 menghadapi tekanan. Tiga negara yang selama ini menjadi pemasok utama kapas ke Indonesia, yakni Brasil, Australia, dan Amerika Serikat (AS), diperkirakan mengalami penurunan produksi.

Proyeksi tersebut turut menekan produksi kapas dunia. Departemen Pertanian Amerika Serikat atau United States Department of Agriculture (USDA) dalam laporan Cotton and Wool Outlook: September 2026 memperkirakan produksi kapas dunia turun 4,6 juta bal dari musim sebelumnya menjadi 117,3 juta bal pada 2026/2027.

Produksi Brasil, Australia, dan AS Menurun

Brasil diproyeksikan mengalami penurunan produksi kapas untuk pertama kalinya sejak 2022/2023. Penurunan tersebut dipicu berkurangnya luas area panen yang lebih besar dibandingkan peningkatan produktivitas.

USDA memperkirakan produksi kapas Brasil pada 2026/2027 turun 1% atau 250.000 bal menjadi 18,5 juta bal.

Kondisi serupa terjadi di Australia. Produksi kapas Negeri Kanguru diperkirakan turun sepertiga atau 1,5 juta bal menjadi 3 juta bal. Penurunan tersebut dipengaruhi berkurangnya permukaan air waduk yang diperkirakan mengurangi luas lahan pada musim mendatang.

Luas lahan panen Australia pada 2026/2027 diperkirakan turun 31% atau 145.000 hektare menjadi 325.000 hektare. Sementara itu, hasil panen kapas diproyeksikan berkurang 75 kilogram per hektare menjadi 2.010 kilogram per hektare.

Produksi kapas AS juga diperkirakan menurun menjadi 13,2 juta bal. Angka tersebut turun 3% atau 400.000 bal dari perkiraan Agustus dan 5% atau 700.000 bal dibandingkan panen 2025/2026.

Penurunan produksi AS terjadi karena merosotnya hasil panen lebih besar daripada peningkatan luas lahan.

Stok Kapas Turun, Harga Global Berpotensi Naik

Turunnya produksi di tiga pemasok utama Indonesia tersebut berdampak terhadap proyeksi stok. Stok kapas Brasil, Australia, dan AS masing-masing diperkirakan hanya sebesar 3,2 juta bal, 2,5 juta bal, dan 3,6 juta bal.

USDA memperkirakan tingkat stok akhir kapas dunia berada pada level terendah sejak 2011/2012. Rasio stok terhadap penggunaan juga diproyeksikan menjadi yang terendah sejak 2010/2011.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat harga kapas global diperkirakan lebih tinggi pada 2026/2027.

Sebelumnya, dalam laporan yang dirilis USDA pada April 2026, Brasil tercatat sebagai pemasok kapas terbesar ke Indonesia. Pada periode Agustus 2025 hingga Februari 2026, Brasil menguasai 42,3% pasar kapas Indonesia atau sebanyak 470.360 bal.

Australia berada di posisi kedua dengan kontribusi 35,6% atau 394.430 bal. Sementara itu, AS menyumbang 12,6% atau 139.960 bal.

Penggunaan Kapas Dunia Diproyeksi Meningkat

Di tengah penurunan produksi, kebutuhan kapas industri pemintalan justru diperkirakan meningkat. Penggunaan kapas oleh pabrik di seluruh dunia pada 2026/2027 diproyeksikan mencapai 122,9 juta bal.

Angka tersebut naik 1,8 juta bal atau 1,5% dibandingkan 2025/2026. Penggunaan kapas global itu juga diperkirakan menjadi yang tertinggi sejak 2020/2021, ketika konsumsi industri mencapai rekor 124,5 juta bal.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang stabil serta harga poliester yang lebih tinggi diperkirakan turut menopang penggunaan kapas oleh industri pemintalan. Dengan demikian, kebutuhan kapas diperkirakan lebih besar daripada produksi global pada 2026/2027.

China, India, Pakistan, Vietnam, Bangladesh, dan Turki menjadi negara dengan kontribusi terbesar terhadap penggunaan kapas industri pemintalan. Keenam negara tersebut diperkirakan menyumbang 82% dari total penggunaan kapas dunia pada 2026/2027.

China tetap menjadi negara dengan industri pemintalan kapas terbesar di dunia. Penggunaan kapas oleh industri pemintalan China diperkirakan mencapai 42 juta bal pada 2026/2027, atau 400.000 bal lebih tinggi dibandingkan 2025.

Jumlah tersebut membuat penggunaan kapas China tetap berada di atas sepertiga total penggunaan kapas dunia.

China dan India Jadi Produsen Terbesar

Dari sisi produksi, China, India, Brasil, dan AS diperkirakan menjadi empat negara dengan kontribusi produksi kapas terbesar pada 2026/2027. Keempat negara tersebut diperkirakan menyumbang 76% dari total produksi dunia, sedikit meningkat dibandingkan musim sebelumnya.

China dan India diproyeksikan tetap berada di posisi teratas sebagai produsen kapas terbesar. Masing-masing diperkirakan menyumbang 29% dan 20% terhadap produksi kapas dunia.

China diperkirakan menghasilkan 33,5 juta bal kapas pada 2026/2027. Angka itu turun 6% atau 2,3 juta bal dibandingkan 2025/2026.

Luas lahan panen kapas di China juga diperkirakan turun 1,5% menjadi 3 juta hektare pada 2026/2027. Penurunan tersebut dipicu kondisi pertumbuhan yang kurang mendukung pada musim ini.

Sementara itu, India menjadi satu-satunya negara produsen utama yang diperkirakan mengalami peningkatan produksi. India diproyeksikan menghasilkan 24 juta bal kapas pada 2026/2027, naik 1% atau 200.000 bal dibandingkan musim sebelumnya.

Peningkatan hasil panen India diperkirakan lebih dari cukup untuk mengimbangi sedikit penurunan luas panen. Luas panen India diperkirakan berkurang 25.000 hektare menjadi 11,5 juta hektare.

Di sisi lain, hasil panen India diproyeksikan meningkat 4 kilogram per hektare menjadi 454 kilogram per hektare pada musim 2026/2027.

Secara keseluruhan, stok kapas dunia diperkirakan turun hampir 5,5 juta bal atau 7% pada 2026/2027. Penurunan tersebut terjadi ketika penggunaan kapas industri pemintalan meningkat, sehingga selisih antara penggunaan dan produksi diperkirakan menjadi yang terbesar sejak 2020–2026.

Dalam perdagangan global yang diproyeksikan sedikit menurun dari tahun sebelumnya, Brasil dan AS tetap menjadi eksportir utama. Sementara itu, Vietnam dan Bangladesh diperkirakan menjadi importir utama kapas dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online