Airlangga Targetkan Investasi Hilirisasi Rp3.800 Triliun dalam 4 Tahun

Patricia Yashinta
Patricia Yashinta Selasa, 06 Oktober 2026 11:27 WIB
Airlangga Targetkan Investasi Hilirisasi Rp3.800 Triliun dalam 4 Tahun

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Jumat (29/3/2024). (ANTARA/Fath Putra Mulya)

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi mencapai Rp3.800 triliun dalam empat tahun ke depan. Investasi tersebut akan diarahkan untuk mengembangkan 28 komoditas yang tersebar di delapan sektor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan hilirisasi menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

“Investasi ke depan ditargetkan bisa Rp3.800 triliun dalam empat tahun ke depan,” kata Airlangga dalam acara Bisnis Indonesia Group: Downstream Insight 2026, Selasa (6/10/2026).

Investasi Hilirisasi Capai Rp300 Triliun

Airlangga mengatakan realisasi investasi hilirisasi pada semester I/2026 telah mencapai sekitar Rp300 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi untuk 28 komoditas yang mencakup delapan sektor. Secara keseluruhan, kebutuhan investasi untuk mengembangkan komoditas-komoditas tersebut diperkirakan mencapai US$618 miliar.

Investasi itu diharapkan dapat meningkatkan ekspor Indonesia hingga US$857 miliar. Sementara nilai tambah yang dihasilkan diproyeksikan mencapai sekitar US$235,9 miliar.

Airlangga mengatakan penghiliran juga berpotensi meningkatkan nilai ekspor nasional secara signifikan. Saat ini, nilai ekspor Indonesia telah mendekati US$500 miliar.

“Kalau dengan hilirisasi ini nambah, maka ekspor kita bisa double dari angka tersebut,” ujarnya.

Hilirisasi Tak Hanya Mineral

Menurut Airlangga, pengembangan hilirisasi tidak hanya menyasar mineral dan batu bara. Pemerintah juga mengembangkan pengolahan sumber daya alam terbarukan atau renewable.

Komoditas tersebut mencakup sektor perkebunan, pertanian, kehutanan, hingga perikanan. Airlangga mencontohkan kelapa sawit yang kini telah memiliki lebih dari 200 jenis produk turunan.

Sementara itu, karet telah dikembangkan menjadi produk ban dan memiliki pasar ekspor.

“Jadi hilirisasi bukan hanya mineral, tetapi komoditas-komoditas sumber daya yang renewable juga,” kata Airlangga.

Di sektor mineral, nikel menjadi salah satu komoditas yang menunjukkan peningkatan nilai ekspor setelah didorong melalui hilirisasi.

Airlangga menyebut nilai ekspor produk berbasis nikel meningkat dari sekitar US$1,3 miliar pada 2016 menjadi sekitar US$34 miliar pada tahun lalu.

Investasi Makin Tersebar di Luar Jawa

Pemerintah juga melihat dampak hilirisasi dari persebaran investasi dan aktivitas ekonomi di luar Jawa. Airlangga menyebut porsi investasi di luar Jawa telah mencapai 75,7%.

Kondisi tersebut sejalan dengan lokasi sumber bahan baku mineral dan sumber daya alam yang banyak berada di luar Jawa.

“Di Jawa itu manufaktur, di luar Jawa itu sumber daya mineral atau sumber daya alam base,” ujarnya.

Menurut Airlangga, kondisi tersebut turut mendorong pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Dia mencontohkan investasi berbasis nikel di Sulawesi Tengah yang telah mencapai Rp56,1 triliun. Sementara investasi berbasis nikel di Maluku mencapai Rp53,9 triliun.

Hilirisasi Bukan Berarti Industrialisasi

Meski menjadi salah satu agenda utama pemerintah, Airlangga menegaskan hilirisasi tidak dapat disamakan dengan industrialisasi. Menurutnya, hilirisasi merupakan salah satu bagian dari pengembangan industri nasional.

“Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri,” katanya.

Karena itu, pemerintah juga mendorong pengembangan sektor manufaktur lain, seperti otomotif, tekstil dan produk tekstil, fast-moving consumer goods (FMCG), serta sektor strategis lainnya.

Airlangga menargetkan kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dapat ditingkatkan hingga lebih dari 20%.

Tantangan Hilirisasi

Di sisi lain, pengembangan hilirisasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku dan energi.

Pemerintah juga perlu memastikan sumber energi yang digunakan industri semakin berasal dari energi hijau. Hal tersebut diperlukan untuk memenuhi tuntutan pasar global.

Selain aspek energi, Airlangga mengatakan pengembangan hilirisasi ke depan harus semakin berbasis teknologi.

Pemanfaatan artificial intelligence (AI), machine learning, Internet of Things (IoT), dan otomatisasi akan didorong untuk meningkatkan produktivitas industri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online