Dunia Usaha Kuartal III/2026 Melambat, BI Ungkap Penyebabnya

Newswire
Newswire Senin, 19 Oktober 2026 14:07 WIB
Dunia Usaha Kuartal III/2026 Melambat, BI Ungkap Penyebabnya

Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kegiatan dunia usaha Indonesia masih tumbuh positif pada kuartal III/2026, tetapi lajunya melambat dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Survei Bank Indonesia (BI) mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha turun dari 12,97% pada kuartal II/2026 menjadi 11,46% pada kuartal III/2026, terutama akibat melemahnya kinerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), perlambatan juga terlihat pada sejumlah sektor, termasuk transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum. Meski demikian, industri pengolahan dan beberapa lapangan usaha lainnya masih mencatat peningkatan kinerja.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan hasil survei tersebut dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).

"Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan III/2026 tetap terjaga," simpulnya.

Sektor Pertanian Paling Tertekan, Transportasi Ikut Melambat

Penurunan kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi salah satu faktor utama yang menekan pertumbuhan kegiatan dunia usaha. SBT sektor tersebut merosot dari 1,74% pada kuartal II/2026 menjadi 0,39% pada kuartal III/2026.

Perlambatan juga terjadi pada LU Transportasi dan Pergudangan. SBT sektor ini turun dari 0,72% menjadi 0,40% pada periode yang sama.

Kondisi serupa tercatat pada LU Informasi dan Komunikasi, dengan SBT turun dari 0,82% menjadi 0,57%. Sementara itu, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat penurunan dari 0,50% menjadi 0,37%.

Di sektor perdagangan, kinerja LU Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Motor cenderung stagnan. SBT sektor tersebut hanya meningkat tipis dari 1,04% pada kuartal II/2026 menjadi 1,08% pada kuartal III/2026.

Industri Pengolahan Justru Menguat

Di tengah perlambatan sejumlah sektor, industri pengolahan masih menunjukkan peningkatan aktivitas. SBT LU Industri Pengolahan naik dari 1,34% pada kuartal II/2026 menjadi 1,53% pada kuartal III/2026.

Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja sub-LU Industri Kertas, Industri Alat Angkutan, serta Industri Karet dan Plastik.

Perkembangan itu juga tercermin dalam Prompt Manufacturing Index (PMI) BI. Indeks tersebut berekspansi ke level 52,28%, meningkat dibandingkan posisi 51,43% pada triwulan sebelumnya.

Selain industri pengolahan, sejumlah lapangan usaha lain juga mencatat perbaikan kinerja. Berikut perbandingan SBT pada kuartal II dan kuartal III/2026:

Lapangan usahaKuartal II/2026Kuartal III/2026
Administrasi Pemerintahan0,94%1,09%
Pengadaan Listrik dan Gas0,57%0,69%
Konstruksi0,81%0,92%
Real Estat0,25%0,34%

BI menjelaskan peningkatan di sejumlah sektor tersebut didorong oleh berlanjutnya pembangunan proyek strategis nasional, penguatan jaringan infrastruktur, serta realisasi anggaran pemerintah.

BI Proyeksikan Dunia Usaha Tetap Tumbuh pada Kuartal IV

Memasuki kuartal IV/2026, responden survei memperkirakan kegiatan dunia usaha masih akan tumbuh positif. Namun, SBT diprakirakan kembali melandai menjadi 10,77%, lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal III/2026 sebesar 11,46%.

Aktivitas ekonomi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan momentum libur akhir tahun diperkirakan menjadi pendorong kegiatan usaha pada periode tersebut.

Peningkatan terutama diproyeksikan terjadi pada LU Transportasi, LU Perdagangan, serta LU Penyediaan Akomodasi. Ketiga sektor tersebut diperkirakan memperoleh dorongan dari aktivitas masyarakat menjelang perayaan Natal dan liburan akhir tahun.

Mengenal Survei Kegiatan Dunia Usaha BI

Survei Kegiatan Dunia Usaha merupakan survei kuartalan yang diselenggarakan BI terhadap lebih dari 3.300 pelaku usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Responden dipilih menggunakan metode purposive sampling, dengan toleransi kesalahan (sampling error) sebesar 2% pada taraf signifikansi 5%.

Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner pada bulan terakhir triwulan berjalan. Hasil survei kemudian dihitung menggunakan metode Saldo Bersih Tertimbang (SBT).

SBT diperoleh dari hasil perkalian saldo bersih lapangan usaha atau sublapangan usaha yang bersangkutan dengan bobot sektor atau subsektor sebagai penimbang. Indikator ini digunakan untuk menggambarkan perkembangan kegiatan dunia usaha berdasarkan hasil survei BI.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online