French Open 2026 Dimulai, Jonatan Christie Langsung Duel Merah Putih
French Open 2026 dimulai 20 Oktober. Jonatan Christie menghadapi Zaki Ubaidillah, sedangkan Febriana/Meilysa bertemu rekan senegara.
Karyawan duduk - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk memantau karyawan mulai memunculkan persoalan baru di dunia kerja, mulai dari privasi hingga tekanan akibat penilaian yang berlangsung terus-menerus.
Teknologi yang awalnya dipakai untuk membantu perusahaan menjaga kualitas layanan dan mengukur produktivitas kini juga mampu menganalisis percakapan, aktivitas komputer, hingga kebiasaan pekerja saat menjalankan tugas.
Salah satu contoh muncul di Inggris. Co-op Legal Services, perusahaan jasa hukum yang merupakan bagian dari kelompok usaha Co-op, menggunakan model AI dari OpenAI untuk merekam dan menganalisis percakapan telepon sejumlah pegawainya dengan pelanggan.
Laporan The Guardian pada 8 Oktober 2026 menyebut sistem tersebut menilai lebih dari 50 aspek dalam setiap percakapan. Hasil analisisnya berupa skor persentase dan penilaian lulus atau gagal yang dapat digunakan manajer untuk mengevaluasi kinerja pegawai.
Seorang pekerja yang dikutip The Guardian mengatakan pengawasan berlangsung selama berjam-jam dalam sehari. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi ketika setiap kata yang diucapkan seolah-olah terus dipantau.
Bagi pegawai yang menangani pertanyaan mengenai surat wasiat, warisan, dan urusan setelah seseorang meninggal, pemantauan semacam ini menimbulkan pertanyaan tentang batas antara pengawasan mutu layanan dan pengawasan individu.
Co-op menyatakan AI digunakan sebagai alat pendukung, bukan pengambil keputusan akhir. Perusahaan juga menyebut teknologi tersebut sebagai bagian dari proses penjaminan kualitas untuk membantu memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan.
Namun, penjelasan itu belum menghilangkan kekhawatiran pekerja dan serikat pekerja mengenai dampak penilaian otomatis terhadap kehidupan profesional mereka.
Pengawasan berbasis AI tidak hanya muncul di perusahaan jasa hukum. Di Amerika Serikat, survei ExpressVPN yang dipublikasikan pada Februari 2025 menemukan 61% perusahaan yang disurvei menggunakan analitik berbasis AI untuk mengukur produktivitas karyawan.
Angka tersebut menggambarkan penggunaan teknologi pemantauan pada kelompok perusahaan yang diteliti, bukan berarti 61% seluruh tempat kerja di dunia telah menerapkannya. Meski demikian, survei itu menunjukkan bahwa pengukuran kinerja berbasis data telah menjadi bagian dari praktik sejumlah perusahaan.
Di industri makanan cepat saji, Burger King menguji asisten AI bernama Patty yang digunakan melalui perangkat headset pegawai. Sistem ini dapat membantu menjawab pertanyaan tentang penyiapan menu, memberi informasi operasional, serta mengenali ungkapan keramahan seperti “welcome”, “please”, dan “thank you”.
Data keramahan itu dapat digunakan untuk melihat performa suatu restoran. Burger King menyatakan sistem tersebut dimaksudkan sebagai alat pembinaan, bukan untuk memberikan penilaian kinerja individual kepada setiap pegawai.
Meski begitu, pemantauan percakapan tetap memunculkan pertanyaan tentang seberapa jauh teknologi boleh digunakan untuk menilai perilaku manusia. Ungkapan yang terdengar ramah belum tentu menggambarkan keseluruhan kualitas layanan, apalagi jika konteks percakapan, kondisi pelanggan, dan situasi kerja tidak diperhitungkan.
Persoalan lain muncul ketika data aktivitas pekerja dikumpulkan untuk melatih model AI. Pada 2026, Meta menjalankan program internal yang mengumpulkan aktivitas digital karyawan, termasuk ketikan, gerakan tetikus, klik, dan tampilan layar pada komputer kerja.
Data tersebut dimaksudkan untuk membantu pengembangan AI agar lebih memahami cara manusia menggunakan komputer. Namun, program itu menuai kritik karena menyangkut privasi dan batas pengumpulan informasi karyawan.
Pada Juni 2026, Meta menghentikan sementara program tersebut setelah muncul laporan bahwa data sensitif pegawai dapat diakses lebih luas daripada yang seharusnya. Informasi yang terekspos dilaporkan mencakup percakapan pribadi, transkrip, dan data terkait kinerja.
Kasus ini memperlihatkan bahwa pengumpulan data dalam skala besar bukan hanya menimbulkan persoalan ketika perusahaan memantau karyawan. Penyimpanan, pengaturan akses, dan perlindungan data yang terkumpul juga menjadi bagian penting dari keamanan sistem.
Para pengkritik pengawasan berbasis AI khawatir teknologi tersebut mengubah hubungan antara perusahaan dan karyawan. Ketika semakin banyak aktivitas diterjemahkan menjadi angka, pekerja berpotensi dinilai berdasarkan metrik yang tidak selalu mencerminkan kualitas pekerjaan secara utuh.
Sistem otomatis dapat mengukur jumlah interaksi, durasi aktivitas, atau kemunculan kata tertentu. Namun, angka-angka tersebut tidak selalu mampu menangkap konteks, empati, kesulitan tugas, maupun kondisi yang memengaruhi hasil kerja.
Risiko lainnya adalah munculnya tekanan untuk terus terlihat produktif. Karyawan bisa terdorong menyesuaikan perilaku agar memenuhi indikator yang dibaca sistem, alih-alih berfokus pada kebutuhan pelanggan atau kualitas pekerjaan.
Teknologi yang tidak dirancang dengan mempertimbangkan konteks manusia juga berpotensi menghasilkan penilaian yang keliru. Misalnya, percakapan yang lebih lama belum tentu menunjukkan kinerja buruk karena persoalan pelanggan mungkin memang lebih rumit dan membutuhkan penjelasan lebih terperinci.
Penggunaan AI untuk mengevaluasi karyawan membutuhkan aturan yang jelas. Perusahaan perlu menjelaskan data apa yang dikumpulkan, untuk tujuan apa data tersebut digunakan, siapa yang dapat mengaksesnya, dan berapa lama informasi disimpan.
Pekerja juga perlu mengetahui bagaimana hasil analisis AI memengaruhi evaluasi kinerja mereka. Jika sistem memberikan skor yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, harus tersedia mekanisme untuk meminta penjelasan dan peninjauan oleh manusia.
Selain itu, perusahaan perlu membatasi pengumpulan data hanya pada hal yang relevan dengan pekerjaan. Pengamanan akses dan perlindungan informasi pribadi harus menjadi bagian dari desain sistem sejak awal, bukan baru diperhatikan setelah terjadi kebocoran.
AI dapat membantu perusahaan menemukan pola, mempercepat evaluasi, dan menjaga konsistensi layanan. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pertanggungjawaban manusia.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah perusahaan dapat memantau lebih banyak aktivitas karyawan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan pengawasan dilakukan secara proporsional, transparan, dan tidak mengabaikan martabat serta hak privasi pekerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
French Open 2026 dimulai 20 Oktober. Jonatan Christie menghadapi Zaki Ubaidillah, sedangkan Febriana/Meilysa bertemu rekan senegara.
Muhammad Lutfi menduga GIC dan Temasek terkait tekanan kepada MSCI. Apa alasan resmi MSCI mengusulkan perubahan status pasar Indonesia?
Janice Tjen tersingkir di babak 32 besar Jepang Terbuka 2026 usai kalah dari Ashlyn Krueger. Ia masih akan berlaga di sektor ganda.
Prancis memberlakukan jam malam terbatas di Paris dan sejumlah komune setelah demonstrasi berujung kekerasan, penjarahan, dan kerusakan fasilitas umum.
Porsche Mission S menjadi visi supercar bermesin tengah di atas 911, dengan desain terinspirasi mobil legendaris dan kokpit berorientasi pengemudi.
Studi terhadap 480.479 orang menemukan kebiasaan naik tangga berkaitan dengan risiko kematian kardiovaskular lebih rendah. Simak manfaatnya.