Argentina Punya Utang IMF Terbesar 2026, Indonesia Bagaimana?

Jumali
Jumali Jum'at, 23 Oktober 2026 12:57 WIB
Argentina Punya Utang IMF Terbesar 2026, Indonesia Bagaimana?

Logo International Monetary Fund (IMF) dalam rangka Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, yang terletak di depan Kantor Pusat IMF, Washington DC, Amerika Serikat pada Kamis (17/4/2025). / Bloomberg-Kent Nishimura\r\n\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Argentina menjadi negara dengan saldo pinjaman terbesar kepada Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) pada Oktober 2026. Berdasarkan pemeringkatan Visual Capitalist yang menggunakan data kredit IMF dan mengonversinya ke dolar AS, saldo pinjaman Argentina mencapai US$56,8 miliar atau sekitar Rp1.024 triliun.

Nilai tersebut hampir empat kali lipat saldo pinjaman Ukraina yang menempati posisi kedua, yakni US$14,4 miliar atau sekitar Rp259,8 triliun. Besarnya selisih itu memperlihatkan perbedaan skala kewajiban pinjaman IMF di antara negara-negara yang masuk dalam daftar tersebut.

Data pemeringkatan tersebut dipublikasikan Visual Capitalist pada 14 Oktober 2026. Sementara itu, IMF menyediakan data resmi saldo kredit negara anggota dalam satuan Special Drawing Rights (SDR), yang kemudian dapat dikonversi ke dolar AS. Nilai dalam rupiah merupakan perkiraan konversi dan dapat berubah mengikuti kurs yang digunakan.

10 Negara dengan Utang IMF Terbesar pada 2026

Setelah Argentina dan Ukraina, Pakistan, Mesir, serta Ekuador menempati lima besar negara dengan saldo pinjaman IMF terbesar. Daftar ini mencakup negara-negara dari berbagai kawasan, mulai dari Amerika Latin, Eropa, Asia hingga Afrika.

Berikut daftar 10 negara dengan saldo pinjaman IMF terbesar pada Oktober 2026 berdasarkan pemeringkatan Visual Capitalist:

  1. Argentina: US$56,8 miliar atau sekitar Rp1.024 triliun.

  2. Ukraina: US$14,4 miliar atau sekitar Rp259,8 triliun.

  3. Pakistan: US$10,8 miliar atau sekitar Rp194,8 triliun.

  4. Mesir: US$10,6 miliar atau sekitar Rp191,2 triliun.

  5. Ekuador: US$9,4 miliar atau sekitar Rp169,6 triliun.

  6. Pantai Gading: US$5,6 miliar atau sekitar Rp101 triliun.

  7. Ghana: US$4 miliar atau sekitar Rp72,2 triliun.

  8. Bangladesh: US$3,9 miliar atau sekitar Rp70,3 triliun.

  9. Kenya: US$3,8 miliar atau sekitar Rp68,5 triliun.

  10. Republik Demokratik Kongo: US$3,3 miliar atau sekitar Rp59,5 triliun.

Angka tersebut merupakan saldo kredit IMF yang masih tercatat, bukan keseluruhan utang pemerintah masing-masing negara. Karena itu, daftar ini tidak bisa digunakan sendirian untuk menyimpulkan negara mana yang memiliki beban utang nasional paling besar.

Sumber: Visual Capitalist – Countries That Owe the Most Money to the IMF.

Pakistan dan Bangladesh Masuk Daftar Peminjam Terbesar di Asia

Pakistan berada di peringkat ketiga dengan saldo pinjaman US$10,8 miliar, sedangkan Bangladesh menempati posisi kedelapan dengan US$3,9 miliar. Keduanya termasuk negara Asia yang masuk dalam daftar 10 peminjam IMF terbesar pada periode tersebut.

Pinjaman IMF dapat diberikan kepada negara anggota yang menghadapi tekanan ekonomi atau membutuhkan dukungan untuk mengatasi persoalan neraca pembayaran. Bentuk pembiayaan dan persyaratannya bergantung pada fasilitas yang digunakan serta program yang disepakati dengan IMF.

Dana tersebut bukan bantuan yang otomatis bebas dari kewajiban pembayaran. Negara penerima harus memenuhi ketentuan program dan melunasi kewajiban sesuai persyaratan fasilitas pinjaman masing-masing.

Dalam mengelola tekanan keuangan eksternal, pemerintah dapat menempuh berbagai kebijakan, seperti memperkuat penerimaan negara, meningkatkan daya saing ekspor, menjaga cadangan devisa, serta mengendalikan belanja. Namun, efektivitas langkah-langkah tersebut bergantung pada kondisi ekonomi, struktur utang, dan kebijakan yang diterapkan setiap negara.

Bagaimana Posisi Indonesia?

Indonesia tidak masuk dalam daftar 10 negara dengan saldo pinjaman IMF terbesar pada Oktober 2026. Data IMF yang menjadi rujukan pemeringkatan tersebut juga dapat digunakan untuk memeriksa apakah suatu negara masih memiliki saldo kredit yang belum dilunasi.

Penting membedakan dua hal: tidak masuk dalam daftar 10 besar tidak otomatis berarti suatu negara tidak memiliki pinjaman IMF aktif. Untuk menyatakan Indonesia tidak memiliki saldo pinjaman yang belum lunas, statusnya perlu diperiksa langsung pada data kredit IMF untuk tanggal pelaporan yang sama.

Tabel tersebut mencatat saldo kredit dalam SDR, sehingga pembaca perlu memperhatikan tanggal data dan satuan yang digunakan saat membandingkan nilai antarnegara.

Di kawasan Asia Tenggara, Myanmar juga tercatat memiliki saldo kredit IMF. Dalam data IMF per 31 Agustus 2026, saldo Myanmar tercatat sebesar 146,421 juta SDR. Nilai itu merupakan data dalam SDR, sehingga tidak bisa langsung dibandingkan dengan angka dolar AS tanpa konversi menggunakan kurs yang sesuai.

Saldo Pinjaman IMF Bukan Gambaran Utuh Kondisi Ekonomi

Besarnya saldo pinjaman IMF perlu dibaca bersama indikator ekonomi lain, seperti produk domestik bruto (PDB), kemampuan menghasilkan devisa, beban pembayaran utang, serta kondisi fiskal negara. Nominal pinjaman yang besar tidak dengan sendirinya menjelaskan seberapa berat beban yang ditanggung suatu perekonomian.

Visual Capitalist juga membandingkan saldo pinjaman dengan perkiraan PDB masing-masing negara. Dalam pemeringkatan itu, saldo pinjaman Argentina diperkirakan setara dengan 8,2% PDB, sedangkan Ukraina sekitar 6,4%. Perbandingan relatif ini memberi konteks tambahan selain melihat nominal pinjaman semata.

Dengan demikian, Argentina menempati posisi teratas dalam daftar saldo pinjaman IMF terbesar pada 2026, disusul Ukraina dan Pakistan. Untuk membaca posisi Indonesia secara akurat, status saldo pinjaman harus merujuk langsung pada data resmi IMF dengan tanggal pelaporan yang jelas, bukan semata-mata berdasarkan absennya nama Indonesia dari daftar 10 besar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online