Belanja Wisman di Indonesia Naik, Tembus Rp24,74 Juta per Kunjungan

Newswire
Newswire Senin, 02 November 2026 17:57 WIB
Belanja Wisman di Indonesia Naik, Tembus Rp24,74 Juta per Kunjungan

Ilustrasi, sejumlah wisatawan mancanegara menikmati suasana Pantai Double Six, Seminyak, Badung, Bali. Antara/Fikri Yusuf

Harianjogja.com, JAKARTA—Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara (wisman) selama berkunjung ke Indonesia mencapai US$1.374,48 atau sekitar Rp24,74 juta per kunjungan pada triwulan III/2026. Nilai belanja tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan rata-rata pengeluaran wisman pada triwulan II/2026 tercatat sebesar US$1.285 atau sekitar Rp23,13 juta per kunjungan. Sementara itu, pada triwulan III/2025, angkanya mencapai US$1.297,31 atau sekitar Rp23,35 juta.

Dengan perkembangan tersebut, rata-rata pengeluaran wisman pada triwulan III/2026 tumbuh 6,96% secara kuartalan atau quarter-to-quarter (QtQ). Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pengeluaran wisman meningkat 5,95% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Selain mencatat kenaikan belanja, BPS juga melaporkan rata-rata lama tinggal wisman di Indonesia mencapai 11,01 malam pada triwulan III/2026.

“Rata-rata lama tinggal wisman pada triwulan III di tahun 2026 yaitu selama 11,01 malam,” kata Ateng dalam Rilis BPS 2 November 2026 yang digelar daring pada Senin (2/11/2026).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata lama tinggal pada triwulan II/2026 yang mencapai 10,30 malam. Dibandingkan triwulan III/2025, ketika rata-rata lama tinggal tercatat 10,70 malam, durasi kunjungan wisman juga mengalami peningkatan.

Akomodasi Jadi Pengeluaran Terbesar Wisman
Berdasarkan jenis pengeluarannya, akomodasi menjadi komponen dengan alokasi belanja terbesar pada triwulan III/2026. Rata-rata pengeluaran untuk kebutuhan tersebut mencapai US$497,12 atau sekitar Rp8,95 juta per kunjungan.

Posisi berikutnya ditempati makanan dan minuman dengan pengeluaran US$271,33 atau sekitar Rp4,88 juta. Sementara itu, belanja dan pembelian cendera mata mencapai US$148,93 atau sekitar Rp2,68 juta per kunjungan.

Ateng menilai besarnya pengeluaran wisman untuk makanan dan minuman dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha, termasuk generasi muda, untuk mengembangkan bisnis di sektor tersebut.

“Ini potensi nih anak-anak muda, potensi untuk apa? membuka makanan-minuman ya, karena wisman terbesar kedua untuk makanan-minuman,” kata Ateng.

Selain tiga kebutuhan utama tersebut, pengeluaran wisman juga mencakup hiburan sebesar US$115,63 atau sekitar Rp2,08 juta. Selanjutnya, belanja untuk paket tur lokal mencapai US$79,37 atau sekitar Rp1,43 juta, sedangkan transportasi lokal sebesar US$77,26 atau sekitar Rp1,39 juta.

Ateng menambahkan hampir seluruh jenis pengeluaran wisman meningkat pada triwulan III/2026 dibandingkan triwulan sebelumnya. Pengecualian terjadi pada pengeluaran untuk sewa kendaraan serta kesehatan dan kecantikan yang masing-masing mengalami penurunan.

“Peningkatan pengeluaran tertinggi terjadi pada akomodasi dan makanan-minuman,” katanya.

Kunjungan Wisman ke Indonesia Capai 12,01 Juta
Di tengah peningkatan rata-rata pengeluaran dan lama tinggal, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada September 2026 justru mengalami penurunan secara bulanan.

BPS mencatat terdapat 1,43 juta kunjungan wisman pada September 2026. Angka tersebut turun 10,79% dibandingkan Agustus 2026, tetapi masih tumbuh 2,31% dibandingkan September 2025.

Jika dihitung secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman selama Januari-September 2026 mencapai 12,01 juta kunjungan. Capaian tersebut meningkat 5,01% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

BPS menyebut jumlah kunjungan tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode Januari-September sejak 2020. Sebagai pembanding, pada periode yang sama 2019, jumlah kunjungan wisman tercatat mencapai 12,10 juta.

Okupansi Hotel Berbintang Turun pada September
BPS juga mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi hotel berbintang di Indonesia sebesar 51,78% pada September 2026. Angka tersebut turun 0,74 poin persentase dibandingkan Agustus 2026, tetapi meningkat 1,62 poin persentase secara tahunan.

Ateng mengatakan tingkat okupansi hotel berbintang tertinggi tercatat di Bali, yakni sebesar 66,42%. Setelah itu, DKI Jakarta mencatat TPK sebesar 58,18%, disusul Papua Selatan sebesar 56,97%.

“TPK hotel untuk klasifikasi bintang tertinggi tercatat di Provinsi Bali, yaitu sebesar 66,42%, menyusul DKI Jakarta 58,18%, dan juga Papua Selatan, 56,97%,” kata Ateng.

Menurut Ateng, penurunan okupansi secara bulanan tidak terlepas dari berakhirnya periode puncak liburan sekolah dan libur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada Agustus 2026.

Selain faktor musiman, tingkat hunian hotel pada September juga dipengaruhi sejumlah kejadian, antara lain kabut asap, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta erupsi gunung berapi.

Meski demikian, penurunan okupansi tidak terjadi di seluruh wilayah. BPS mencatat sebanyak 22 provinsi justru mengalami peningkatan TPK hotel berbintang pada September 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online