SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
JIBI/Harian Jogja/antara
Harianjogja.com, JOGJA- Produktivitas bawang merah di DIY musim panen Oktober mendatang diperkirakan turun. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan pupuk yang berlebihan.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bantul Suroto mengatakan musim tanam kedua ini produktivitas bawang merah diperkirakan menurun. Penyebabnya bukan karena diserang penyakit tetapi akibat faktor lain. Turunnya produktivitas bawang merah musim panen mendatang disebabkan kesalahan prosedur pertanian.
"Tidak sedikit petani yang salah menggunakan pupuk. Gejala gagal panen sendiri mulai terlihat setelah petani menggunakan pupuk secara berlebihan," ujar Suroto kepada Harianjogja.com, Senin (11/8/2014).
Panen bawang merah sendiri, jelas Suroto, akan berlangsung sekitar awal Oktober mendatang. Di Bantul misalnya, sekitar 2.000 hektare petani menanam bawang merah. Dari jumlah tersebut, petak pertanian yang diperkirakan gagal panen berjumlah puluhan hektare.
"Padahal sebenarnya, kualitas bawang merah di DIY bagus. Cuma, karena banyak petani yang tidak sabar, mereka melakukan pemupukan pada musim tanam kedua ini secara berlebihan," tegasnya.
Meski diperkirakan mengalami penurunan, Suroto belum bisa memastikan jumlahnya. Namun dia mengatakan, untuk satu hektare tanaman bawang jika kondisi normal mampu menghasilkan antara 13-15 ton. Dengan produksi rata-rata mencapai 25.000 hingga 30.000 ton pertahun. Meski begitu, ongkos produksi untuk satu hektare tanaman bawang dinilai sangat mahal.
"Untuk satu hektare tanaman bawang biaya produksinya mencapai Rp70 juta. Ini didominasi oleh harga benih, pupuk dan tenaga kerja," jelasnya.
Kendati demikian, Suroto berharap, pemerintah tidak melakukan impor bawang merah akhir tahun ini. Hal itu dilakukan agar petani bawang mampu menikmati hasilnya. Suroto menyontohkan kondisi perdagangan bawang merah tahun lalu. Saat itu, harga pasaran mencapai antara Rp25.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Hal itu terjadi karena pemerintah tidak melakukan impor sementara produksi dalam negeri mencukupi.
"Kalau pemerintah impor, kami jelas merugi," kata Suroto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Pegadaian meraih empat KESGI Award 2026 atas kinerja ESG di sektor inklusi keuangan, meliputi pilar lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Maarten Paes disorot media Vietnam setelah Indonesia menahan Malaysia 0-0. Paes dinilai berperan penting saat Garuda bermain 10 pemain.
Cara cek BPJS Kesehatan nunggak atau tidak bisa dilakukan lewat Mobile JKN, PANDAWA, dan Care Center 165. Simak langkah lengkapnya.
SUV boxy makin populer di pasar global. Desainer Chery menilai desain mengotak bukan sekadar tren dan punya alasan fungsional.
Amri/Nita meraih medali perak Asian Games 2026 setelah kalah 19-21, 8-21 dari Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin di final.