Hasil 76 Indonesian Downhill 2026: Andy Gaspol, Junior Lebih Cepat!
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul berlangsung ekstrem. Andy juara tipis, kelas junior justru catat waktu tercepat.
JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha Pekerja menyelesaikan pembuatan meja dan kursi di Pasar Mebel Solo, Kamis (16/1). Total volume ekspor mebel mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Penurunan volume dan nilai ekspor diperkirakan akibat lesunya perekonomian dunia
Harianjogja.com, JOGJA—Menurunnya ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di kawasan Asia, tak membuat wilayah ini kehilangan peluang. DIY kini membidik Eropa, Afrika dan Amerika. Sebab peluang di sana terbuka lebar.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) DIY, Riyadi Ida Bagus mengatakan produk yang peluangnya besar adalah produk industri. Nilai ekspor dari Jogja pada awal 2014 ini tumbuh rata-rata 3% per bulan. Artinya, rata-rata volume mencapai 2,91 juta kilogram per bulan dan rata-rata nilai US$16,12 juta.
"Peluang pasar ekspor DIY masih menjanjikan, terutama di Amerika, Jerman, India. Tapi yang turun secara nasional Jepang dan China," ujar Riyadi di kantornya, Rabu (13/8/2014).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, jelas Riyadi, industri di DIY tumbuh dan berkembang. Hal itu menjadi peluang lebar agar ekspor produk-produk DIY terus mengalami peningkatan. Terutama perluasan pasar.
"Paling tinggi masih ke Amerika, kemudian Jerman. Kalau ekspor ke China angkanya kecil tidak sampai US$1 juta. Sehingga kalau [nilai ekspor ke] Tiongkok turun tidak berpengaruh. Berbeda jika Jerman turun," ujar Riyadi.
Menurut dia, nilai ekspor ke Jerman sekitar 50% nilai ekspor ke Amerika.
"Kalau ke Amerika US$36 juta, ke Jerman sekitar 18 juta USD. Sementara ekpor ke Asean juga relatif kecil. Tetapi, teman-teman sudah biasa melakukan kerjasama dengan negara-negara Asean. Produk mereka juga masuk ke Indonesia seperti makanan dan minuman," kata Riyadi.
Dia menambahkan, DIY masih bisa mendongkrak ekspor, khususnya produk kerajinan dan furniture. Untuk itu, katanya, pengusaha perlu membangun pasar tardisional di Afrika, China, Amerika Latin dan beberapa negara di Timur Tengah.
"Kami terus melakukan upaya untuk meningkatkan ini. Potensi pasar harus terus digenjot. Potensi pasar masih banyak di luar Asean. Baik produk tekstil, furnitur dan sarung tangan," jelas Riyadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul berlangsung ekstrem. Andy juara tipis, kelas junior justru catat waktu tercepat.
Daftar mobil listrik murah 2026 di Jogja mulai Rp100 jutaan, cocok untuk mobilitas harian dan hemat biaya BBM
Lima pendaki tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Maros. Satu orang meninggal dunia dan empat lainnya selamat.
Pemkab Sleman bekerja sama dengan 34 perguruan tinggi DIY untuk memperluas akses pendidikan melalui Beasiswa Sleman Pintar 2026.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp81.300 per kg berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia, Senin (25/5/2026)
Kemenkes mencatat 1.443 kasus pemasungan penderita skizofrenia hingga triwulan I 2026 dan mendorong penguatan layanan jiwa