Usaha yang dirintis sejak 21 April lalu, kini berbuah manis bagi beberapa ibu rumah tangga di Dusun Cekel, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari. Mereka kini menjadi perempuan dengan penghasilan yang lumayan. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga pun, wanita-wanita ini tak tergantung penuh dengan suami. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Kusnul Isti Qomah.
Sebelumnya, tak pernah terpikirkan sedikit pun di pikiran Rundiyah, 30, untuk mengakhiri pekerjaannya sebagai buruh mencuci baju tetangga. Namun, kini ia mendapatkan penghasilan dari sumber lain yang ia klaim lebih bisa memberi banyak ilmu.
Bersama lima rekannya, yakni Suyatmi, Suyatilah, Marsiti, Sujikem, dan Sumiyati, ia membentuk kelompok pembuat makanan keripik pisang. Makanan itu pun mereka beri merek Kriuk Gedhang Kartini. Usaha yang dirintis bersama itu, mampu memberikan penghasilan yang lumayan.
Ketika awal berdiri, sekali produksi hanya menghasilkan laba Rp40.000 dari modal usaha Rp80.000. Kini, laba mereka sekali produksi pun berlipat ganda. Sekali produksi dengan modal yang sama, mereka mampu menghasilkan Rp150.000.
Setiap bulan, ada empat kali produksi. Warung langganan yang minta disetori pun semakin banyak. Dari awalnya lima warung, kini menjadi 11 warung.
“Alat yang digunakan semakin lengkap. Kami punya pengasah pisang yang bisa menghasilkan lebih banyak. Selain itu, wajannya juga lebih besar sehingga bisa memasak lebih banyak,” ujar dia sembari menggoreng keripik pisang, Kamis (9/10/2014).
Kini, Rundiyah harus berjuang dengan kedua rekannya yakni Suyatmi, 43, dan Sujikem, 41. Anggota lainnya bukannya berhenti atau pun kapok. Namun, mereka memulai usaha sendiri.
Rundiyah pun senang bisa menambah pengalaman. Ia memantapkan diri untuk melepaskan pekerjaan semula sebagai buruh mencuci. Meski pun sama-sama menghasilkan Rp200.000 setiap bulan, namun pengalaman dari menjual Kriuk Gedhang lebih banyak.
“Saya jadi belajar bagaimana cara pemasaran, mempertahankan kualitas, dan rasa ingin maju semakin tumbuh dalam diri saya,” ujar dia.
Hal serupa diakui Suyatmi. Kesibukannya membuat Kriuk Gedhang, mampu memberikan hiburan di sela-sela aktivitasnya menjadi petani.
Ia pun senang ketika teman-temannya mulai mandiri membuat usaha panganan. Ia justru memotivasi ibu rumah tangga lain untuk mengembangkan diri.
“Kami tidak takut saingan karena kami senang jika masyarakat di Dusun Cekel ini maju,” ujar dia.
Ia mengakui usaha mereka ini bukannya tanpa kendala. Tidak ada yang bisa menaiki sepeda motor di antara ketiga ibu rumah tangga ini. Alhasil, mereka harus menunggu anak dari Suyatmi pulang kuliah dari Jogja setiap minggu untuk mendistribusikan dagangan.
“Tapi, kami pantang menyerah,” imbuh dia.
Kualitas makanan pun terus mereka jaga. Mereka tidak mau menggunakan minyak goreng curah. Mereka juga menggoreng pisang dua kali agar minyak tidak cepat hitam. Mereka juga melihat perkembangan permintaan di pasar.
“Saat ini, kami mulai merambah keripik ketela. Kami lihat, keripik yang mana yang paling laku di warung-warung yang kami setori. Nanti, jumlah setoran akan kami sesuaikan dengan permintaan pasar,” imbuh dia.
Namun, ada satu hal yang membuat mereka geram. Mereka tidak senang jika ada oknum yang ingin menggunakan nama mereka begitu mereka sukses. Padahal, oknum tersebut tidak mendampingi kelompok sejak awal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: