EKSPOR DIY : Pakaian Jadi Non-Rajutan Komoditas Utama

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jum'at, 06 Februari 2015 02:20 WIB
EKSPOR DIY : Pakaian Jadi Non-Rajutan Komoditas Utama

Ilustrasi aktivitas ekspor melalui pelabuhan (JIBI/Bisnis Indonesia/Andi Rambe)

Ekspor DIY berupa pakaian jadi non-rajutan tengah menjadi primadona.

Harianjogja.com, JOGJA- Nilai Ekspor barang asal DIY melalui beberapa pelabuhan di Indonesia pada Desember 2014 sebesar US$32.7 juta atau naik sebesar 21,88% dibanding bulan sebelumnya (US$26.8 juta). Dibandingkan Desember 2013 tercatat ada kenaikan 0,94% atau senilai US$32.4 juta.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto, tiga dari 10 besar negara utama tujuan ekspor barang selama Desember 2014 dari DIY masih dipegang Amerika Serikat, Jerman dan Jepang. Total nilai ekspor Amerika Serikat mencapai US$14.1 juta (43,25%), Jerman dengan total nilai US$4.4 juta (13,54%) dan Jepang dengan total nilai US$ 2.3 (7,06%). Meski begitu, perkembangan nilai ekspor terbesar justru untuk tujuan Belgia. Pada Desember 2014, eksport ke Belgia naik sebesar 81,17% dibandingkan November 2014.

"Kalau dibandingkan Desember 2013 (yoy), untuk ekspor ke Belgia terjadi peningkatan sebesar 73,93 persen," kata Bambang di kantornya, Senin lalu.

Bambang mengatakan pakaian jadi bukan rajutan, perabot, penerangan rumah dan barang-barang rajutan, merupakan tiga kelompok komoditas utama dengan nilai ekspor tertinggi. Jika pakaian jadi bukan rajutan mencapai 44,43%, maka untuk perabot, penerangan rumah mencapai 12,85% sementara barang-barang rajutan 11,72%. "Adapun komoditas terbesar untuk ekspor adalah jangat dan kulit mentah yang meningkat sebesar 150,20 persen. Kalau dibandingkan Desember 2013 (yoy) komoditas ini juga mengalami peningkatan sebesar 107,47 persen," jelas Bambang.

Ditambahkan Ketua III Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY Arief Budi Santoso, sembilan dari 10 komoditas utama ekspor DIY mengalami kenaikan. Tiga komoditas dengan kenaikan terbesar meliputi jangat dan kulit mentah sebesar 150,20%, bulu unggas (101,80%) dan Perabot, penerangan rumah (40,47%).

"Tapi, komoditas utama masih dipegang oleh produk pakaian jadi bukan rajutan, perabot penerangan rumah dan barang-barang rajutan. Sementara, nilai ekspor terendah sebesar 1,59% itu komoditas bahan kimia organik," tambah Arief.

Menurutnya, persoalan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) masih belum memengaruhi ekspor DIY akhir tahun lalu. Pasalnya, sebesar 37,61% komoditas kayu, barang dari kayu dikirim ke Jerman.

"Kalau awal Januari ini ekspor komoditas tersebut sempat dipersoalkan karena tidak dilengkapi SVLK, itu secara teknik hanya tertunda saja pengirimannya. Kalau tidak masuk data ekspor pada Januari, bisa masuk data Februari," tutup Arief.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online