RS PKU Muhammadiyah Jogja Gelar Simulasi Kebakaran, Ini Tujuannya
RS PKU Muhammadiyah Jogja menggelar simulasi penanganan krisis kesehatan dampak kebakaran. Latihan melibatkan Damkar, BPBD DIY, dan MDMC.
Kuliner Jogja berupa pengolahan biji coklat cukup prospektif di Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Industri makanan berupa coklat batangan semakin di lirik dan mendapatkan
tempat di hati masyarakat. Omzet penjualan coklat bisa mencapai Rp60 juta per bulan.
Pemilik perusahaan Coklat Joyo Reni Sukmasari mengungkapkan, bisnis makanan berupa coklat
memiliki prospek yang baik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurutnya, coklat bisa menjadi ciri
khas DIY selain geplak, bakpia, dan makanan lainnya. Peminat coklat juga semakin banyak dilihat dari
banyaknya permintaan pasar.
“Setiap hari, kami bisa menjual 150 hingga 200 batang coklat. Harganya rata-rata Rp10.000,” ungkap
dia kepada Harianjogja.com ketika ditemui di Coklat Joyo, Jl. Hos Cokroaminoto beberapa waktu lalu.
Mantan pramugrari tersebut mengatakan, karena DIY merupakan daerah tujuan wisata, permintaan
oleh-oleh berupa coklat terus bertambah sejak Coklat Joyo berdiri Agustus 2013 lalu. Saat ini, dalam
sehari, ia bisa memproduksi 20 kilogram coklat.
Untuk memulai usaha ini, penggemar coklat ini mengaku membutuhkan modal sebesar Rp70 juta.
Pengusaha coklat yang sudah ada menjadi tantangan tersendiri untuk mendapatkan awarness dari
masyarakat. Berbagai usaha promosi pun dilakukan untuk mendapatkan pelanggan termasuk melalui
media online.
“Harus berani, harus niat, dan memiliki wawasan luas. Untuk itu saya juga belajar di sekolah coklat di
Jakarta. Sekarang, saya sudah punya lima outlet,” ungkap dia.
Coklat Joyo mengunggulkan produknya dengan 13 varian rasa. Di antaranya, rasa jahe, cengkih,
kayu manis, coklat pedas, dan coklat meletus yang dikombinasi dengan permen. Menurutnya,
masyarakat di DIY menyukai coklat dengan rasa manis sehingga produk dari Coklat Joyo dibuat lebih
manis.
“Kami juga mengemas coklat ini dengan nuansa DIY. Produk yang paling laku adalah Jogja Banget di
mana ada informasi mengenai DIY di dalam bungkusnya,” ujar dia.
Ia mengakui, masih mengambil bahan baku berupa coklat blok dari Jakarta meskipun beberapa daerah
di DIY merupakan penghasil coklat. Alasannya, di DIY belum ada pengolahan coklat.
Salah satu wilayah penghasil kakao di DIY adalah Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten
Gunungkidul. Penasihat Kelompok Tani Kakao Ngudi Mulyo Desa Nglegi Sarwono mengatakan, hasil
yang diperoleh petani saat ini masih di bawah satu kilogram.
Rata-rata, lanjut dia, setiap pohon baru menghasilkan buah 0,6 kilogram. Hasil panen biasanya dijual
dalam bentuk buah kakao.
“Lahan yang ditanami kakao mencapai 10 hektare. Itu milik 91 petani. Ada sekitar 10.000 pohon kakao
yang ditanam,” ungkap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RS PKU Muhammadiyah Jogja menggelar simulasi penanganan krisis kesehatan dampak kebakaran. Latihan melibatkan Damkar, BPBD DIY, dan MDMC.
Jadwal KRL Palur-Jogja Jumat 21 Agustus 2026 lengkap dari Palur hingga Stasiun Jogja, termasuk waktu di setiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 21 Agustus 2026 lengkap dari Jogja hingga Palur, termasuk waktu keberangkatan di tiap stasiun.
MW Passato karya modifikator Indonesia akan tampil di SEMA Show 2026, Las Vegas, membawa karya aftermarket Tanah Air ke panggung global.
Hyundai Tucson 2027 resmi diperkenalkan dengan desain Art of Steel, dimensi lebih besar, kabin Pleos, dan varian XRT.
Perubahan status sejumlah jalan di Kulonprogo menjadi jalan lingkungan membuat sumber pembiayaan lebih fleksibel, dari APBD hingga APBKal.