EKSPOR DIY : Pasar Jerman dan Hong Kong Jadi Incaran

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Sabtu, 06 Juni 2015 00:20 WIB
EKSPOR DIY : Pasar Jerman dan Hong Kong Jadi Incaran

Ekspor DIY saat ini menyasar ke Jerman dan Hong Kong.

Harianjogja.com, JOGJA-Pemerintah DIY mengincar pasar ekspor ke dua negara yakni Jerman dan Hongkong.

Kepala Seksi Pengembangan Ekspor Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop) DIY Minorita menjelaskan, negara tujuan utama ekspor DIY adalah Amerika Serikat. Namun, menurutnya, negara seperti Jerman dan Hongkong menunjukkan perkembangan yang baik setidaknya selama dua tahun belakangan ini.

“Kami menargetkan peningkatan ekspor ke kedua negara tersebut bisa diwujudkan tahun depan [2016],” ungkap dia kepada Harianjogja.com, Rabu (3/6/2015).

Untuk mendukung rencana tersebut, Disperindagkop DIY memfasilitasi perusahaan-perusahaan di DIY agar bisa menembus pasar ekspor. Salah satunya dengan ikut menggelar pameran di luar negeri. Namun, realisasinya akan disesuaikan dengan anggaran yang disediakan.

Ia mengakui, selain persoalan dana, rencana tersebut terkendala jadwal pameran yang ada di Jerman yang biasanya digelar pada awal tahun. Sementara, pada awal tahun anggaran yang bisa digunakan belum turun.

“Inginnya bisa ikut banyak pameran, namun lihat nanti anggaran yang diberikan berapa,” imbuh dia.

Ia berharap, besaran dana yang diajukan untuk tahun anggaran yang baru disetujui. Namun, ia enggan menjelaskan secara terperinci berapa dana yang diajukan. “Kalau sudah disetujui besarannya berapa, nanti akan saya beritahu,” ujar dia.

Minorita mengungkapkan, komoditas yang paling digemari di pasar internasional adalah furniture dan dekorasi. Ia juga menyebutkan ada kecenderungan kenaikan nilai ekspor. Ia mengakui, data yang ada di Disperindagkop berbeda dengan data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY karena berbeda sumber.

“Data yang kami miliki berdasarkan surat keterangan asal [SKA] perusahaan ekspor,” imbuh dia.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIY Endro Wardoyo, Jerman dan Hongkong merupakan negara dengan keahlian marketing. Event yang diselenggarakan di kedua negara tersebut menjadi referensi seluruh dunia. Jerman menjadi kiblat Eropa Barat dan Eropa Timur, sedangkan Hongkong untuk acuan Asia.

“Misalnya pameran. Di sana didukung infrastruktur dan promosi yang baik sehingga banyak negara ingin promosi melalui kedua negara itu,” imbuh dia.

Namun, menurutnya, yang menjadi kendala saat ini adalah lesunya ekspor. Bahkan, untuk negara seperti Amerika Serikat pun melakukan penundaan pembelian. Endro mengakui, ada beberapa kliennya di Amerika Serikat menunda pembelian dengan alasan daya beli menurun.

“Padahal, mata uang mereka dollar. Tapi, rupanya juga terdampak kontraksi ekonomi ini,” ujar dia.

Sementara, data dari BPS menunjukkan ada penurunan ekspor pada April 2015. Kepala BPS DIY Bambang Kristianto mengungkapkan, dibandingkan nilai ekspor Maret 2015, nilai ekspor turun 0,28% atau senilai US$29,08 juta. Jerman, merupakan salah satu daerah tujuan utama ekspor DIY setelah Amerika Serikat. Selama April 2015 tercatat nilai ekspor ke Jerman sebesar US$3,35 juta.

“Jika dibandingkan Maret 2015, nilai ekspor DIY ke Jerman mengalami penurunan sebesar 13,90%,” imbuh dia.

Sementara, meskipun pasar Tiongkok ada di urutan ke sembilan dari 10 besar negara tujuan ekspor, namun grafiknya menunjukkan peningkatan dari Maret 2015 ke April 2015 sebesar 91,24%. Nilai ekspor ke Tiongkok pada Maret 2015 senilai US$403.972 sedangkan pada April 2015 sebesar US$772.555.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis