UANG PALSU : Waspadai Peredaran Upal

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Minggu, 28 Juni 2015 09:20 WIB
UANG PALSU : Waspadai Peredaran Upal

Gigih M. Hanafi/Harian JOgja Barang bukti uang palsu beserta empat dari lima tersangka kasus penipuan berhasil ditangkap polisi di Polresta Jogja, Jumat (26/7). Kasus penipuan yang dibongkar Polisi tersebut dilakukan dengan modus pencairan dana segar hingga milyaran rupiah dengan barang bukti uang mainan sebanyak 1 milyar ruiah serta lima tersangka buronan seorsng pencetak uang.

Uang palsu diduga beredar dalam penukaran uang pecahan.

Harianjogja.com, JOGJA- Kantor Perwakilan Bank Indonesia wilayah DIY mengingatkan agar masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu dalam proses transaksi apapun. Untuk menghindari uang palsu dalam penukaran uang selama mendekati lebaran, masyarakat dihimbau untuk menukarkan uangnya di tempat resmi.

Asisten Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY, Hilman Tisnawan mengatakan, meski belum menemukan indikasi peningkatan peredaran uang palsu selama puasa ini, pihaknya berharap masyarakat lebih cermat mengenali keaslian uang.

"Jumlah temuan uang palsu di lapangan bervariatif dan fluktuatif.? Jumlah yang kami temukan Setiap bulan tidak sama, naik turun," ujar Hilman, Sabtu (27/6/2015).

Namun, lanjutnya, rata-rata jumlah uang yang tercatat BI mencapai 200-300 lembar per bulan. Uang palsu yang ditemukan didominasi oleh pecahan 100.000 dan 50.000.

"Data kami menunjukkan peredarannya masih biasa di bulan puasa ini. Karena sifatnya memang fluktuatif. Untuk itu, kami berharap masyarakat berhati-hati terhadap peredaran uang palsu ini," kata Hilman.
?
Total uang palsu yang beredar di DIY selama periode Januari-Juni 2015, sambung Hilman, mencapai 1439 lembar. Sekitar 70% berupa pecahan 100 ribu. Karena bukan termasuk alat pembayaran yang sah, Hilman enggan menyebut nilai total nominal uang palsu yang dilaporkan tersebut.

"Kami menemukan yang palsu ini paling banyak di daerah perbatasan. Semisal daerah Wonosari, Gunungkidul. Ini berdasarkan lokasi bank-bank yang melaporkan temuan uang palsu tersebut yang memang berada di perbatasan antara DIY dan provisi lain," terang Hilman.

Dia menambahkan, umumnya uang palsu itu ditemukan dari kalangan pedagang kecil berupa uang pecahan. Pihaknya akan terus mengimbau masyarakat untuk waspada dan lebih teliti terhadap keaslian uang yang diterima.

"Untuk memastikan yang tersebut palsu atau tidak, cara paling sederhana tentu dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Kami juga terus menggelar sosialisasi setiap kali mengadakan operasi pasar," tukas Hilma?n.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online