KURS RUPIAH : Masih Lemah, Pengusaha Mi Basah Terancam Gulung Tikar

Arief Junianto
Arief Junianto Kamis, 01 Oktober 2015 05:20 WIB
KURS RUPIAH : Masih Lemah, Pengusaha Mi Basah Terancam Gulung Tikar

Kurs rupiah mempengaruhi stabilitas pengusaha mi

Harianjogja.com, BANTUL-Dampak melemahnya mata uang rupiah kian dirasakan oleh sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satunya adalah pengusaha mi basah. Harga bahan baku yang mengalami lonjakan hingga 25% dikhawatirkan akan membuat satu per satu UMKM produsen mi basah itu akan gulung tikar.

Salah satu pengusaha mi basah asal Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Waljito mengakui, hingga saat ini pihaknya memang masih menghabiskan stok bahan baku yang dibelinya sebelum mengalami kenaikan harga. Akan tetapi persediaan stok itu diperkirakannya akan habis sekitar 1-2 bulan ke depan.

Tak hanya itu, kondisinya kian terjepit lantaran sebagian besar pengusaha tak mungkin akan menaikkan harga jual. Pasalnya ia menyadari, daya beli masyarakat kini juga turut melemah.

“Kami khawatir kalau harga jual kami naikan, malah tidak laku,” keluhnya.

Itulah sebabnya, jika melemahnya mata uang rupiah ini tak segera disikapi oleh pemerintah, bbukan tidak mungkin pihaknya akan mengalami kerugian yang besar. Bahkan, bukan tidak mungkin pula beberapa pengusaha mi basah yang berada di naungan paguyuban Atmi Jaya, satu per satu pun akan gulung tikar.

Saat dihubungi, Rabu (30/9/2015), pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Atmi Jaya DIY-Jateng itu menjelaskan, produksi mie basah yang dihasilkannya selama ini terbilang cukup tinggi. Diakuinya, dalam sehari, ia bisa menghasilkan 1,5 ton mi basah. Akan tetapi, lantaran mi produksinya tak bisa bertahan lama, pihaknya pun hanya memproduksi mi tersebut berdasarkan pesanan saja.

Ia berharap, pemerintah bisa segera mengambil tindakan agar para pengusaha mikro ini tak gulung tikar. Salah satunya adalah dengan mensubsidi tepung terigu sebagai bahan baku mie tersebut. Pasalnya, selama ini para pengusaha masih mendatangkan tepung terigu secara impor dari Australia.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Penanaman Modal (Disperindagkop-PM) Bantul Sulistyanta mengakui, pelemahan mata uang rupiah itu memang bisa mengakibatkan industri kecil dan menengah kian tercekik. Terlebih jika industri itu masih mengandalkan bahan baku impor.

Diakuinya, di Bantul tercatat lebih dari 18.000 UMKM yang melibatkan 99.000 pekerja. Sebanyak 40% diantaranya atau sekitar 7.200 UMKM menggunakan bahan impor untuk produksi komoditas. Baik dalam porsi besar maupun kecil.

Untuk itu, pihak Pemkab Bantul diakuinya tak bisa berbuat banyak. Beberapa cara yang mungkin bisa dilakukannya adalah dengan mengurangi beban biaya perizinan ribuan UMUKM tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online