Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
UMKM perlu menggali penggunaan bahan lokal untuk produk kekinian dalam usaha ekonomi kreatif.
Harianjogja.com, JOGJA-- Produk dari usaha mikro, kecil dan menengah diharapkan dapat lebih mengeksplorasi atau menggali penggunaan bahan pangan lokal untuk produk kekinian. Hal itu tidak saja akan memberikan potensi bisnis yang bagus, tetapi juga dapat meningkatkan nilai tambah pangan lokal.
"Justru mestinya UMKM [Usaha Mikro Kecil Menengah] yang bergerak di bisnis makanan ini bisa lebih menggali bahan lokal. Jangan melulu ikut tren, misal lagi tren kopi, lalu semua ikut buat produk kopi," ujar Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fajar Hutomo, Minggu (1/10/2017).
Fajar yang ditemui di Pameran Food Startup Indonesia di Plaza Ambarrukmo mengatakan Indonesia kaya akan bahan pangan lokal. Semestinya, kata dia, itu dapat digali lebih luas dan lebih dalam lagi untuk menghasilkan produk yang punya nilai jual.
Pasalnya, selama ini kebanyakan UMKM di Indonesia masih mengikuti arus tren pada produk tertentu. Padahal banyak bahan yang dapat diolah dan dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai jual tinggi. "Tujuan ekonomi kreatif itu sendiri adalah bagaimana membawa nilai-nilai tradisi itu dengan cara-cara kekinian. Tentunya dengan cara yang bisa diterima oleh orang sekarang," jelas Fajar.
Lebih lanjut Fajar menegaskan selain kreativitas produk yang ditampilkan, kesuksesan dari suatu food startup itu pada founder atau orangnya. Kualitas founder dari produk tersebut akan menentukan penerimaan pasar terhadap produk yang dibuat.
Terlebih, kini tantangan bisnis ini semakin dinamis seiring waktu. Fajar menambahkan diperlukan founder atau pelaku food startup yang memiliki mental baja dan tidak mudah menyerah dalam mengembangkan produknya.
"Selain itu, kami juga ingin mendorong dan menciptakan ekosistem permodalannya. Kalau bicara soal modal bagi startup, memang kebanyakan mereka belum bankable. Tetapi bukan salah perbankan juga, untuk itu kami ingin memperbanyak opsi lain untuk permodalan startup ini selain dari bank," paparnya.
Salah satu peserta Food Startup Indonesia, Andi Ferdana mengakui permodalan sudah tidak lagi menjadi persoalan bagi pengembangan usahanya. Apalagi dalam menciptakan inovasi kemasan untuk memperkuat pemasaran produk sirup jahe yang diproduksinya.
"Kalau dulu, modal masih dari kantong sendiri. Karena takut berhutang, jadi lebih memilih untuk memutar uang dari hasil penjualan. Baru sekarang ini akses modal jadi mudah dengan program-program pendampingan, bunganya juga ringan," imbuh Andi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Ratusan warga Parangjoro Sukoharjo menggelar doa bersama terkait polemik izin warung kuliner nonhalal di Dusun Sudimoro.
Veda Ega Pratama gagal lolos Q2 Moto3 Catalunya 2026 dan akan memulai balapan dari posisi ke-21 di Barcelona.
Akses parkir bus Abu Bakar Ali II Jogja diatur satu arah. Bus wisata wajib memutar lewat Stadion Kridosono menuju Malioboro.
Presiden Prabowo menyebut sejumlah negara kini meminta membeli beras dari Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global.
Pendaki asal Riau patah tulang saat mendaki Gunung Rinjani. Tim TNGR dan EMHC lakukan evakuasi di jalur Pelawangan Sembalun.