KRL Jogja-Solo Beroperasi 2 Tahun Lagi

Rheisnayu Cyntara & Sunartono
Rheisnayu Cyntara & Sunartono Rabu, 04 April 2018 10:25 WIB
KRL Jogja-Solo Beroperasi 2 Tahun Lagi

Penumpang Prameks di Solo./JIBI-Solopos

Harianjogja.com, JOGJA—Proyek Kereta Rel Listrik (KRL) Jogja-Solo senilai Rp1 triliun akan dimulai tahun ini dan bisa dimanfaatkan khalayak dua tahun lagi.

Kereta itu akan menggantikan Prameks yang sudah kewalahan melayani lebih dari 16.000 penumpang saban hari. Ribuan tiang beton listrik aliran atas (LAA) untuk proyek KRL disimpan di Stasiun Jebres, Solo, sejak setahun lalu.

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops VI Jogja Eko Budiyanto menyatakan proyek ini sudah dicetuskan sejak 2014 oleh Dirut PT. KAI kala itu, Ignasius Jonan. Saat itu Jonan mengatakan operasional KRL tinggal menunggu elektrifikasi. Pada 2015, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengadakan lelang pengadaan tiang beton LAA senilai Rp21,7 miliar. Setelah itu, proyek KRL mandek selama dua tahun.

Sementara, menurut Eko, setiap hari banyak penumpang kereta api (KA), yaitu Prameks rute Jogja-Solo, Solo-Jogja, dan Jogja-Kutoarjo yang tidak terangkut. Eko menghitung ada sekitar 16.000 penumpang Prameks saban hari, padahal jumlah komuter dari Jogja maupun Solo lebih dari itu. "Kami [PT. KAI] sering diprotes penumpang,” ujar dia kepada Harian Jogja, Selasa (3/4).

PT. KAI sudah mempertimbangkan untuk menambah jumlah perjalanan dari 21 menjadi 24 atau 25 dalam sehari. Namun alternatif tersebut dianggap tak mampu menyelesaikan masalah. Jika perjalanan Prameks ditambah, penumpang juga akan bertambah.

Mau tidak mau langkah yang bisa diambil untuk saat ini hanya pembatasan jumlah penumpang. Penumpang yang berdiri hanya diperbolehkan sebanyak 50% penumpang yang duduk. Solusi paling mujarab akan tingginya jumlah penumpang kereta Jogja-Solo adalah proyek KRL.

“Masalahnya jalan raya sudah jumud. Pakai kendaraan pribadi macet, parkirnya susah. Jadi kalau masyarakat meminta KRL segera ada di sini [Jogja-Solo] itu merupakan hal yang wajar karena itu sudah jadi kebutuhan,” ucap dia.

Jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan, permasalahan-permasalahan baru akan terus bermunculan. Ia mencontohkan larangan pembelian tiket Prameks lewat daring malah dimanfaatkan calo yang menjualnya dengan harga di atas harga resmi, yakni Rp8.000. Penumpang yang butuh mau tak mau akhirnya membeli tiket tersebut.

Eko mengatakan jalur KRL bisa menggunakan jalur yang sama dengan Prameks. Jika kelak KRL beroperasi dalam 21 perjalanan (sama seperti Prameks), dalam sehari ada sekitar 21.000 penumpang yang terangkut.

Musababnya, desain tempat duduk KRL yang berbanjar mampu mengangkut penumpang lebih banyak daripada Prameks jenis kereta rel diesel elektrik (KRDE) yang dibatasi 800 penumpang dan kereta rel diesel Indonesia (KRDI) sebanyak 500 penumpang.

Keuntungan lainnya, waktu tempuh yang bakal makin singkat. KRL hanya butuh waktu 40 menit untuk sampai ke tujuan, sedangkan Prameks menghabiskan waktu hingga 60 menit. Itu karena setiap sehabis berhenti, KRL dapat melaju dengan kecepatan maksimal. Berbeda dengan Prameks yang harus menambah kecepatan sedikit demi sedikit. Selain itu, desain KRL yang lebih baik dari Prameks diklaim dapat menambah laju kereta.

“Tidak polusi juga karena pakai listrik,” kata dia.

Eko memperkirakan jika proyek KRL bisa dimulai pada 2018 ini, awal 2020 bisa jadi proyek tersebut sudah selesai.  Para pelaju Jogja-Solo pun bisa bernapas lega.

“Tidak perlu lagi berebut tiket dan berdesak-desakan di dalam kereta,” kata dia.

KRL Jogja-Solo kemungkinan bakal menerapkan sistem pelayanan yang sama dengan KRL Jabodetabek yang dioperatori PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), anak perusahaan PT KAI.Teknologi, sistem tiket dengan e-ticket atau tiket harian berjaminan (THB), hingga penataan peron kemungkinan akan meniru KRL Jabodetabek.


Sangat Dibutuhkan
Tingginya minat pelaju Jogja-Solo maupun sebaliknya menggunakan Prameks menyebabkan banyak orang sering kehabisan tiket. Siti Rohmana adalah salah satu pelanggan setia Prameks.

Sejak duduk di bangku kuliah pada 2012 lalu, ia rutin bolak-balik Jogja-Klaten setiap akhir pekan. Awalnya, ia tidak menemukan kesulitan untuk mendapatkan tiket. Namun makin lama penumpang Prameks bertambah sehingga meski dia telah mengantre sejak tiga jam sebelum keberangkatan ia pun seringkali tidak berhasil mendapatkan tiket.

“Padahal sudah antre satu jam,” ucap dia.

Rohmana juga menganggap jadwal keberangkatan Prameks tidak efektif. Jarak antara keberangkatan satu dan lainnya cukup jauh. Penumpang pun harus menunggu lama untuk dapat berangkat.

Sejak kesulitan mendapatkan tiket Prameks, ia akhirnya lebih sering naik bus jurusan Jogja-Solo. Meskipun berdesak-desakan, ia pasti bisa pulang ke Klaten sesuai jadwal. Kadangkala ia juga terpaksa naik sepeda motor.

Rohmana menyambut proyek KRL Jogja-Solo dengan antusias. Ia mengharapkan dengan adanya KRL, para komuter seperti dirinya dapat kembali menggunakan kereta.
“Saya lebih memilih desak-desakan di kereta daripada bus. Sebab waktu tempuh kereta lebih jelas. Kalau bus kadang molor karena macet atau ngetem.

Anggota Dewan Peneliti Pustral UGM Arif Wismadi mengatakan Kementerian Perhubungan harus benar-benar siap kerena penggunaan KRL membutuhkan banyak energi listrik. Persoalan lain adalah dampak yang ditimbulkan perjalanan kereta api.

Penambahan frekuensi perjalanan kereta Jogja-Solo akan makin memacetkan jalan raya yang melewati perlintasan sebidang. Dia meminta pemerintah mengurangi perlintasan sebidang sebelum PT KAI mengoperasikan KRL. Cara yang bisa ditempuh adalah membuat underpass atau flyover menyesuaikan dengan kondisi jalan.

Perlintasan sebidang harus diselesaikan dulu jika frekuensi perjalanan kereta api akan ditambah,” kata dia.



 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online