Ilustrasi pembangunan hotel/JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Pada 2018-2019 ini diprediksi tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Jogja akan naik minimal sebanyak 15%. Tahun politik dianggap dapat mengerek TPK tersebut, terutama yang berhubungan langsung dengan sektor MICE.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua PHRI Jogja Istidjab Danunagoro. Menurutnya tahun politik dengan agenda besar pileg, pilkada, maupun pilpres akan dapat mendongkrak TPK. Sebab akan banyak agenda-agenda politik yang menyasar hotel sebagai tempat perhelatan acara tersebut. Belum lagi safari-safari politik yang akan dilakukan oleh para calon yang berlaga.
Selain itu, menurut Istidjab, moratorium pembangunan hotel yang diperpanjang hingga akhir 2018 juga punya andil dalam meningkatkan TPK. Sebab jumlah hotel dan ketersediaan kamar yang ajek akan menaikkan TPK pada hotel-hotel yang sudah ada saat ini. “Tamunya kan bertambah tapi hotel dan kamarnya tidak. Jadi bisa naik,” ucapnya kepada Harian Jogja, Jumat (6/4/2018).
Tak hanya itu saja, proyek besar New Yogyakarta International Airport (NYIA) juga digadang-gadang mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan ke Jogj. Istidjab menyebut selama ini dengan bandara yang ada, belum banyak wisatawan yang tinggal lama di Jogja. Pasalnya penerbangan yang ada masih penerbangan sambung, bukan langsung (direct flight). Sehingga wisatawan pun belum menjadikan Jogja tujuan utama destinasi wisatanya. Maka, ia memprediksi jika NYIA sudah aktif beroperasi akan ada penambahan jumlah wisatawan yang juga bakal berpengaruh pada TPK hotel di Jogja.
“Target wisman tahun ini kan 600.000, tahun depan 800.000u. Tapi tahun lalu kita baru bisa 350.000. Kalau bandara sudah beroperasi, saya rasa akan meningkat banyak. Apalagi wisman Korea, Jepang, Taiwan yang biasanya one day trip akan mempertimbangkan untuk menginap,” tuturnya.
Sebagaimana diketahui, TPK hotel bintang di DIY rata-rata mengalami kenaikan dari 52,94% menjadi 54,09% pada Februari lalu seperti yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) DIY. Kenaikan tersebut salah satunya didorong adanya libur panjang akhir pekan, seperti yang juga terjadi pada Maret lalu. Kepala BPS DIY, JB Priyono mengungkapkan pada Februari lalu, hotel nonbintang juga mengalami kenaikan TPK menjadi 26,23%. Namun sayangnya lama menginap tamu pada Februari mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan jika dibandingkan dengan kondisi setahun yang lalu, TPK hotel nonbintang atau usaha akomodasi lainnya menurun sebesar 0,47 poin. “Lama menginap tamu di Jogja masih relatif rendah. Selama Februari, rata-rata lama menginap tamu hanya 1,64 malam, turun 0,05 poin dibandingkan sebelumnya yang bisa mencapai hampir dua malam, yakni 1,99 malam,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.