Bisnis Organik Karung Goni Ala Gunagoni

Rheisnayu Cyntara
Rheisnayu Cyntara Sabtu, 07 April 2018 18:30 WIB
 Bisnis Organik Karung Goni Ala Gunagoni

Andreas Bimo Wijoseno dan produk Gunagoni./Harian Jogja-Rheisnayu Cyntara

Harianjogja.com, JOGJA—Menerapkan pola hidup sehat dengan memakan makanan organik tentu sudah banyak diketahui orang. Tapi bagaimana dengan bisnis yang organik? Itulah yang Andreas Bimo Wijoseno, 44, terapkan dalam menjalankan bisnis kreatif Gunagoni miliknya. Laiknya bercocok tanam, bisnis yang Bimo jalankan, ia biarkan tumbuh secara organik. Tidak tergesa, juga tak masuk dalam pusaran mass industry. Sebab Bimo meyaniki bisnis yang ia tanam dan pupuk kini akan ia panen hasilnya di kemudian hari.

Ditemui Harianjogja.com pada Jumat (5/4/2018), ayah dua anak tersebut menceritakan awal mula bisnis kreatif yang ia mulai sejak lima tahun lalu. Kala itu, ia yang sudah hidup dan bekerja selama belasan tahun sebagai seorang jurnalis di Jakarta memutuskan untuk pindah. Sebab sejak mulai berkeluarga, ia dan istrinya menganggap iklim kota metropolitan itu tak cocok untuk membesarkan putra putri mereka. Ritme hidup yang serba cepat membuat mereka terpaksa mempercayakan anak pada pembantu. Padahal setiap kali seusai Lebaran, pembantu selalu berganti entah karena minta kenaikan gaji atau alasan-alasan lainnya. “2013 pindah ke Jogja nah saat itulah saya mulai berpikir untuk menciptakaan pekerjaan, bukan lagi mencari pekerjaan,” ucapnya.

Sebenarnya, Bimo mengatakan tunas bisnis membuat kerajinan dari karung goni ini telah dimulai sejak ia kuliah di Universitas Sanata Dharma puluhan tahun lalu. Saat kuliah, Bimo bersama pacarnya (yang kini menjadi istrinya), gemar berjalan-jalan ke perajin. Mulai dari perajin batik, kayu, gerabah, apapun mereka sambangi. Bahkan menurutnya dari puncak Kaliurang hingga Patuk pun pernah mereka jelajah. Bimo mengaku hal itu menjadi keasyikan tersendiri bagi mereka. Mereka berdua juga seringkali membantu para perajin untuk menjualkan produk mereka.

Keingintahuan Bimo tak berhenti sampai di situ saja, ia juga seringkali menelusuri para perajin yang memasok produk ke salah satu toko oleh-oleh khas terkenal di Jogja. Ia nongkrong di angkringan, mengobrol dengan para juru parkir dan juga pemasok yang kebetulan ia temui. “Saya tanya lokasi produksinya di mana, saya datangi. Kalau enggak nemu ya saya coba buat sendiri,” ujarnya.

Itu semua jadi bekal saat ia tak lagi bekerja dan memilih untuk tinggal di Jogja. Bimo mulai kembali ke kegemarannya yang dulu, mendatangi perajin dan pasar-pasar tradisional. Sampai suatu ketika ia menemukan onggokan karung goni yang dibiarkan begitu saja di toko grosir. Tergerak melihat sampah tersebut, ia pun membelinya seharga Rp2.500-Rp3.000 per buah. Sesampainya di rumah, setelah membersihkan barang belanjaannya, karung-karung goni tersebut tetap ia biarkan. Sampai suatu waktu kawannya meminta tolong untuk menjahit tas goninya yang rusak. Dari situlah Bimo mulai mencoba-coba menjahit karung goni tersebut menjadi produk-produk kerajinan. “Padahal saya juga enggak bisa jahit. Nyoba saja, belajar pakai mesin jahit singer hitam kuno. Ternyata bisa,” imbuhnya.

Proses menekui Gunagoni itu pun tak lantas berlangsung instan, hal yang sangat Bimo hindari. Saat akhirnya produk kerajinannya bisa masuk ke salah satu toko oleh-oleh yang dulu sering ia mata-matai pun, ia tak lantas menyetok dalam jumlah yang banyak, dua lusin saja. Itu menurutnya ia lakukan untuk menghindari produksi masal, selain alasan bahwa hingga kini Gunagoni hanya dijalankan oleh dirinya dan keluarganya saja tanpa pegawai tambahan. Jiwa bebas sebagai orang yang biasa bekerja di lapangan, Bimo tetap pertahankan. Ia tak mau terkungkung dalam pola mass industry yang menuntut produksi sebanyak-banyaknya dengan biaya produksi serendah-rendahnya. Bahkan dalam membuat produk Gunagoni seperti tas, topi, sampul agenda, dan lain-lain ia tetap mempertahankan wujud asli dari goni itu. Tidak dilapisi lilin ataupun diwarnai. “Saya ingin sampaikan goni itu ya memang berasal dari sampah yang dulunya tidak digunakan. Tidak saya bikin terlalu cantik,” tuturnya.

Maka Bimo pun kemudian menggagas Pasar Sasen bersama kawan-kawannya di kawasan Kabupaten Sleman, tempat ia tinggal saat ini. Dalam pasar komunitas yang diadakan setiap bulan di minggu pertama tersebut, mereka yang berkecimpung di bidang pertanian, peternakan, dan juga kerajinan akan berjualan produk-produk milik mereka. Akhirnya dari situ, produknya pun mulai dikenal melalui gethok tular. Bahkan pada 2018 ini, dua produk Gunagoni berhasil lolos seleksi merchandising yang dilakukan oleh panitia Art Jog, salah satu festival seni terbesar di Jogja. Bimo menganggap hal itu merupakan hasil menanamnya selama ini, bisnis organik yang ia jalankan mulai bertunas, bahkan berbuah. Namun seperti petani, masa panen bisnis ini tidak lantas berbarengan tetapi bergantian.

“Hidup organik itu bukan hanya makan makanan sehat tanpa pestisida. Manusianya pun juga harus bebas pestisida [pola hidup konsumtif, industrialisme, materialisme, dll]. Saya ingin semangat yang sama juga dapat diadopsi oleh kawan-kawan lainnya. Mengolah sampah jadi hal yang berguna dan menjalankan bisnis dengan organik. Karena toh tiap daerah selalu punya potensi limbah yang bisa dimanfatkan,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online