Ini Loh Aturan yang Buat Smartphone 4G Lokal Tertekan

Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti Sabtu, 05 Mei 2018 11:30 WIB
Ini Loh Aturan yang Buat Smartphone 4G Lokal Tertekan

Ilustrasi smartphone/Ist

Harianjogja.com, JAKARTA--Associate Market Analyst, IDC Indonesia Risky Febrian mengatakan penguasa pasar smartphone di Tanah Air saat ini sulit tergoyah dan diperkirakan para pemegang porsi pasar teratas akan tetap sama. Hal itu, tutur Risky, menuturkan bahwa vendor-vendor inilah yang paling agresif dan memiliki kemampuan kapital yang besar di tengah penerapan Aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). 

Sebaliknya, TKDN yang sebenarnya dikenakan untuk menaikkan daya saing pabrikan lokal justru tak memberi ruang pada vendor-vendor dalam negeri. Dari total pasar, 82% dikuasai lima merek teratas dan pabrikan lokal hanya memiliki ruang 15%. 

Menurutnya, vendor lokal justru tak mampu mengimbangi ekspansi vendor-vendor seperti Samsung, Oppo, Asus dan Vivo setelah TKDN berlaku. Vendor dalam negeri akhirnya tak berdaya ketika pemerintah menaikkan kadar TKDN karena tak ada klausul yang memungkinkan pabrikan lokal mendapat dukungan. 

Dia menilai bila vendor lokal tak mendapat perlindungan dan kadar TKDN bakal terus naik tanpa mempertimbangkan kemampuan pabrikan dalam negeri, pemain global dan merek Tiongkok bakal terus menggeser pasar produsen lokal. 

"Aturan TKDN enggak ada pengecualian. Apalagi akan dinaikkan lagi, ditambahkan. Kalau selamanya kayak gini, bisa sangat mengancam vendor lokal," ujarnya di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

 Risky menuturkan merek lokal yang bertahan memiliki kemampuan untuk berevolusi memperbaiki pelayanan purna jual, meningkatkan kualitas produk dan melakukan optimalisasi kinerja handset-nya. Sayangnya, tak banyak merek lokal yang memiliki kemampuan itu. Salah satu yang bertahan yakni Advan yang pada akhir 2017 menguasai porsi pasar sebesar 7,7%. 

\'"Mereka (vendor lokal) yang bisa survive, [vendor] yang bisa berevolusi," katanya. 

Dari sisi kelemahan, vendor lokal masih bergulat di pasar kelas bawah atau entry level ketika merek lain masuk ke segala kelas. Lalu, dari sisi kemampuan modal pun tak memungkinkan untuk menyentuh seluruh saluran distribusi. Tak heran bila merek lokal sulit memenangkan perebutan pasar dengan merek seperti Samsung dan Xiaomi.

 "Entry level ini yang mengakibatkan mereka (vendor lokal) enggak bisa berkompetisi, head to head enggak bisa sama Samsung, Xiaomi,"katanya. 

Guna meningkatkan daya saing pabrikan smartphone lokal, dia menyebut, pemerintah harus mempertimbangkan insentif seperti fasilitas perpajakan. Selain itu, pemerintah perlu melihat ulang ketentuan pengenaan TKDN kepada pabrikan lokal bila ingin menaikkan kapasitas pemain dalam negeri. 

"Ditambahkan klausa kemudahan pajaknya," katanya. 

Di sisi lain, peluang pemain lokal terbuka melalui munculnya Android Go. Di tahun ini, dia memprediksi vendor lokal akan mengadopsi Android Go untuk mengatasi performa peranti lunak untuk ponsel di entry level. Pasar di Indonesia, katanya, masih terbuka, mengingat volumenya pengirimannya yang tinggi dan harga rata-rata pasar yang rendah (average selling price/ASP) serta masih terdapatnya para pengguna feature phone yang bisa menjadi tujuan. 

\'"Di 2018 akan banyak local vendor yang menggunakan platform Android Go untuk mengatasi performa software di entry level," tutur Risky.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis Indonesia

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online