LPS Tegaskan Tidak Ada Bank Gagal di Masa Pandemi Covid-19
Program PEN yang dijalankan oleh pemerintah pada saat ini telah dilaksanakan dengan sangat serius dan sangat terukur untuk dapat memastikan roda perekonomian nasional tetap bergerak.
Ilustrasi./Solopos-Ardiansyah Indra Kumala
Harianjogja.com, JAKARTA—Kenaikan tipis harga daging sapi diprediksi terjadi pasca-Iduladha. Meski naik, harga tersebut masihd dalam taraf wajar.
Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan kenaikan harga tersebut memang sesuai dengan tren Iduladha tahun-tahun sebelumnya. "Iya memang naik, tetapi tidak begitu tinggi, temporary, itu cuma pada satu pekan sebelum dan satu pekan setelah," katanya, Selasa (21/8/2018).
Abdullah menjelaskan pada satu pekan sebelum Iduladha, pemasok akan lebih mendahulukan penjual sapi eceran di daerah permukiman atau di pinggir-pinggir jalan. Sehingga stok untuk pedagang pasar sedikit berkurang dan membuat kenaikan harga.
Sementara itu, kenaikan harga pada satu pekan setelah Iduladha merupakan efek lanjutan dari yang sebelumnya, dan penurunan baru akan terjadi setelah satu minggu Lebaran.
Meski demikian, Abdullah berharap pemerintah memastikan ketersediaan pasokan daging, karena hal tersebut merupakan kunci utama dari kestabilan harga. "Bisa saja naik signifikan seperti pada 2016, karena pasokan tahun itu tidak stabil," katanya.
Senada dengan Abdullah, Kepala Pasar Palmerah Mahardika mengatakan harga daging di pasar menjelang Lebaran Qurban tahun ini tidak ditemukan peningkatan yang signifian. Bahkan, harga terlihat stabil tanpa ada perubahan.
Berdasarkan data Pasar Palmerah, sejak 14 Agustus 2018, harga daging sapi has dan daging sapi murni masing-masing Rp120.000 per kg dan Rp115.000 per kg. Harga tersebut masih belum berubah hingga tanggal 21 Agustus 2018 lalu.
"Kalau ada peningkatan paling tinggi itu Rp10.000 hingga Rp15.000 per kg, [dan itu terjadi dua tahun lalu], tapi untuk tahun ini ngak terjadi, karena pasokan dan permintaan aman," katanya.
Lagipula, Mahardika mengatakan masyarakat kelas menengah bawah Jakarta tidak akan mendapat gejolak yang begitu besar karena telah memiliki Kartu Jakarta Pintar (KJP), yang mana mereka bisa menarik daging, ikan, ayam, beras, susu dan telur.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementerian Perdagnagan Ninuk Rahayuningrum mengatakan, tidak akan ada kenaikan harga pada daging sapi.
Menurutnya, harga normal daging saat ini sudah tergolong tinggi, dan sulit untuk naik lebih tinggi lagi. "Harga akan stabil pasca-Iduladha, tetapi memang dia stabil tinggi," katanya.
Khusus pasca-Iduladha, dia menjelaskan, rumah pemotongan hewan (RPH) akan lebih sedikit memotong daging. Hal tersebut dikarenakan hampir seluruh masyarakat sudah memiliki pasokan daging yang cukup.
"Jika ada kenaikan harga karena memang RPH mengurangi pasokan, lagipula permintaan daging masyarakat pasca-Lebaran akan turun, jadi tidak akan ada masalah," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Program PEN yang dijalankan oleh pemerintah pada saat ini telah dilaksanakan dengan sangat serius dan sangat terukur untuk dapat memastikan roda perekonomian nasional tetap bergerak.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026. Menkeu Purbaya menyebut konsumsi rumah tangga jadi penopang utama daya beli.